Saturday, March 3, 2012

11 Years Ago (2)


           ... 
           Hari Selasa yang malas. Aku hampir tertidur di kelas sampai Luna membangunkan aku. “Hey, hey. Adel, bangun! Kamu dipanggil ke ruang BK!”
        “Hah? Ada apa?” aku tersentak kaget. Hampir saja aku kena serangan jantung, bukan karena dipanggil ke BK, tapi karena aku hampir terlelap dan suara Luna benar-benar mengagetkanku.
            “Mmm... katanya kamu berkelahi sama anak SMP sebelah?”
            “Hah? Tahu dari ma...”
            “Jadi beneran? Ya ampun Adel!”
            “Ah, nggak kok.”
            “Tadi Dhani anak kelas D juga dipanggil, sana buruan!”
            Perasaanku jadi tidak enak.

XXX
            Aku membuka pintu kayu berkaca yang dihiasi gorden berenda. Hampir setengah jam aku di ruangan itu, menjawab beberapa pertanyaan dari guru BK. Ini masih terkait dengan peristiwa itu, yang kukira sepele dan sudah biasa terjadi walaupun seharusnya tidak boleh dilakukan. Aku hanya tidak menyangka peristiwa yang hampir terlupakan itu masih diungkit kembali, dan rupanya pihak sekolah sudah mengetahui.
            Di depan ruang BK, tepat setelah aku keluar itu aku melihat Dhani—yang sebelumnya juga sudah diinterogasi guru BK—sedang bersandar di tembok, di sebelah pintu yang kubuka.
            Aku agak takut bertemu dengannya. Ia pasti berpikir kalau aku yang memberi tahu sekolah padahal aku sudah berjanji untuk melupakan dan aku memang tidak berniat untuk melaporkan atau hal-hal semacam itu. “Bukan aku yang lapor sekolah, aku juga nggak tahu kenapa Bu Nana bisa tahu, beneran bukan aku!” aku segera menjelaskan pada Dhani, anak kelas sebelah yang kurus kering dan pendek, tapi agak misterius itu. Oh aku baru sadar, tingginya hampir sama dengan tinggi tubuhku sekarang, ternyata dia bertambah tinggi hanya dalam hitungan minggu!
            “Iya aku tahu.” katanya datar. Syukurlah kalau dia tidak salah paham. Lalu siapa yang memberitahu sekolah? “Ada anak kelas tiga yang tahu trus bilang ke Bu Nana.” Dhani menjelaskan sebelum aku sempat bertanya.
            “Trus gimana?” tanyaku saat Dhani akan kembali ke kelas.
            “Apanya?”
            “Ya itu!” aku mulai tidak sabar. Menyesal bertanya itu ya seperti ini.
            “Nggak papa.”
            Ya. Mudah-mudahan, kataku dalam hati. Mudah-mudahan memang tidak terjadi apa-apa. Bukan dia yang salah, bukan juga aku. Dia hanya korban dari beberapa murid SMP tidak tahu diri itu. Aku hanya menolongnya karena kebetulan lewat. Pihak sekolah hanya mencari tahu kebenaran peristiwa itu dan berusaha hal itu tidak akan pernah terjadi lagi pada muridnya.
            Aku tidak mengerti apa yang Dhani khawatirkan, kenapa ia tidak mau sekolah tahu—walaupun akhirnya juga tahu. Sikapnya justru membuatku semakin khawatir padanya, karena seolah ia akan mengatakan ‘sesuatu akan terjadi’.
            Lalu kenapa aku peduli? Kenapa aku harus khawatir? Siapa dia? Kenal pun baru seminggu, dan kenapa aku harus berprasangka buruk? Aku sungguh tak bisa menjawabnya karena aku tidak bisa membaca masa depan.
            “Sebenarnya Dhani itu teman SD-ku...” kata Luna, sesampainya di kelas. “Oh ya?” kataku dengan begitu terkejut. Luna memang tidak pernah bercerita sebelumnya dan aku pun sama sekali tidak memikirkan hal ini, bahwa Luna sebenarnya mengenal Dhani.
            “Tapi aku nggak begitu akrab sama dia. Lagian orangnya kan tertutup. Nggak nyangka juga sih kok bisa satu sekolah lagi sama dia...”
            Aku menatap Luna dengan penasaran, berharap ia akan bercerita lebih banyak lagi. Tapi sepertinya dia tidak begitu antusias membicarakan teman SD-nya itu. “Kenapa sih? Jangan-jangan kamu suka sama dia?!” Luna mencurigaiku. “Nggak mungkin kan Del??” Luna tampak shock.
            “Nggak lah Lun! Aku cuma kasihan sama dia!” aku membela diri.
            “Oh. Iya, memang kasihan dia itu. Dia itu yatim piatu, tinggalnya di panti asuhan. Nggak nyangka kamu sebaik itu sama orang, aku yang kenal sama dia aja biasa-biasa aja...ckckck,”
            “Benarkah?” aku terkejut lagi setelah mengetahui fakta kedua, bahwa Dhani adalah penghuni panti asuhan. Dan sejak itu aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Aku juga merasa bodoh kenapa aku harus mengkhawatirkan orang yang tidak terlalu kukenal.   
            Tapi anak laki-laki itu benar-benar berbeda. Aku seakan tidak bisa membiarkannya menderita, aku ingin menolongnya. Tubuhku dikuasai oleh perasaan ingin melindungi yang amat sangat. Walaupun aku perempuan, yang secara kodrat bukan pelindung laki-laki.
            Esoknya, aku bertekad untuk mengikuti Dhani pulang, diam-diam tentunya. Aku sudah memberitahu Mama kalau aku akan pulang sore karena ada kerja kelompok. Alasan klise yang cukup ampuh supaya aku tidak dijemput dan rencanaku berhasil. Aku juga hanya ingin tahu di mana dia tinggal, itu saja.
            Dhani juga tidak melihatku berjalan di belakangnya. Dia berjalan sendirian seperti biasa dan aku mengikutinya sampai masuk gang. Mungkin di dekat sini tempatnya. Kukira semua akan berjalan lancar, sampai akhirnya aku melihat gerombolan anak SMP yang kemarin menghadang Dhani.
            Dari pembicaraan mereka, aku tahu kalau mereka telah dihukum oleh sekolahnya akibat perkelahian waktu itu. Mereka marah dan melampiaskannya pada Dhani. Salah satu dari mereka mencengkeram kerah baju Dhani sambil memaki-maki dan tangan satunya siap memukul. Dhani dipukul hingga jatuh. Orang itu lalu akan memukul lagi. Teman-temannya bersorak sorai. Aku tahu sekarang kenapa Dhani tidak ingin kejadian itu diketahui sekolah karena gerombolan berandalan ini pasti akan balas dendam, tapi ternyata orang lain mengetahuinya dan ini tidak bisa dihindarkan.
            “Hentikan!” kataku dari belakang. “Kenapa kalian selalu mengganggunya! Dasar pengecut kalian semua!” aku bersiap dengan kuda-kuda dan tangan yang mengepal. Sebenarnya aku sudah belajar taekwondo sejak SD, melawan mereka bukan masalah untukku.
            Mereka tertawa mengejekku. Setidaknya mereka berhenti menganiaya Dhani untuk sesaat. “Anak ini lagi! Hajar saja bro!” kata salah satu dari mereka.
            “Nggak peduli kamu cewek atau cowok, kalo berani nantang ya harus dihadapi!”
            Aku jelas lebih pendek dari anak kelas tiga SMP. Dengan mudahnya dia memegang tanganku hingga tidak bisa bergerak, tapi kakiku ini dengan mudahnya menendang perutnya hingga terjatuh dan meringis kesakitan.
            “Hey, berhenti! Apa-apaan kalian ribut di sini!” seseorang memergoki kami. Aku agak terkejut, tapi senang juga, berandal itu lalu pergi seketika melihatnya datang.
            “Kamu nggak papa nak? Ngapain kamu sama mereka? Mereka itu anak yang sering tawuran di dekat sini,” kata bapak itu. Untunglah, aku kira aku juga akan dimarahi karena berkelahi. “Nggak papa pak. Dhan, kamu nggak papa kan?” aku segera melihat keadaan Dhani yang memegangi wajahnya yang kena pukul. Ia belum berdiri sejak terjatuh tadi. “Sini aku lihat lukanya,” aku mencoba menarik tangannya.
            “Pergi kamu!” bentaknya sambil mendorongku hingga jatuh. Ia lalu lari. Aku mengejarnya. Aku tahu dia marah karena aku selalu ikut campur masalahnya. Aku juga menyalahkan diriku sendiri kenapa begini, kenapa begitu, kenapa, dan kenapa. Tidak ada waktu untuk itu! Aku harus mengejarnya, setidaknya untuk minta maaf.
             Aku sampai pada sebuah lahan kosong dengan beberapa rumah yang belum selesai dibangun dan sengaja ditinggalkan, mirip padang rumput yang tidak rata dan banyak batu-batu di sana sini. Ini seperti tempat orang-orang membuang material bangunan yang dibongkar. Aku melihat Dhani duduk di tanah yang mirip bukit kecil dengan rumput dan semak yang tumbuh tak beraturan. Dihadapannya juga hanya rumput-rumput yang tumbuh tinggi. Di sini sangat sepi, hanya suara angin dan terik matahari.
            Ia menangis tersedu-sedu.
            “Tidak ada yang menyayangiku, tidak ada yang menginginkan aku. Semua orang membenciku. Tidak ada gunanya aku hidup!” katanya dengan jelas seolah ia memang berbicara denganku yang berdiri di belakangnya, di antara semak-semak yang membuatku gatal. Aku tidak berani bicara. Aku benar-benar bingung saat aku tahu dia menangis di sini.
            “Lebih baik aku mati saja!” seketika itu ia mengambil batu besar yang berserakan di dekatnya, bersiap memukul dirinya sendiri. “BODOH! Mau apa kamu!” aku bergerak cepat dengan menyerangnya hingga jatuh. Tak lupa aku memberi pukulan di wajahnya tanpa ampun. Sudah lengkap lukanya, di pipi kiri karena berandal tadi, dan di pipi kanan dariku. “Kamu pikir kalau kamu mati kamu bisa bahagia! JANGAN JADI ORANG YANG LEMAH!” teriakku keras-keras. “Kenapa kamu selalu ikut campur urusanku! Apa pedulimu kalau aku mati!” teriaknya lebih keras lagi.
            “Oh, jadi kamu benar-benar ingin mati! Baiklah, aku yang akan membunuhmu!” aku lalu memukulnya lagi hingga ia tak berteriak-teriak lagi. Aku tidak benar-benar akan membunuhnya. Aku hanya mengancamnya. Setelah itu aku kakiku terasa lemas dan tidak mampu berdiri, aku lalu berlutut di rerumputan yang membuat gatal itu. Dan aku menangis juga. Aku merasa bersalah sudah memukulnya. Apa bedanya aku dengan berandalan tadi?
            Beberapa menit berlalu. Aku sudah berhenti menangis, dan duduk sambil memeluk lututku membelakangi Dhani. Dhani diam sejak tadi. Ia menatap hamparan rerumputan dengan hampa. “Kenapa kamu menolongku?” terdengar suara darinya, tapi aku tidak terlalu mendengarnya. “Apa?” aku bertanya.
            “Kenapa? Kenapa kamu selalu menolongku? Bukankah kita bukan teman.” Dhani bicara tanpa menoleh.
            “Apa menolong itu butuh alasan? Wajarkan kalau orang menolong orang lain? Dasar aneh! Sudah! Aku mau pulang!” aku berdiri.
            “Heh,” katanya lagi.
            “Apa lagi hah? O, iya. Kalau kamu ingin mati lagi, dengan senang hati aku akan membunuhmu, sampai jumpa!”
            “Heh!”
            “Apa sih?!” benar-benar membuat emosi jiwa manusia ini.
            “Thanks.”
            Aku terdiam. Dalam hati aku senang sudah menemaninya beberapa menit yang emosional ini. Dia mungkin memang sudah ditakdirkan untuk bertemu denganku beberapa hari yang lalu. Tuhan memang akan mempertemukan orang-orang yang akan menjadi penting bagimu di masa depan walau tak kau sadari sekarang, dan itu benar! Aku memang telah membuktikannya sebelas tahun kemudian. Takdir itu memang ada.  

No comments:

Post a Comment

 
;