Saturday, March 3, 2012

11 Years Ago (2)


           ... 
           Hari Selasa yang malas. Aku hampir tertidur di kelas sampai Luna membangunkan aku. “Hey, hey. Adel, bangun! Kamu dipanggil ke ruang BK!”
        “Hah? Ada apa?” aku tersentak kaget. Hampir saja aku kena serangan jantung, bukan karena dipanggil ke BK, tapi karena aku hampir terlelap dan suara Luna benar-benar mengagetkanku.
            “Mmm... katanya kamu berkelahi sama anak SMP sebelah?”
            “Hah? Tahu dari ma...”
            “Jadi beneran? Ya ampun Adel!”
            “Ah, nggak kok.”
            “Tadi Dhani anak kelas D juga dipanggil, sana buruan!”
            Perasaanku jadi tidak enak.

XXX
            Aku membuka pintu kayu berkaca yang dihiasi gorden berenda. Hampir setengah jam aku di ruangan itu, menjawab beberapa pertanyaan dari guru BK. Ini masih terkait dengan peristiwa itu, yang kukira sepele dan sudah biasa terjadi walaupun seharusnya tidak boleh dilakukan. Aku hanya tidak menyangka peristiwa yang hampir terlupakan itu masih diungkit kembali, dan rupanya pihak sekolah sudah mengetahui.
            Di depan ruang BK, tepat setelah aku keluar itu aku melihat Dhani—yang sebelumnya juga sudah diinterogasi guru BK—sedang bersandar di tembok, di sebelah pintu yang kubuka.
            Aku agak takut bertemu dengannya. Ia pasti berpikir kalau aku yang memberi tahu sekolah padahal aku sudah berjanji untuk melupakan dan aku memang tidak berniat untuk melaporkan atau hal-hal semacam itu. “Bukan aku yang lapor sekolah, aku juga nggak tahu kenapa Bu Nana bisa tahu, beneran bukan aku!” aku segera menjelaskan pada Dhani, anak kelas sebelah yang kurus kering dan pendek, tapi agak misterius itu. Oh aku baru sadar, tingginya hampir sama dengan tinggi tubuhku sekarang, ternyata dia bertambah tinggi hanya dalam hitungan minggu!
            “Iya aku tahu.” katanya datar. Syukurlah kalau dia tidak salah paham. Lalu siapa yang memberitahu sekolah? “Ada anak kelas tiga yang tahu trus bilang ke Bu Nana.” Dhani menjelaskan sebelum aku sempat bertanya.
            “Trus gimana?” tanyaku saat Dhani akan kembali ke kelas.
            “Apanya?”
            “Ya itu!” aku mulai tidak sabar. Menyesal bertanya itu ya seperti ini.
            “Nggak papa.”
            Ya. Mudah-mudahan, kataku dalam hati. Mudah-mudahan memang tidak terjadi apa-apa. Bukan dia yang salah, bukan juga aku. Dia hanya korban dari beberapa murid SMP tidak tahu diri itu. Aku hanya menolongnya karena kebetulan lewat. Pihak sekolah hanya mencari tahu kebenaran peristiwa itu dan berusaha hal itu tidak akan pernah terjadi lagi pada muridnya.
            Aku tidak mengerti apa yang Dhani khawatirkan, kenapa ia tidak mau sekolah tahu—walaupun akhirnya juga tahu. Sikapnya justru membuatku semakin khawatir padanya, karena seolah ia akan mengatakan ‘sesuatu akan terjadi’.
            Lalu kenapa aku peduli? Kenapa aku harus khawatir? Siapa dia? Kenal pun baru seminggu, dan kenapa aku harus berprasangka buruk? Aku sungguh tak bisa menjawabnya karena aku tidak bisa membaca masa depan.
            “Sebenarnya Dhani itu teman SD-ku...” kata Luna, sesampainya di kelas. “Oh ya?” kataku dengan begitu terkejut. Luna memang tidak pernah bercerita sebelumnya dan aku pun sama sekali tidak memikirkan hal ini, bahwa Luna sebenarnya mengenal Dhani.
            “Tapi aku nggak begitu akrab sama dia. Lagian orangnya kan tertutup. Nggak nyangka juga sih kok bisa satu sekolah lagi sama dia...”
            Aku menatap Luna dengan penasaran, berharap ia akan bercerita lebih banyak lagi. Tapi sepertinya dia tidak begitu antusias membicarakan teman SD-nya itu. “Kenapa sih? Jangan-jangan kamu suka sama dia?!” Luna mencurigaiku. “Nggak mungkin kan Del??” Luna tampak shock.
            “Nggak lah Lun! Aku cuma kasihan sama dia!” aku membela diri.
            “Oh. Iya, memang kasihan dia itu. Dia itu yatim piatu, tinggalnya di panti asuhan. Nggak nyangka kamu sebaik itu sama orang, aku yang kenal sama dia aja biasa-biasa aja...ckckck,”
            “Benarkah?” aku terkejut lagi setelah mengetahui fakta kedua, bahwa Dhani adalah penghuni panti asuhan. Dan sejak itu aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Aku juga merasa bodoh kenapa aku harus mengkhawatirkan orang yang tidak terlalu kukenal.   
            Tapi anak laki-laki itu benar-benar berbeda. Aku seakan tidak bisa membiarkannya menderita, aku ingin menolongnya. Tubuhku dikuasai oleh perasaan ingin melindungi yang amat sangat. Walaupun aku perempuan, yang secara kodrat bukan pelindung laki-laki.
            Esoknya, aku bertekad untuk mengikuti Dhani pulang, diam-diam tentunya. Aku sudah memberitahu Mama kalau aku akan pulang sore karena ada kerja kelompok. Alasan klise yang cukup ampuh supaya aku tidak dijemput dan rencanaku berhasil. Aku juga hanya ingin tahu di mana dia tinggal, itu saja.
            Dhani juga tidak melihatku berjalan di belakangnya. Dia berjalan sendirian seperti biasa dan aku mengikutinya sampai masuk gang. Mungkin di dekat sini tempatnya. Kukira semua akan berjalan lancar, sampai akhirnya aku melihat gerombolan anak SMP yang kemarin menghadang Dhani.
            Dari pembicaraan mereka, aku tahu kalau mereka telah dihukum oleh sekolahnya akibat perkelahian waktu itu. Mereka marah dan melampiaskannya pada Dhani. Salah satu dari mereka mencengkeram kerah baju Dhani sambil memaki-maki dan tangan satunya siap memukul. Dhani dipukul hingga jatuh. Orang itu lalu akan memukul lagi. Teman-temannya bersorak sorai. Aku tahu sekarang kenapa Dhani tidak ingin kejadian itu diketahui sekolah karena gerombolan berandalan ini pasti akan balas dendam, tapi ternyata orang lain mengetahuinya dan ini tidak bisa dihindarkan.
            “Hentikan!” kataku dari belakang. “Kenapa kalian selalu mengganggunya! Dasar pengecut kalian semua!” aku bersiap dengan kuda-kuda dan tangan yang mengepal. Sebenarnya aku sudah belajar taekwondo sejak SD, melawan mereka bukan masalah untukku.
            Mereka tertawa mengejekku. Setidaknya mereka berhenti menganiaya Dhani untuk sesaat. “Anak ini lagi! Hajar saja bro!” kata salah satu dari mereka.
            “Nggak peduli kamu cewek atau cowok, kalo berani nantang ya harus dihadapi!”
            Aku jelas lebih pendek dari anak kelas tiga SMP. Dengan mudahnya dia memegang tanganku hingga tidak bisa bergerak, tapi kakiku ini dengan mudahnya menendang perutnya hingga terjatuh dan meringis kesakitan.
            “Hey, berhenti! Apa-apaan kalian ribut di sini!” seseorang memergoki kami. Aku agak terkejut, tapi senang juga, berandal itu lalu pergi seketika melihatnya datang.
            “Kamu nggak papa nak? Ngapain kamu sama mereka? Mereka itu anak yang sering tawuran di dekat sini,” kata bapak itu. Untunglah, aku kira aku juga akan dimarahi karena berkelahi. “Nggak papa pak. Dhan, kamu nggak papa kan?” aku segera melihat keadaan Dhani yang memegangi wajahnya yang kena pukul. Ia belum berdiri sejak terjatuh tadi. “Sini aku lihat lukanya,” aku mencoba menarik tangannya.
            “Pergi kamu!” bentaknya sambil mendorongku hingga jatuh. Ia lalu lari. Aku mengejarnya. Aku tahu dia marah karena aku selalu ikut campur masalahnya. Aku juga menyalahkan diriku sendiri kenapa begini, kenapa begitu, kenapa, dan kenapa. Tidak ada waktu untuk itu! Aku harus mengejarnya, setidaknya untuk minta maaf.
             Aku sampai pada sebuah lahan kosong dengan beberapa rumah yang belum selesai dibangun dan sengaja ditinggalkan, mirip padang rumput yang tidak rata dan banyak batu-batu di sana sini. Ini seperti tempat orang-orang membuang material bangunan yang dibongkar. Aku melihat Dhani duduk di tanah yang mirip bukit kecil dengan rumput dan semak yang tumbuh tak beraturan. Dihadapannya juga hanya rumput-rumput yang tumbuh tinggi. Di sini sangat sepi, hanya suara angin dan terik matahari.
            Ia menangis tersedu-sedu.
            “Tidak ada yang menyayangiku, tidak ada yang menginginkan aku. Semua orang membenciku. Tidak ada gunanya aku hidup!” katanya dengan jelas seolah ia memang berbicara denganku yang berdiri di belakangnya, di antara semak-semak yang membuatku gatal. Aku tidak berani bicara. Aku benar-benar bingung saat aku tahu dia menangis di sini.
            “Lebih baik aku mati saja!” seketika itu ia mengambil batu besar yang berserakan di dekatnya, bersiap memukul dirinya sendiri. “BODOH! Mau apa kamu!” aku bergerak cepat dengan menyerangnya hingga jatuh. Tak lupa aku memberi pukulan di wajahnya tanpa ampun. Sudah lengkap lukanya, di pipi kiri karena berandal tadi, dan di pipi kanan dariku. “Kamu pikir kalau kamu mati kamu bisa bahagia! JANGAN JADI ORANG YANG LEMAH!” teriakku keras-keras. “Kenapa kamu selalu ikut campur urusanku! Apa pedulimu kalau aku mati!” teriaknya lebih keras lagi.
            “Oh, jadi kamu benar-benar ingin mati! Baiklah, aku yang akan membunuhmu!” aku lalu memukulnya lagi hingga ia tak berteriak-teriak lagi. Aku tidak benar-benar akan membunuhnya. Aku hanya mengancamnya. Setelah itu aku kakiku terasa lemas dan tidak mampu berdiri, aku lalu berlutut di rerumputan yang membuat gatal itu. Dan aku menangis juga. Aku merasa bersalah sudah memukulnya. Apa bedanya aku dengan berandalan tadi?
            Beberapa menit berlalu. Aku sudah berhenti menangis, dan duduk sambil memeluk lututku membelakangi Dhani. Dhani diam sejak tadi. Ia menatap hamparan rerumputan dengan hampa. “Kenapa kamu menolongku?” terdengar suara darinya, tapi aku tidak terlalu mendengarnya. “Apa?” aku bertanya.
            “Kenapa? Kenapa kamu selalu menolongku? Bukankah kita bukan teman.” Dhani bicara tanpa menoleh.
            “Apa menolong itu butuh alasan? Wajarkan kalau orang menolong orang lain? Dasar aneh! Sudah! Aku mau pulang!” aku berdiri.
            “Heh,” katanya lagi.
            “Apa lagi hah? O, iya. Kalau kamu ingin mati lagi, dengan senang hati aku akan membunuhmu, sampai jumpa!”
            “Heh!”
            “Apa sih?!” benar-benar membuat emosi jiwa manusia ini.
            “Thanks.”
            Aku terdiam. Dalam hati aku senang sudah menemaninya beberapa menit yang emosional ini. Dia mungkin memang sudah ditakdirkan untuk bertemu denganku beberapa hari yang lalu. Tuhan memang akan mempertemukan orang-orang yang akan menjadi penting bagimu di masa depan walau tak kau sadari sekarang, dan itu benar! Aku memang telah membuktikannya sebelas tahun kemudian. Takdir itu memang ada.  

Friday, February 17, 2012

11 Years Ago



Jalanan ramai. Aku di pinggir jalan menatap hampa tempat yang biasa aku lewati semasa aku hidup. Rasanya begitu aneh saat orang-orang yang dulu selalu menyapaku di sini sekarang sama sekali diam membisu dan tidak mempedulikan aku yang lewat di depannya. Bahkan bercermin di kaca etalase toko pun bayanganku tidak ada. Aku cuma arwah yang masih diberi kesempatan empat puluh hari untuk mengikhlaskan kematianku sambil melihat-lihat dunia yang aku tinggalkan ini.
            Menjadi arwah itu menyenangkan. Tubuhmu begitu ringan hingga seakan melayang saat berjalan, seakan berjalan di bulan yang gravitasinya tidak begitu kuat. Kau juga tidak bisa merasa lapar saat melihat makanan, karena arwah tidak butuh makan. Arwah juga tidak butuh kasur untuk tidur.
            Tapi mau apa aku di sini empat puluh hari?
            Aku terdiam di tengah keramaian. Benar-benar sepi. Sepi di tengah keramaian. Aku bersandar di telepon umum tua dan kotor yang berdiri di pinggir jalan. Telepon umum yang sudah bertahun-tahun tidak dipakai lagi semenjak semua orang sudah mempunyai handphone. Mungkin sama seperti telepon umum itulah diriku, dilupakan.
            Rasanya aku ingin sekali angin meniupkan arwahku ini ke mana ia mau, biarkan aku terbang dan lupakan semua. Tapi angin malah meniupkan kenangan masa lalu yang tiba-tiba terlihat di depan mataku seolah itu nyata. Kenangan sebelas tahun yang lalu.
            ...
            Berulangkali aku menatap jam tanganku. Sudah satu jam lebih sepuluh menit aku berdiri sendirian dan kepanasan. Benar-benar menyebalkan harus mengalami ini setiap hari, setiap pulang sekolah. Ya, menunggu jemputan memang melelahkan, tapi itulah satu-satunya cara untuk pulang ke rumah.
            Aku cuma murid kelas satu SMP yang masih diantar jemput setiap hari ke sekolah. Sebenarnya aku ingin bisa pergi sendiri, naik bus kota saja, atau jalan kaki pun aku rela daripada harus begini, menunggu jemputan ditemani para penjual makanan dan minuman di depan sekolah.
            Aku mencoba menelpon Ayah lagi agar segera kemari. Ah sial! Pulsaku habis. Benar-benar tidak ada harapan, mungkin harus satu jam lagi aku di sini. Oh Tuhan, ... tolong aku. Eh, bukankah di sekitar sini ada telepon umum? Zaman sekarang wartel sudah jarang, apalagi telepon umum. Padahal itu penting sekali di situasi seperti ini. Mudah-mudahan saja telepon umum tua berwarna biru itu masih berfungsi.
            Aku berjalan mencari telepon umum sambil menyiapkan beberapa keping uang receh. Seingatku di jalan depan gereja dekat sekolah masih ada satu telepon umum—walaupun  setahuku banyak anak kecil yang merusaknya demi mendapat uang receh—aku  berharap benda itu akan menolongku untuk menelpon ke rumah.
            Ada! Tentu saja ada, dasar bodoh! Aku memaki diriku sendiri. Telepon umum mana mungkin bisa jalan? Aku senang melihatnya, tapi aku malah ragu untuk ke sana karena gerombolan anak laki yang juga murid SMP ada di sekitar situ. Pakaian mereka berantakan dan lusuh, sepertinya mereka anak kelas tiga yang terkenal nakal-nakal. Aku tahu mereka tidak satu sekolah denganku. Huh. Kenapa aku harus ada mereka di situ di saat seperti ini.
            Aku ingin berubah pikiran. Lebih baik aku menunggu di depan sekolah lagi daripada harus berurusan dengan berandal itu—walaupun aku juga sama seperti mereka—agak berandal, tetap saja aku cuma anak kelas satu SMP yang tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka.
            Sebelum benar-benar pergi dari tempat itu aku melihat mereka lagi. Kali ini dengan seksama. Ada satu anak laki-laki pendek di antara mereka yang tinggi itu. Sepertinya dia teman satu sekolahku. Mereka memaki anak itu tanpa ampun, membentak tidak jelas. Anak kelas satu itu terus melawan, tp justru mereka memukulnya, anak itu jatuh, berdiri lagi, lalu mereka memukulnya lagi tanpa ampun.
            “STOP!” teriakku. Aku tidak tahan melihat apa yang mereka lakukan. Aku memilih berani mati untuk menantang mereka. “Kalau diteruskan aku akan lapor guru!” ancamku. Ancamanku memang sangat kekanak-kanakan, tapi itu meluncur saja dari mulutku. Tidak berhenti di situ aku berusaha memukul salah satu dari murid kelas tiga itu. “Kalian beraninya sama anak kecil!” teriakku.
            “Apa sih ikutan aja nih anak?” katanya, lalu mendorongku hingga jatuh. Aku berdiri lagi dan mencoba melawan. “Sudah, kita pergi aja! Nggak ada gunanya!” teriak salah satu orang. “Kenapa? Kamu takut dilaporkan ke guru ha?” kata yang lain.
            “Bukan gitu. Ngapain juga kita gangguin anak kecil. Percuma aja, tuh anak nggak punya duit, ayo pergi!”
            Mereka lalu pergi meninggalkan kami berdua sambil mengejek. Benar-benar kurang ajar mereka itu. Karena dilanda emosi aku lupa kalau mau menelpon, bahkan aku juga lupa dengan anak laki-laki yang terjatuh di sebelahku. Bibirnya terluka gara-gara mereka.
            “Kamu nggak papa?” tanyaku khawatir. “Kenapa mereka mukulin kamu?”
            “Biasalah, minta duit.” jawabnya sambil menyeka bibir.
            “Ngapain mereka minta duit?”
            “Ah, cerewet! Pergi sana!” Anak itu berdiri.
            “Mending lukamu diobati di UKS, kan sekolah masih buka,”
            “Nggak usah, pergi sana! Nggak usah sok jadi pahlawan ya!” ia malah membentakku. “Hey, kamu itu kenapa sih? Aku kan sudah menolongmu, malah marah-marah!” aku pun ikut marah. Benar-benar tidak tahu terima kasih.
            Iya, iya aku pergi. Aku nggak akan peduli juga padanya. Memangnya siapa anak kecil nggak tahu terimakasih ini. Badannya lebih pendek aja bisa sesombong itu di depanku, aku juga bisa memukulinya seperti berandalan tadi. Aku pergi meninggalkan dia yang masih berdiri di sana.
            “Hey tunggu!” teriaknya tiba-tiba. Wah, sudah sadar rupanya dia. Aku menoleh padanya, dia menatapku dengan tajam. “Apa?!”
            “Jangan laporkan ini ke sekolah!” teriaknya.
            “Siapa juga yang mau lapor!”
            “Ya baguslah.”
            Aku melanjutkan jalanku, menunggu jemputan lagi di sekolah. “Kenapa dia nggak mau lapor ya? Kalau sekolah tahu, anak nakal itu kan nggak akan ganggu dia lagi, dasar orang aneh.” kataku pada diri sendiri.
            Besoknya, aku sudah lupa kejadian pengeroyokan itu. Aku bahkan tidak berpikir anak menyebalkan tadi dari kelas mana. Yang jelas ia masih kelas satu—sama sepertiku. Satu hal yang tidak terlupakan dan sangat menyebalkan, sepulang sekolah aku harus menunggu jemputan lagi. Ah~
            Ingin sekali aku seperti Luna yang boleh pulang pergi sesuka hati dengan kendaraan umum. Ibuku tidak memperbolehkan aku begitu, aku juga tidak tahu kenapa, sepertinya Ibu takut aku diculik. Ah, apa-apaan, mana mungkin aku diculik.
            “Adelll... aku pulang duluuuu...~” Luna melambaikan tangan dan pergi dengan teman-temannya yang juga naik bus kota. “Daaah~...” aku membalas lambaian tangannya. Baiklah. Aku sendiri lagi.
            Sepuluh menit berlalu. “Heh,” kata seseorang yang menghampiriku. Ternyata anak yang kemarin diganggu itu. Nada bicaranya tetap saja sombong, benar-benar menyebalkan. “Apa?” aku tak kalah sombongnya.
            “Terima kasih untuk yang kemarin,” katanya, tetap dengan nada datar. Matanya bahkan tidak menatapku. Tapi aku senang sekali akhirnya dia mau berterimakasih. Bukannya aku tidak ikhlas menolongnya, tapi memang agak menyenangkan walaupun dia sepertinya malu berbuat begini. Dalam hati aku tertawa, tapi aku pura-pura tidak peduli dengannya.
            “Jangan beritahu sekolah soal itu, aku bisa kena masalah,” katanya lagi.
            “Iya. Aku nggak akan bilang, nggak percaya banget sih!”
            “Ya sudah.” Ia lalu menjauh. Tidak ada lagi yang ingin dikatakannya selain mewanti-wanti agar aku tidak memberi tahu pihak sekolah. Kulihat bekas luka di bibirnya. “Lukamu masih sakit?” tanyaku sebelum ia benar-benar pergi.
            “Nggak lah!” ia lalu menutupi lukanya dengan tangan, sepertinya ia tidak ingin itu dibahas lagi. “Kamu anak kelas mana? Namamu siapa?” aku malah bertanya hal itu.
            “ Apa sih cerewet banget!”
            “Sudah jawab aja kenapa sih! Nanti aku laporkan ke kepala sekolah kalau kamu nggak mau jawab!”
            “Dasar...”
            “Jawab nggak?”
            “Aku Dhani, kelas 1D. Puas?”
            “Oh. Aku Adel, kelas 1A.” kataku sambil tersenyum.
            “Siapa yang tanya?”
            “Heh. Supaya kamu tahu aja. Nanti kalau ada apa-apa cari aja Adel, anak 1A!”
            “Nggak mau!” bentaknnya. Anak laki-laki bernama Dhani itupun berjalan meninggalkan aku yang masih kesal karenanya, tanpa aku tahu sebenarnya dia tersenyum sambil berlalu.
...
            Hari Selasa yang malas. Aku hampir tertidur di kelas sampai Luna membangunkan aku. “Hey, hey. Adel, bangun! Kamu dipanggil ke ruang BK!”
            “Hah? Ada apa?” aku tersentak kaget. Hampir saja aku kena serangan jantung, bukan karena dipanggil ke BK, tapi karena aku hampir terlelap dan suara Luna benar-benar mengagetkanku.
            “Mmm... katanya kamu berkelahi sama anak SMP sebelah?”
            “Hah? Tahu dari ma...”
            “Jadi beneran? Ya ampun Adel!”
            “Ah, nggak kok.”
            “Tadi Dhani anak kelas D juga dipanggil, sana buruan!”
            Perasaanku jadi tidak enak.
(to be continued)

Saturday, February 11, 2012

Forty Days Ghost (part 1)


            Langit mendung. Warnanya putih keabu-abuan. Matahari bersinar namun tak terasa sedikitpun panasnya. Kemarin sehari semalam dunia diguyur hujan. Hari ini hujan mulai reda, hanya menyisakan gerimis yang tak kunjung selesai sedari subuh.
            Aku berdiri memandangi orang-orang berpakaian hitam itu dari jauh. Aku tak mau melihat mereka dari dekat. Aku takut takkan rela meninggalkan semua ini jika aku di sana, lalu bergentayangan sebagai arwah penasaran. Ya, hari ini hari pemakamanku.
            “Semua orang pasti mati, termasuk orang-orang itu, hanya masalah waktu,...” kata sosok di sebelahku yang berpakaian serba hitam. Matanya menatap upacara pemakamanku dengan begitu tenangnya, tak ada ekspresi kesedihan, juga tak ada kebahagiaan di wajahnya. Sekalipun dia tersenyum, tetap saja rasanya sedingin es. “Kamu benar-benar nggak mau melihat mereka di sana?” tanyanya lagi. Aku diam tak menjawab.
            “Lalu untuk apa kita di sini? Ayo pergi saja!” Ia menarik tanganku, dan hampir saja aku ikut terseret. Aku merasa tubuhku seringan balon yang bisa terbang ke mana saja hanya karena dihembus angin, apalagi karena tarikan tangannya itu. “Tapi aku menunggu seseorang!” pekikku.
            Sosok berjas hitam di sebelahku itu lalu melepaskan tanganku dan menghela nafas kesal. Ia lalu mencoba bersabar untukku untuk menungguku lagi sambil memandangi areal pemakaman tanpa minat.
            Upacara pemakaman selesai. Orang yang kutunggu tak kunjung datang. Orang-orang berbaju hitam yang mengantarku hingga ke liang lahat mulai meninggalkan areal pemakaman dan masuk ke kendaraan masing-masing. Kulihat orang tuaku juga masuk ke mobil, juga teman-temanku, dan orang-orang yang tak kukenal—mungkin teman orang tuaku. Aku hampir meneteskan air mata yang berjam-jam aku tahan, tapi kali ini tidak bisa. Aku benar-benar tidak bisa menahan kesedihan harus meninggalkan semua orang-orang yang kusayang. Ingin aku memanggil mereka tapi percuma. Mereka tak bisa melihat dan mendengarku, sekalipun ada yang bisa mereka akan menganggapku hantu dan ketakutan.
            Aku menangis tersedu-sedu melihat semua orang itu pergi jauh meninggalkan aku di suasana senyap areal pemakaman. Kini hanya aku yang berdiri meratapi hidupku di sana tanpa ada seorang pun yang peduli. Aku tak menyangka kalau hidupku begitu singkat, hanya dua puluh empat tahun saja aku menghirup udara bumi dan kini aku tak tahu apalagi yang akan terjadi. Apa aku akan diantar ke surga, atau dijebloskan ke neraka? Aku benar-benar tidak berdaya.
            Aku mencoba menenangkan diri. Sudah tidak ada gunanya ketika hidup sudah berakhir karena semua memang telah berakhir. Apalagi yang bisa kulakukan selain menerima takdir walaupun ada sedikit kekecewaan karena orang itu tidak datang di pemakamanku. “Bahkan saat aku mati pun ia tidak sudi datang...” kataku sambil terisak.
            Sosok berjas hitam itu memandangiku dengan tidak sabar. Tapi sepertinya ia sudah terlalu terbiasa dengan keadaan ini. “Dasar manusia,...” katanya pada diri sendiri.
            “Baiklah. Aku akan ikut denganmu sekarang,” kataku padanya. Air mataku sudah mengering. Aku menahannya untuk tidak jatuh lagi. “Benar kau akan ikut sekarang?” jawabnya.
            “Apa maksudmu? Tadi kau yang memaksaku pergi! Memangnya aku bisa hidup lagi? Aku sudah di bawah tanah sana!” ternyata sudah mati pun aku masih bisa marah-marah.
            “Iya tadi aku memang mengajakmu pergi karena aku malas melihat orang yang bertangis-tangisan itu! Sudah jelas semua orang pasti mati masih ditangisi juga,” ujarnya dengan sangat menyebalkan.
            “Enak saja, kau bilang begitu karena kau merasa tidak bisa mati kan!”
            “Mana mungkin aku tidak akan mati, aku juga bisa mati sepertimu! Memangnya aku Tuhan!”
            “Lalu apa maksudmu tadi? Aku benar-benar bisa bangkit dari kubur?” kali ini aku serius dan benar-benar berharap. 
            “DASAR BODOH!” tangannya sosok berjas hitam memukul kepalaku dengan teganya. “Apa-apaan kau ini! Sakit tahu!” sudah mati pun tetap saja sakit.
            “Kau itu bodoh atau apa? Mana bisa kau hidup lagi?”
            “Iya iya aku tahu! Lalu sekarang bagaimana?” aku mulai hilang kesabaran.
            “Selama ini kamu tidak tahu tentang kehidupan empat puluh hari setelah kematian?”
            “A-apa itu?”
            “Manusia yang telah mati, rohnya akan bertahan di dunia ini selama empat puluh hari sebelum ia benar-benar pergi ke dunia yang lain.”
            “Ja,jadi aku masih...”
            “Kalau mau pergi ke akhirat sekarang juga bisa, jadi aku tidak perlu repot-repot menjemputmu lagi nanti. Ayo, katanya mau berangkat sekarang?” ia memberikan tangannya yang putih bersih padaku. “Tidak!” teriakku. “Aku masih belum selesai, izinkan aku menjadi hantu empat puluh hari...”

(to be continued...)

Sunday, January 15, 2012

Sebuah Pelajaran tentang Kehidupan dari Swiss



            Coba bayangkan kalau anda tinggal di sebuah tempat yang dikelilingi  pegunungan dengan sungai-sungai jernih yang mengalir, danau biru, juga pepohonan hijau yang tumbuh bersamaan dengan hamparan salju. Itulah sedikit gambaran tentang Swiss yang membuat saya seakan benar-benar berada di sana saat membaca ‘A Postcard from Switzerland’, sebuah novel karya Sharon Creech yang menceritakan tentang sebuah pencarian jati diri seorang anak perempuan Amerika.
            Cerita dibuka tentang kehidupan Dinnie, seorang remaja Amerika berusia tiga belas tahun yang tinggal dengan keluarganya yang hidup nomaden. Hal itu membuatnya sering berpindah-pindah sekolah dari satu kota ke kota yang lain. Atas desakan dari Nenek Dinnie, akhirnya ia tinggal dengan Paman dan Bibinya di Swiss agar mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang layak. Dan sejak itulah kehidupan baru Dinnie di mulai.
            Awalnya Dinnie memang terpaksa pergi ke Swiss. Walaupun di sana ia bisa hidup jauh lebih layak daripada sebelumnya, ia tetap saja merindukan keluarganya di Amerika. Namun ia tetap bertahan dan berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya, dan kemudian dari hari-harinya di Swiss itulah ia belajar memaknai kehidupan.
            Sekolah baru Dinnie bukan sekolah biasa. Sekolah itu ternyata terdiri dari murid-murid dari berbagai belahan dunia. Ada yang berasal dari Amerika, Spanyol, Arab Saudi, Jepang, dan lain-lain. Mereka datang dari berbagai macam kebudayaan, bahasa, dan kepribadian. Di sekolah itu mereka harus membaur satu sama lain sehingga adanya perbedaan latar belakang tidak membuat mereka terpecah belah, justru semakin bersatu dan saling memahami walaupun awalnya sulit.
            Tema menghargai perbedaan sangat relevan dengan kondisi negara kita sekarang. Ada perbedaan sedikit saja konflik bisa terjadi hingga memakan korban jiwa. Menurut saya novel ini dapat menginspirasi pembacanya untuk melihat betapa indahnya perbedaan itu sehingga muncul rasa untuk saling menghargai dan memahami satu sama lain.  
            Tak hanya tentang perbedaan, novel ini juga menggambarkan indahnya saling berbagi. Di sini diceritakan tentang pelajaran di sekolah mereka yang mendiskusikan permasalahan dunia, misalnya masalah kelaparan, korban peperangan, masalah pengungsi, HIV AIDS dan bagaimana pelajaran sekolah itu membuat mereka tergerak untuk bersama-sama saling membantu orang-orang yang tidak seberuntung mereka.
            Tapi dari semua itu, menurut saya hal yang paling menarik dari novel ini adalah  pelajaran tentang bagaimana sebaiknya kita memandang dan menyikapi kehidupan. Sharon Creech menganalogikan diri kita dengan dua orang narapidana yang terpenjara dengan satu jendela di selnya untuk melihat keluar. Narapidana yang pertama melihat langit yang terang, sedangkan satunya lagi hanya melihat tanah. Dari analogi itu kita dapat bertanya pada diri sendiri, yang manakah yang menggambarkan diri kita? Bagaimana sikap kita dalam menjalani hidup? Apakah dengan sikap optimis seperti narapidana yang melihat langit terang, atau dengan sikap pesimis seperti narapidana yang melihat tanah?
            Bagi saya ‘A Postcard from Switzerland’ adalah sebuah novel dengan alur cerita sederhana namun dengan pesan moral yang kuat dan sangat menginspirasi pembacanya, tentu saja dengan berbagai penggambaran yang membuat kita seakan berada di Swiss dan keindahan alamnya. Membaca novel ini seperti komentar Daily Telegraph yang tertulis di sampul depannya, “Kisah menakjubkan yang sanggup memikat dan menjeratmu ke dalamnya..”   
 
;