Friday, February 17, 2012

11 Years Ago



Jalanan ramai. Aku di pinggir jalan menatap hampa tempat yang biasa aku lewati semasa aku hidup. Rasanya begitu aneh saat orang-orang yang dulu selalu menyapaku di sini sekarang sama sekali diam membisu dan tidak mempedulikan aku yang lewat di depannya. Bahkan bercermin di kaca etalase toko pun bayanganku tidak ada. Aku cuma arwah yang masih diberi kesempatan empat puluh hari untuk mengikhlaskan kematianku sambil melihat-lihat dunia yang aku tinggalkan ini.
            Menjadi arwah itu menyenangkan. Tubuhmu begitu ringan hingga seakan melayang saat berjalan, seakan berjalan di bulan yang gravitasinya tidak begitu kuat. Kau juga tidak bisa merasa lapar saat melihat makanan, karena arwah tidak butuh makan. Arwah juga tidak butuh kasur untuk tidur.
            Tapi mau apa aku di sini empat puluh hari?
            Aku terdiam di tengah keramaian. Benar-benar sepi. Sepi di tengah keramaian. Aku bersandar di telepon umum tua dan kotor yang berdiri di pinggir jalan. Telepon umum yang sudah bertahun-tahun tidak dipakai lagi semenjak semua orang sudah mempunyai handphone. Mungkin sama seperti telepon umum itulah diriku, dilupakan.
            Rasanya aku ingin sekali angin meniupkan arwahku ini ke mana ia mau, biarkan aku terbang dan lupakan semua. Tapi angin malah meniupkan kenangan masa lalu yang tiba-tiba terlihat di depan mataku seolah itu nyata. Kenangan sebelas tahun yang lalu.
            ...
            Berulangkali aku menatap jam tanganku. Sudah satu jam lebih sepuluh menit aku berdiri sendirian dan kepanasan. Benar-benar menyebalkan harus mengalami ini setiap hari, setiap pulang sekolah. Ya, menunggu jemputan memang melelahkan, tapi itulah satu-satunya cara untuk pulang ke rumah.
            Aku cuma murid kelas satu SMP yang masih diantar jemput setiap hari ke sekolah. Sebenarnya aku ingin bisa pergi sendiri, naik bus kota saja, atau jalan kaki pun aku rela daripada harus begini, menunggu jemputan ditemani para penjual makanan dan minuman di depan sekolah.
            Aku mencoba menelpon Ayah lagi agar segera kemari. Ah sial! Pulsaku habis. Benar-benar tidak ada harapan, mungkin harus satu jam lagi aku di sini. Oh Tuhan, ... tolong aku. Eh, bukankah di sekitar sini ada telepon umum? Zaman sekarang wartel sudah jarang, apalagi telepon umum. Padahal itu penting sekali di situasi seperti ini. Mudah-mudahan saja telepon umum tua berwarna biru itu masih berfungsi.
            Aku berjalan mencari telepon umum sambil menyiapkan beberapa keping uang receh. Seingatku di jalan depan gereja dekat sekolah masih ada satu telepon umum—walaupun  setahuku banyak anak kecil yang merusaknya demi mendapat uang receh—aku  berharap benda itu akan menolongku untuk menelpon ke rumah.
            Ada! Tentu saja ada, dasar bodoh! Aku memaki diriku sendiri. Telepon umum mana mungkin bisa jalan? Aku senang melihatnya, tapi aku malah ragu untuk ke sana karena gerombolan anak laki yang juga murid SMP ada di sekitar situ. Pakaian mereka berantakan dan lusuh, sepertinya mereka anak kelas tiga yang terkenal nakal-nakal. Aku tahu mereka tidak satu sekolah denganku. Huh. Kenapa aku harus ada mereka di situ di saat seperti ini.
            Aku ingin berubah pikiran. Lebih baik aku menunggu di depan sekolah lagi daripada harus berurusan dengan berandal itu—walaupun aku juga sama seperti mereka—agak berandal, tetap saja aku cuma anak kelas satu SMP yang tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka.
            Sebelum benar-benar pergi dari tempat itu aku melihat mereka lagi. Kali ini dengan seksama. Ada satu anak laki-laki pendek di antara mereka yang tinggi itu. Sepertinya dia teman satu sekolahku. Mereka memaki anak itu tanpa ampun, membentak tidak jelas. Anak kelas satu itu terus melawan, tp justru mereka memukulnya, anak itu jatuh, berdiri lagi, lalu mereka memukulnya lagi tanpa ampun.
            “STOP!” teriakku. Aku tidak tahan melihat apa yang mereka lakukan. Aku memilih berani mati untuk menantang mereka. “Kalau diteruskan aku akan lapor guru!” ancamku. Ancamanku memang sangat kekanak-kanakan, tapi itu meluncur saja dari mulutku. Tidak berhenti di situ aku berusaha memukul salah satu dari murid kelas tiga itu. “Kalian beraninya sama anak kecil!” teriakku.
            “Apa sih ikutan aja nih anak?” katanya, lalu mendorongku hingga jatuh. Aku berdiri lagi dan mencoba melawan. “Sudah, kita pergi aja! Nggak ada gunanya!” teriak salah satu orang. “Kenapa? Kamu takut dilaporkan ke guru ha?” kata yang lain.
            “Bukan gitu. Ngapain juga kita gangguin anak kecil. Percuma aja, tuh anak nggak punya duit, ayo pergi!”
            Mereka lalu pergi meninggalkan kami berdua sambil mengejek. Benar-benar kurang ajar mereka itu. Karena dilanda emosi aku lupa kalau mau menelpon, bahkan aku juga lupa dengan anak laki-laki yang terjatuh di sebelahku. Bibirnya terluka gara-gara mereka.
            “Kamu nggak papa?” tanyaku khawatir. “Kenapa mereka mukulin kamu?”
            “Biasalah, minta duit.” jawabnya sambil menyeka bibir.
            “Ngapain mereka minta duit?”
            “Ah, cerewet! Pergi sana!” Anak itu berdiri.
            “Mending lukamu diobati di UKS, kan sekolah masih buka,”
            “Nggak usah, pergi sana! Nggak usah sok jadi pahlawan ya!” ia malah membentakku. “Hey, kamu itu kenapa sih? Aku kan sudah menolongmu, malah marah-marah!” aku pun ikut marah. Benar-benar tidak tahu terima kasih.
            Iya, iya aku pergi. Aku nggak akan peduli juga padanya. Memangnya siapa anak kecil nggak tahu terimakasih ini. Badannya lebih pendek aja bisa sesombong itu di depanku, aku juga bisa memukulinya seperti berandalan tadi. Aku pergi meninggalkan dia yang masih berdiri di sana.
            “Hey tunggu!” teriaknya tiba-tiba. Wah, sudah sadar rupanya dia. Aku menoleh padanya, dia menatapku dengan tajam. “Apa?!”
            “Jangan laporkan ini ke sekolah!” teriaknya.
            “Siapa juga yang mau lapor!”
            “Ya baguslah.”
            Aku melanjutkan jalanku, menunggu jemputan lagi di sekolah. “Kenapa dia nggak mau lapor ya? Kalau sekolah tahu, anak nakal itu kan nggak akan ganggu dia lagi, dasar orang aneh.” kataku pada diri sendiri.
            Besoknya, aku sudah lupa kejadian pengeroyokan itu. Aku bahkan tidak berpikir anak menyebalkan tadi dari kelas mana. Yang jelas ia masih kelas satu—sama sepertiku. Satu hal yang tidak terlupakan dan sangat menyebalkan, sepulang sekolah aku harus menunggu jemputan lagi. Ah~
            Ingin sekali aku seperti Luna yang boleh pulang pergi sesuka hati dengan kendaraan umum. Ibuku tidak memperbolehkan aku begitu, aku juga tidak tahu kenapa, sepertinya Ibu takut aku diculik. Ah, apa-apaan, mana mungkin aku diculik.
            “Adelll... aku pulang duluuuu...~” Luna melambaikan tangan dan pergi dengan teman-temannya yang juga naik bus kota. “Daaah~...” aku membalas lambaian tangannya. Baiklah. Aku sendiri lagi.
            Sepuluh menit berlalu. “Heh,” kata seseorang yang menghampiriku. Ternyata anak yang kemarin diganggu itu. Nada bicaranya tetap saja sombong, benar-benar menyebalkan. “Apa?” aku tak kalah sombongnya.
            “Terima kasih untuk yang kemarin,” katanya, tetap dengan nada datar. Matanya bahkan tidak menatapku. Tapi aku senang sekali akhirnya dia mau berterimakasih. Bukannya aku tidak ikhlas menolongnya, tapi memang agak menyenangkan walaupun dia sepertinya malu berbuat begini. Dalam hati aku tertawa, tapi aku pura-pura tidak peduli dengannya.
            “Jangan beritahu sekolah soal itu, aku bisa kena masalah,” katanya lagi.
            “Iya. Aku nggak akan bilang, nggak percaya banget sih!”
            “Ya sudah.” Ia lalu menjauh. Tidak ada lagi yang ingin dikatakannya selain mewanti-wanti agar aku tidak memberi tahu pihak sekolah. Kulihat bekas luka di bibirnya. “Lukamu masih sakit?” tanyaku sebelum ia benar-benar pergi.
            “Nggak lah!” ia lalu menutupi lukanya dengan tangan, sepertinya ia tidak ingin itu dibahas lagi. “Kamu anak kelas mana? Namamu siapa?” aku malah bertanya hal itu.
            “ Apa sih cerewet banget!”
            “Sudah jawab aja kenapa sih! Nanti aku laporkan ke kepala sekolah kalau kamu nggak mau jawab!”
            “Dasar...”
            “Jawab nggak?”
            “Aku Dhani, kelas 1D. Puas?”
            “Oh. Aku Adel, kelas 1A.” kataku sambil tersenyum.
            “Siapa yang tanya?”
            “Heh. Supaya kamu tahu aja. Nanti kalau ada apa-apa cari aja Adel, anak 1A!”
            “Nggak mau!” bentaknnya. Anak laki-laki bernama Dhani itupun berjalan meninggalkan aku yang masih kesal karenanya, tanpa aku tahu sebenarnya dia tersenyum sambil berlalu.
...
            Hari Selasa yang malas. Aku hampir tertidur di kelas sampai Luna membangunkan aku. “Hey, hey. Adel, bangun! Kamu dipanggil ke ruang BK!”
            “Hah? Ada apa?” aku tersentak kaget. Hampir saja aku kena serangan jantung, bukan karena dipanggil ke BK, tapi karena aku hampir terlelap dan suara Luna benar-benar mengagetkanku.
            “Mmm... katanya kamu berkelahi sama anak SMP sebelah?”
            “Hah? Tahu dari ma...”
            “Jadi beneran? Ya ampun Adel!”
            “Ah, nggak kok.”
            “Tadi Dhani anak kelas D juga dipanggil, sana buruan!”
            Perasaanku jadi tidak enak.
(to be continued)

Saturday, February 11, 2012

Forty Days Ghost (part 1)


            Langit mendung. Warnanya putih keabu-abuan. Matahari bersinar namun tak terasa sedikitpun panasnya. Kemarin sehari semalam dunia diguyur hujan. Hari ini hujan mulai reda, hanya menyisakan gerimis yang tak kunjung selesai sedari subuh.
            Aku berdiri memandangi orang-orang berpakaian hitam itu dari jauh. Aku tak mau melihat mereka dari dekat. Aku takut takkan rela meninggalkan semua ini jika aku di sana, lalu bergentayangan sebagai arwah penasaran. Ya, hari ini hari pemakamanku.
            “Semua orang pasti mati, termasuk orang-orang itu, hanya masalah waktu,...” kata sosok di sebelahku yang berpakaian serba hitam. Matanya menatap upacara pemakamanku dengan begitu tenangnya, tak ada ekspresi kesedihan, juga tak ada kebahagiaan di wajahnya. Sekalipun dia tersenyum, tetap saja rasanya sedingin es. “Kamu benar-benar nggak mau melihat mereka di sana?” tanyanya lagi. Aku diam tak menjawab.
            “Lalu untuk apa kita di sini? Ayo pergi saja!” Ia menarik tanganku, dan hampir saja aku ikut terseret. Aku merasa tubuhku seringan balon yang bisa terbang ke mana saja hanya karena dihembus angin, apalagi karena tarikan tangannya itu. “Tapi aku menunggu seseorang!” pekikku.
            Sosok berjas hitam di sebelahku itu lalu melepaskan tanganku dan menghela nafas kesal. Ia lalu mencoba bersabar untukku untuk menungguku lagi sambil memandangi areal pemakaman tanpa minat.
            Upacara pemakaman selesai. Orang yang kutunggu tak kunjung datang. Orang-orang berbaju hitam yang mengantarku hingga ke liang lahat mulai meninggalkan areal pemakaman dan masuk ke kendaraan masing-masing. Kulihat orang tuaku juga masuk ke mobil, juga teman-temanku, dan orang-orang yang tak kukenal—mungkin teman orang tuaku. Aku hampir meneteskan air mata yang berjam-jam aku tahan, tapi kali ini tidak bisa. Aku benar-benar tidak bisa menahan kesedihan harus meninggalkan semua orang-orang yang kusayang. Ingin aku memanggil mereka tapi percuma. Mereka tak bisa melihat dan mendengarku, sekalipun ada yang bisa mereka akan menganggapku hantu dan ketakutan.
            Aku menangis tersedu-sedu melihat semua orang itu pergi jauh meninggalkan aku di suasana senyap areal pemakaman. Kini hanya aku yang berdiri meratapi hidupku di sana tanpa ada seorang pun yang peduli. Aku tak menyangka kalau hidupku begitu singkat, hanya dua puluh empat tahun saja aku menghirup udara bumi dan kini aku tak tahu apalagi yang akan terjadi. Apa aku akan diantar ke surga, atau dijebloskan ke neraka? Aku benar-benar tidak berdaya.
            Aku mencoba menenangkan diri. Sudah tidak ada gunanya ketika hidup sudah berakhir karena semua memang telah berakhir. Apalagi yang bisa kulakukan selain menerima takdir walaupun ada sedikit kekecewaan karena orang itu tidak datang di pemakamanku. “Bahkan saat aku mati pun ia tidak sudi datang...” kataku sambil terisak.
            Sosok berjas hitam itu memandangiku dengan tidak sabar. Tapi sepertinya ia sudah terlalu terbiasa dengan keadaan ini. “Dasar manusia,...” katanya pada diri sendiri.
            “Baiklah. Aku akan ikut denganmu sekarang,” kataku padanya. Air mataku sudah mengering. Aku menahannya untuk tidak jatuh lagi. “Benar kau akan ikut sekarang?” jawabnya.
            “Apa maksudmu? Tadi kau yang memaksaku pergi! Memangnya aku bisa hidup lagi? Aku sudah di bawah tanah sana!” ternyata sudah mati pun aku masih bisa marah-marah.
            “Iya tadi aku memang mengajakmu pergi karena aku malas melihat orang yang bertangis-tangisan itu! Sudah jelas semua orang pasti mati masih ditangisi juga,” ujarnya dengan sangat menyebalkan.
            “Enak saja, kau bilang begitu karena kau merasa tidak bisa mati kan!”
            “Mana mungkin aku tidak akan mati, aku juga bisa mati sepertimu! Memangnya aku Tuhan!”
            “Lalu apa maksudmu tadi? Aku benar-benar bisa bangkit dari kubur?” kali ini aku serius dan benar-benar berharap. 
            “DASAR BODOH!” tangannya sosok berjas hitam memukul kepalaku dengan teganya. “Apa-apaan kau ini! Sakit tahu!” sudah mati pun tetap saja sakit.
            “Kau itu bodoh atau apa? Mana bisa kau hidup lagi?”
            “Iya iya aku tahu! Lalu sekarang bagaimana?” aku mulai hilang kesabaran.
            “Selama ini kamu tidak tahu tentang kehidupan empat puluh hari setelah kematian?”
            “A-apa itu?”
            “Manusia yang telah mati, rohnya akan bertahan di dunia ini selama empat puluh hari sebelum ia benar-benar pergi ke dunia yang lain.”
            “Ja,jadi aku masih...”
            “Kalau mau pergi ke akhirat sekarang juga bisa, jadi aku tidak perlu repot-repot menjemputmu lagi nanti. Ayo, katanya mau berangkat sekarang?” ia memberikan tangannya yang putih bersih padaku. “Tidak!” teriakku. “Aku masih belum selesai, izinkan aku menjadi hantu empat puluh hari...”

(to be continued...)
 
;