Jalanan
ramai. Aku di pinggir jalan menatap hampa tempat yang biasa aku lewati semasa
aku hidup. Rasanya begitu aneh saat orang-orang yang dulu selalu menyapaku di
sini sekarang sama sekali diam membisu dan tidak mempedulikan aku yang lewat di
depannya. Bahkan bercermin di kaca etalase toko pun bayanganku tidak ada. Aku
cuma arwah yang masih diberi kesempatan empat puluh hari untuk mengikhlaskan
kematianku sambil melihat-lihat dunia yang aku tinggalkan ini.
Menjadi
arwah itu menyenangkan. Tubuhmu begitu ringan hingga seakan melayang saat
berjalan, seakan berjalan di bulan yang gravitasinya tidak begitu kuat. Kau
juga tidak bisa merasa lapar saat melihat makanan, karena arwah tidak butuh
makan. Arwah juga tidak butuh kasur untuk tidur.
Tapi mau apa
aku di sini empat puluh hari?
Aku terdiam
di tengah keramaian. Benar-benar sepi. Sepi di tengah keramaian. Aku bersandar
di telepon umum tua dan kotor yang berdiri di pinggir jalan. Telepon umum yang
sudah bertahun-tahun tidak dipakai lagi semenjak semua orang sudah mempunyai
handphone. Mungkin sama seperti telepon umum itulah diriku, dilupakan.
Rasanya aku
ingin sekali angin meniupkan arwahku ini ke mana ia mau, biarkan aku terbang dan
lupakan semua. Tapi angin malah meniupkan kenangan masa lalu yang tiba-tiba
terlihat di depan mataku seolah itu nyata. Kenangan sebelas tahun yang lalu.
...
Berulangkali
aku menatap jam tanganku. Sudah satu jam lebih sepuluh menit aku berdiri
sendirian dan kepanasan. Benar-benar menyebalkan harus mengalami ini setiap
hari, setiap pulang sekolah. Ya, menunggu jemputan memang melelahkan, tapi
itulah satu-satunya cara untuk pulang ke rumah.
Aku cuma murid
kelas satu SMP yang masih diantar jemput setiap hari ke sekolah. Sebenarnya aku
ingin bisa pergi sendiri, naik bus kota saja, atau jalan kaki pun aku rela
daripada harus begini, menunggu jemputan ditemani para penjual makanan dan
minuman di depan sekolah.
Aku mencoba
menelpon Ayah lagi agar segera kemari. Ah sial! Pulsaku habis. Benar-benar
tidak ada harapan, mungkin harus satu jam lagi aku di sini. Oh Tuhan, ... tolong
aku. Eh, bukankah di sekitar sini ada telepon umum? Zaman sekarang wartel sudah
jarang, apalagi telepon umum. Padahal itu penting sekali di situasi seperti
ini. Mudah-mudahan saja telepon umum tua berwarna biru itu masih berfungsi.
Aku
berjalan mencari telepon umum sambil menyiapkan beberapa keping uang receh.
Seingatku di jalan depan gereja dekat sekolah masih ada satu telepon umum—walaupun
setahuku banyak anak kecil yang merusaknya
demi mendapat uang receh—aku berharap
benda itu akan menolongku untuk menelpon ke rumah.
Ada! Tentu
saja ada, dasar bodoh! Aku memaki diriku sendiri. Telepon umum mana mungkin bisa
jalan? Aku senang melihatnya, tapi aku malah ragu untuk ke sana karena
gerombolan anak laki yang juga murid SMP ada di sekitar situ. Pakaian mereka
berantakan dan lusuh, sepertinya mereka anak kelas tiga yang terkenal
nakal-nakal. Aku tahu mereka tidak satu sekolah denganku. Huh. Kenapa aku harus
ada mereka di situ di saat seperti ini.
Aku ingin
berubah pikiran. Lebih baik aku menunggu di depan sekolah lagi daripada harus
berurusan dengan berandal itu—walaupun aku juga sama seperti mereka—agak
berandal, tetap saja aku cuma anak kelas satu SMP yang tidak ada apa-apanya
dibandingkan mereka.
Sebelum
benar-benar pergi dari tempat itu aku melihat mereka lagi. Kali ini dengan
seksama. Ada satu anak laki-laki pendek di antara mereka yang tinggi itu.
Sepertinya dia teman satu sekolahku. Mereka memaki anak itu tanpa ampun,
membentak tidak jelas. Anak kelas satu itu terus melawan, tp justru mereka
memukulnya, anak itu jatuh, berdiri lagi, lalu mereka memukulnya lagi tanpa
ampun.
“STOP!”
teriakku. Aku tidak tahan melihat apa yang mereka lakukan. Aku memilih berani
mati untuk menantang mereka. “Kalau diteruskan aku akan lapor guru!” ancamku.
Ancamanku memang sangat kekanak-kanakan, tapi itu meluncur saja dari mulutku.
Tidak berhenti di situ aku berusaha memukul salah satu dari murid kelas tiga
itu. “Kalian beraninya sama anak kecil!” teriakku.
“Apa sih
ikutan aja nih anak?” katanya, lalu mendorongku hingga jatuh. Aku berdiri lagi
dan mencoba melawan. “Sudah, kita pergi aja! Nggak ada gunanya!” teriak salah
satu orang. “Kenapa? Kamu takut dilaporkan ke guru ha?” kata yang lain.
“Bukan
gitu. Ngapain juga kita gangguin anak kecil. Percuma aja, tuh anak nggak punya
duit, ayo pergi!”
Mereka lalu
pergi meninggalkan kami berdua sambil mengejek. Benar-benar kurang ajar mereka
itu. Karena dilanda emosi aku lupa kalau mau menelpon, bahkan aku juga lupa
dengan anak laki-laki yang terjatuh di sebelahku. Bibirnya terluka gara-gara
mereka.
“Kamu nggak
papa?” tanyaku khawatir. “Kenapa mereka mukulin kamu?”
“Biasalah,
minta duit.” jawabnya sambil menyeka bibir.
“Ngapain
mereka minta duit?”
“Ah,
cerewet! Pergi sana!” Anak itu berdiri.
“Mending
lukamu diobati di UKS, kan sekolah masih buka,”
“Nggak
usah, pergi sana! Nggak usah sok jadi pahlawan ya!” ia malah membentakku. “Hey,
kamu itu kenapa sih? Aku kan sudah menolongmu, malah marah-marah!” aku pun ikut
marah. Benar-benar tidak tahu terima kasih.
Iya, iya
aku pergi. Aku nggak akan peduli juga padanya. Memangnya siapa anak kecil nggak
tahu terimakasih ini. Badannya lebih pendek aja bisa sesombong itu di depanku,
aku juga bisa memukulinya seperti berandalan tadi. Aku pergi meninggalkan dia
yang masih berdiri di sana.
“Hey
tunggu!” teriaknya tiba-tiba. Wah, sudah sadar rupanya dia. Aku menoleh
padanya, dia menatapku dengan tajam. “Apa?!”
“Jangan
laporkan ini ke sekolah!” teriaknya.
“Siapa juga
yang mau lapor!”
“Ya
baguslah.”
Aku
melanjutkan jalanku, menunggu jemputan lagi di sekolah. “Kenapa dia nggak mau
lapor ya? Kalau sekolah tahu, anak nakal itu kan nggak akan ganggu dia lagi,
dasar orang aneh.” kataku pada diri sendiri.
Besoknya,
aku sudah lupa kejadian pengeroyokan itu. Aku bahkan tidak berpikir anak
menyebalkan tadi dari kelas mana. Yang jelas ia masih kelas satu—sama sepertiku.
Satu hal yang tidak terlupakan dan sangat menyebalkan, sepulang sekolah aku
harus menunggu jemputan lagi. Ah~
Ingin
sekali aku seperti Luna yang boleh pulang pergi sesuka hati dengan kendaraan
umum. Ibuku tidak memperbolehkan aku begitu, aku juga tidak tahu kenapa,
sepertinya Ibu takut aku diculik. Ah, apa-apaan, mana mungkin aku diculik.
“Adelll...
aku pulang duluuuu...~” Luna melambaikan tangan dan pergi dengan teman-temannya
yang juga naik bus kota. “Daaah~...” aku membalas lambaian tangannya. Baiklah.
Aku sendiri lagi.
Sepuluh
menit berlalu. “Heh,” kata seseorang yang menghampiriku. Ternyata anak yang
kemarin diganggu itu. Nada bicaranya tetap saja sombong, benar-benar
menyebalkan. “Apa?” aku tak kalah sombongnya.
“Terima
kasih untuk yang kemarin,” katanya, tetap dengan nada datar. Matanya bahkan
tidak menatapku. Tapi aku senang sekali akhirnya dia mau berterimakasih. Bukannya
aku tidak ikhlas menolongnya, tapi memang agak menyenangkan walaupun dia
sepertinya malu berbuat begini. Dalam hati aku tertawa, tapi aku pura-pura
tidak peduli dengannya.
“Jangan
beritahu sekolah soal itu, aku bisa kena masalah,” katanya lagi.
“Iya. Aku
nggak akan bilang, nggak percaya banget sih!”
“Ya sudah.”
Ia lalu menjauh. Tidak ada lagi yang ingin dikatakannya selain mewanti-wanti
agar aku tidak memberi tahu pihak sekolah. Kulihat bekas luka di bibirnya. “Lukamu
masih sakit?” tanyaku sebelum ia benar-benar pergi.
“Nggak lah!”
ia lalu menutupi lukanya dengan tangan, sepertinya ia tidak ingin itu dibahas
lagi. “Kamu anak kelas mana? Namamu siapa?” aku malah bertanya hal itu.
“ Apa sih
cerewet banget!”
“Sudah jawab
aja kenapa sih! Nanti aku laporkan ke kepala sekolah kalau kamu nggak mau
jawab!”
“Dasar...”
“Jawab
nggak?”
“Aku Dhani,
kelas 1D. Puas?”
“Oh. Aku
Adel, kelas 1A.” kataku sambil tersenyum.
“Siapa yang
tanya?”
“Heh.
Supaya kamu tahu aja. Nanti kalau ada apa-apa cari aja Adel, anak 1A!”
“Nggak mau!”
bentaknnya. Anak laki-laki bernama Dhani itupun berjalan meninggalkan aku yang
masih kesal karenanya, tanpa aku tahu sebenarnya dia tersenyum sambil berlalu.
...
Hari Selasa
yang malas. Aku hampir tertidur di kelas sampai Luna membangunkan aku. “Hey,
hey. Adel, bangun! Kamu dipanggil ke ruang BK!”
“Hah? Ada
apa?” aku tersentak kaget. Hampir saja aku kena serangan jantung, bukan karena
dipanggil ke BK, tapi karena aku hampir terlelap dan suara Luna benar-benar
mengagetkanku.
“Mmm...
katanya kamu berkelahi sama anak SMP sebelah?”
“Hah? Tahu dari
ma...”
“Jadi
beneran? Ya ampun Adel!”
“Ah, nggak
kok.”
“Tadi Dhani
anak kelas D juga dipanggil, sana buruan!”
Perasaanku
jadi tidak enak.
(to be continued)

No comments:
Post a Comment