Coba bayangkan kalau anda tinggal di
sebuah tempat yang dikelilingi
pegunungan dengan sungai-sungai jernih yang mengalir, danau biru, juga
pepohonan hijau yang tumbuh bersamaan dengan hamparan salju. Itulah sedikit
gambaran tentang Swiss yang membuat saya seakan benar-benar berada di sana saat
membaca ‘A Postcard from Switzerland’, sebuah novel karya Sharon Creech yang
menceritakan tentang sebuah pencarian jati diri seorang anak perempuan Amerika.
Cerita
dibuka tentang kehidupan Dinnie, seorang remaja Amerika berusia tiga belas
tahun yang tinggal dengan keluarganya yang hidup nomaden. Hal itu membuatnya
sering berpindah-pindah sekolah dari satu kota ke kota yang lain. Atas desakan
dari Nenek Dinnie, akhirnya ia tinggal dengan Paman dan Bibinya di Swiss agar
mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang layak. Dan sejak itulah kehidupan
baru Dinnie di mulai.
Awalnya Dinnie memang terpaksa pergi
ke Swiss. Walaupun di sana ia bisa hidup jauh lebih layak daripada sebelumnya,
ia tetap saja merindukan keluarganya di Amerika. Namun ia tetap bertahan dan
berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya, dan kemudian dari
hari-harinya di Swiss itulah ia belajar memaknai kehidupan.
Sekolah baru Dinnie bukan sekolah
biasa. Sekolah itu ternyata terdiri dari murid-murid dari berbagai belahan
dunia. Ada yang berasal dari Amerika, Spanyol, Arab Saudi, Jepang, dan
lain-lain. Mereka datang dari berbagai macam kebudayaan, bahasa, dan kepribadian.
Di sekolah itu mereka harus membaur satu sama lain sehingga adanya perbedaan
latar belakang tidak membuat mereka terpecah belah, justru semakin bersatu dan
saling memahami walaupun awalnya sulit.
Tema menghargai perbedaan sangat
relevan dengan kondisi negara kita sekarang. Ada perbedaan sedikit saja konflik
bisa terjadi hingga memakan korban jiwa. Menurut saya novel ini dapat
menginspirasi pembacanya untuk melihat betapa indahnya perbedaan itu sehingga
muncul rasa untuk saling menghargai dan memahami satu sama lain.
Tak hanya tentang perbedaan, novel
ini juga menggambarkan indahnya saling berbagi. Di sini diceritakan tentang
pelajaran di sekolah mereka yang mendiskusikan permasalahan dunia, misalnya
masalah kelaparan, korban peperangan, masalah pengungsi, HIV AIDS dan bagaimana
pelajaran sekolah itu membuat mereka tergerak untuk bersama-sama saling
membantu orang-orang yang tidak seberuntung mereka.
Tapi
dari semua itu, menurut saya hal yang paling menarik dari novel ini adalah pelajaran tentang bagaimana sebaiknya kita
memandang dan menyikapi kehidupan. Sharon Creech menganalogikan diri kita
dengan dua orang narapidana yang terpenjara dengan satu jendela di selnya untuk
melihat keluar. Narapidana yang pertama melihat langit yang terang, sedangkan
satunya lagi hanya melihat tanah. Dari analogi itu kita dapat bertanya pada
diri sendiri, yang manakah yang menggambarkan diri kita? Bagaimana sikap kita
dalam menjalani hidup? Apakah dengan sikap optimis seperti narapidana yang
melihat langit terang, atau dengan sikap pesimis seperti narapidana yang
melihat tanah?
Bagi saya ‘A Postcard from
Switzerland’ adalah sebuah novel dengan alur cerita sederhana namun dengan
pesan moral yang kuat dan sangat menginspirasi pembacanya, tentu saja dengan
berbagai penggambaran yang membuat kita seakan berada di Swiss dan keindahan
alamnya. Membaca novel ini seperti komentar Daily Telegraph yang tertulis di
sampul depannya, “Kisah menakjubkan yang sanggup memikat dan menjeratmu ke
dalamnya..”
