Langit
mendung. Warnanya putih keabu-abuan. Matahari bersinar namun tak terasa
sedikitpun panasnya. Kemarin sehari semalam dunia diguyur hujan. Hari ini hujan
mulai reda, hanya menyisakan gerimis yang tak kunjung selesai sedari subuh.
Aku berdiri
memandangi orang-orang berpakaian hitam itu dari jauh. Aku tak mau melihat
mereka dari dekat. Aku takut takkan rela meninggalkan semua ini jika aku di
sana, lalu bergentayangan sebagai arwah penasaran. Ya, hari ini hari
pemakamanku.
“Semua orang
pasti mati, termasuk orang-orang itu, hanya masalah waktu,...” kata sosok di
sebelahku yang berpakaian serba hitam. Matanya menatap upacara pemakamanku
dengan begitu tenangnya, tak ada ekspresi kesedihan, juga tak ada kebahagiaan
di wajahnya. Sekalipun dia tersenyum, tetap saja rasanya sedingin es. “Kamu
benar-benar nggak mau melihat mereka di sana?” tanyanya lagi. Aku diam tak
menjawab.
“Lalu untuk
apa kita di sini? Ayo pergi saja!” Ia menarik tanganku, dan hampir saja aku
ikut terseret. Aku merasa tubuhku seringan balon yang bisa terbang ke mana saja
hanya karena dihembus angin, apalagi karena tarikan tangannya itu. “Tapi aku
menunggu seseorang!” pekikku.
Sosok
berjas hitam di sebelahku itu lalu melepaskan tanganku dan menghela nafas
kesal. Ia lalu mencoba bersabar untukku untuk menungguku lagi sambil memandangi
areal pemakaman tanpa minat.
Upacara pemakaman
selesai. Orang yang kutunggu tak kunjung datang. Orang-orang berbaju hitam yang
mengantarku hingga ke liang lahat mulai meninggalkan areal pemakaman dan masuk
ke kendaraan masing-masing. Kulihat orang tuaku juga masuk ke mobil, juga
teman-temanku, dan orang-orang yang tak kukenal—mungkin teman orang tuaku. Aku
hampir meneteskan air mata yang berjam-jam aku tahan, tapi kali ini tidak bisa.
Aku benar-benar tidak bisa menahan kesedihan harus meninggalkan semua
orang-orang yang kusayang. Ingin aku memanggil mereka tapi percuma. Mereka tak
bisa melihat dan mendengarku, sekalipun ada yang bisa mereka akan menganggapku
hantu dan ketakutan.
Aku menangis
tersedu-sedu melihat semua orang itu pergi jauh meninggalkan aku di suasana
senyap areal pemakaman. Kini hanya aku yang berdiri meratapi hidupku di sana
tanpa ada seorang pun yang peduli. Aku tak menyangka kalau hidupku begitu
singkat, hanya dua puluh empat tahun saja aku menghirup udara bumi dan kini aku
tak tahu apalagi yang akan terjadi. Apa aku akan diantar ke surga, atau
dijebloskan ke neraka? Aku benar-benar tidak berdaya.
Aku mencoba
menenangkan diri. Sudah tidak ada gunanya ketika hidup sudah berakhir karena
semua memang telah berakhir. Apalagi yang bisa kulakukan selain menerima takdir
walaupun ada sedikit kekecewaan karena orang itu tidak datang di pemakamanku.
“Bahkan saat aku mati pun ia tidak sudi datang...” kataku sambil terisak.
Sosok berjas
hitam itu memandangiku dengan tidak sabar. Tapi sepertinya ia sudah terlalu
terbiasa dengan keadaan ini. “Dasar manusia,...” katanya pada diri sendiri.
“Baiklah.
Aku akan ikut denganmu sekarang,” kataku padanya. Air mataku sudah mengering.
Aku menahannya untuk tidak jatuh lagi. “Benar kau akan ikut sekarang?”
jawabnya.
“Apa
maksudmu? Tadi kau yang memaksaku pergi! Memangnya aku bisa hidup lagi? Aku
sudah di bawah tanah sana!” ternyata sudah mati pun aku masih bisa marah-marah.
“Iya tadi
aku memang mengajakmu pergi karena aku malas melihat orang yang
bertangis-tangisan itu! Sudah jelas semua orang pasti mati masih ditangisi
juga,” ujarnya dengan sangat menyebalkan.
“Enak saja,
kau bilang begitu karena kau merasa tidak bisa mati kan!”
“Mana
mungkin aku tidak akan mati, aku juga bisa mati sepertimu! Memangnya aku Tuhan!”
“Lalu apa
maksudmu tadi? Aku benar-benar bisa bangkit dari kubur?” kali ini aku serius
dan benar-benar berharap.
“DASAR
BODOH!” tangannya sosok berjas hitam memukul kepalaku dengan teganya.
“Apa-apaan kau ini! Sakit tahu!” sudah mati pun tetap saja sakit.
“Kau itu
bodoh atau apa? Mana bisa kau hidup lagi?”
“Iya iya
aku tahu! Lalu sekarang bagaimana?” aku mulai hilang kesabaran.
“Selama ini
kamu tidak tahu tentang kehidupan empat puluh hari setelah kematian?”
“A-apa
itu?”
“Manusia
yang telah mati, rohnya akan bertahan di dunia ini selama empat puluh hari
sebelum ia benar-benar pergi ke dunia yang lain.”
“Ja,jadi
aku masih...”
“Kalau mau
pergi ke akhirat sekarang juga bisa, jadi aku tidak perlu repot-repot
menjemputmu lagi nanti. Ayo, katanya mau berangkat sekarang?” ia memberikan
tangannya yang putih bersih padaku. “Tidak!” teriakku. “Aku masih belum
selesai, izinkan aku menjadi hantu empat puluh hari...”
(to be continued...)

No comments:
Post a Comment