Sunday, January 15, 2012

Sebuah Pelajaran tentang Kehidupan dari Swiss



            Coba bayangkan kalau anda tinggal di sebuah tempat yang dikelilingi  pegunungan dengan sungai-sungai jernih yang mengalir, danau biru, juga pepohonan hijau yang tumbuh bersamaan dengan hamparan salju. Itulah sedikit gambaran tentang Swiss yang membuat saya seakan benar-benar berada di sana saat membaca ‘A Postcard from Switzerland’, sebuah novel karya Sharon Creech yang menceritakan tentang sebuah pencarian jati diri seorang anak perempuan Amerika.
            Cerita dibuka tentang kehidupan Dinnie, seorang remaja Amerika berusia tiga belas tahun yang tinggal dengan keluarganya yang hidup nomaden. Hal itu membuatnya sering berpindah-pindah sekolah dari satu kota ke kota yang lain. Atas desakan dari Nenek Dinnie, akhirnya ia tinggal dengan Paman dan Bibinya di Swiss agar mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang layak. Dan sejak itulah kehidupan baru Dinnie di mulai.
            Awalnya Dinnie memang terpaksa pergi ke Swiss. Walaupun di sana ia bisa hidup jauh lebih layak daripada sebelumnya, ia tetap saja merindukan keluarganya di Amerika. Namun ia tetap bertahan dan berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya, dan kemudian dari hari-harinya di Swiss itulah ia belajar memaknai kehidupan.
            Sekolah baru Dinnie bukan sekolah biasa. Sekolah itu ternyata terdiri dari murid-murid dari berbagai belahan dunia. Ada yang berasal dari Amerika, Spanyol, Arab Saudi, Jepang, dan lain-lain. Mereka datang dari berbagai macam kebudayaan, bahasa, dan kepribadian. Di sekolah itu mereka harus membaur satu sama lain sehingga adanya perbedaan latar belakang tidak membuat mereka terpecah belah, justru semakin bersatu dan saling memahami walaupun awalnya sulit.
            Tema menghargai perbedaan sangat relevan dengan kondisi negara kita sekarang. Ada perbedaan sedikit saja konflik bisa terjadi hingga memakan korban jiwa. Menurut saya novel ini dapat menginspirasi pembacanya untuk melihat betapa indahnya perbedaan itu sehingga muncul rasa untuk saling menghargai dan memahami satu sama lain.  
            Tak hanya tentang perbedaan, novel ini juga menggambarkan indahnya saling berbagi. Di sini diceritakan tentang pelajaran di sekolah mereka yang mendiskusikan permasalahan dunia, misalnya masalah kelaparan, korban peperangan, masalah pengungsi, HIV AIDS dan bagaimana pelajaran sekolah itu membuat mereka tergerak untuk bersama-sama saling membantu orang-orang yang tidak seberuntung mereka.
            Tapi dari semua itu, menurut saya hal yang paling menarik dari novel ini adalah  pelajaran tentang bagaimana sebaiknya kita memandang dan menyikapi kehidupan. Sharon Creech menganalogikan diri kita dengan dua orang narapidana yang terpenjara dengan satu jendela di selnya untuk melihat keluar. Narapidana yang pertama melihat langit yang terang, sedangkan satunya lagi hanya melihat tanah. Dari analogi itu kita dapat bertanya pada diri sendiri, yang manakah yang menggambarkan diri kita? Bagaimana sikap kita dalam menjalani hidup? Apakah dengan sikap optimis seperti narapidana yang melihat langit terang, atau dengan sikap pesimis seperti narapidana yang melihat tanah?
            Bagi saya ‘A Postcard from Switzerland’ adalah sebuah novel dengan alur cerita sederhana namun dengan pesan moral yang kuat dan sangat menginspirasi pembacanya, tentu saja dengan berbagai penggambaran yang membuat kita seakan berada di Swiss dan keindahan alamnya. Membaca novel ini seperti komentar Daily Telegraph yang tertulis di sampul depannya, “Kisah menakjubkan yang sanggup memikat dan menjeratmu ke dalamnya..”   
 
;