Saturday, February 11, 2012

Forty Days Ghost (part 1)


            Langit mendung. Warnanya putih keabu-abuan. Matahari bersinar namun tak terasa sedikitpun panasnya. Kemarin sehari semalam dunia diguyur hujan. Hari ini hujan mulai reda, hanya menyisakan gerimis yang tak kunjung selesai sedari subuh.
            Aku berdiri memandangi orang-orang berpakaian hitam itu dari jauh. Aku tak mau melihat mereka dari dekat. Aku takut takkan rela meninggalkan semua ini jika aku di sana, lalu bergentayangan sebagai arwah penasaran. Ya, hari ini hari pemakamanku.
            “Semua orang pasti mati, termasuk orang-orang itu, hanya masalah waktu,...” kata sosok di sebelahku yang berpakaian serba hitam. Matanya menatap upacara pemakamanku dengan begitu tenangnya, tak ada ekspresi kesedihan, juga tak ada kebahagiaan di wajahnya. Sekalipun dia tersenyum, tetap saja rasanya sedingin es. “Kamu benar-benar nggak mau melihat mereka di sana?” tanyanya lagi. Aku diam tak menjawab.
            “Lalu untuk apa kita di sini? Ayo pergi saja!” Ia menarik tanganku, dan hampir saja aku ikut terseret. Aku merasa tubuhku seringan balon yang bisa terbang ke mana saja hanya karena dihembus angin, apalagi karena tarikan tangannya itu. “Tapi aku menunggu seseorang!” pekikku.
            Sosok berjas hitam di sebelahku itu lalu melepaskan tanganku dan menghela nafas kesal. Ia lalu mencoba bersabar untukku untuk menungguku lagi sambil memandangi areal pemakaman tanpa minat.
            Upacara pemakaman selesai. Orang yang kutunggu tak kunjung datang. Orang-orang berbaju hitam yang mengantarku hingga ke liang lahat mulai meninggalkan areal pemakaman dan masuk ke kendaraan masing-masing. Kulihat orang tuaku juga masuk ke mobil, juga teman-temanku, dan orang-orang yang tak kukenal—mungkin teman orang tuaku. Aku hampir meneteskan air mata yang berjam-jam aku tahan, tapi kali ini tidak bisa. Aku benar-benar tidak bisa menahan kesedihan harus meninggalkan semua orang-orang yang kusayang. Ingin aku memanggil mereka tapi percuma. Mereka tak bisa melihat dan mendengarku, sekalipun ada yang bisa mereka akan menganggapku hantu dan ketakutan.
            Aku menangis tersedu-sedu melihat semua orang itu pergi jauh meninggalkan aku di suasana senyap areal pemakaman. Kini hanya aku yang berdiri meratapi hidupku di sana tanpa ada seorang pun yang peduli. Aku tak menyangka kalau hidupku begitu singkat, hanya dua puluh empat tahun saja aku menghirup udara bumi dan kini aku tak tahu apalagi yang akan terjadi. Apa aku akan diantar ke surga, atau dijebloskan ke neraka? Aku benar-benar tidak berdaya.
            Aku mencoba menenangkan diri. Sudah tidak ada gunanya ketika hidup sudah berakhir karena semua memang telah berakhir. Apalagi yang bisa kulakukan selain menerima takdir walaupun ada sedikit kekecewaan karena orang itu tidak datang di pemakamanku. “Bahkan saat aku mati pun ia tidak sudi datang...” kataku sambil terisak.
            Sosok berjas hitam itu memandangiku dengan tidak sabar. Tapi sepertinya ia sudah terlalu terbiasa dengan keadaan ini. “Dasar manusia,...” katanya pada diri sendiri.
            “Baiklah. Aku akan ikut denganmu sekarang,” kataku padanya. Air mataku sudah mengering. Aku menahannya untuk tidak jatuh lagi. “Benar kau akan ikut sekarang?” jawabnya.
            “Apa maksudmu? Tadi kau yang memaksaku pergi! Memangnya aku bisa hidup lagi? Aku sudah di bawah tanah sana!” ternyata sudah mati pun aku masih bisa marah-marah.
            “Iya tadi aku memang mengajakmu pergi karena aku malas melihat orang yang bertangis-tangisan itu! Sudah jelas semua orang pasti mati masih ditangisi juga,” ujarnya dengan sangat menyebalkan.
            “Enak saja, kau bilang begitu karena kau merasa tidak bisa mati kan!”
            “Mana mungkin aku tidak akan mati, aku juga bisa mati sepertimu! Memangnya aku Tuhan!”
            “Lalu apa maksudmu tadi? Aku benar-benar bisa bangkit dari kubur?” kali ini aku serius dan benar-benar berharap. 
            “DASAR BODOH!” tangannya sosok berjas hitam memukul kepalaku dengan teganya. “Apa-apaan kau ini! Sakit tahu!” sudah mati pun tetap saja sakit.
            “Kau itu bodoh atau apa? Mana bisa kau hidup lagi?”
            “Iya iya aku tahu! Lalu sekarang bagaimana?” aku mulai hilang kesabaran.
            “Selama ini kamu tidak tahu tentang kehidupan empat puluh hari setelah kematian?”
            “A-apa itu?”
            “Manusia yang telah mati, rohnya akan bertahan di dunia ini selama empat puluh hari sebelum ia benar-benar pergi ke dunia yang lain.”
            “Ja,jadi aku masih...”
            “Kalau mau pergi ke akhirat sekarang juga bisa, jadi aku tidak perlu repot-repot menjemputmu lagi nanti. Ayo, katanya mau berangkat sekarang?” ia memberikan tangannya yang putih bersih padaku. “Tidak!” teriakku. “Aku masih belum selesai, izinkan aku menjadi hantu empat puluh hari...”

(to be continued...)

No comments:

Post a Comment

 
;