...
Hari Selasa yang malas. Aku hampir tertidur di kelas sampai Luna
membangunkan aku. “Hey, hey. Adel, bangun! Kamu dipanggil ke ruang BK!”
“Hah? Ada
apa?” aku tersentak kaget. Hampir saja aku kena serangan jantung, bukan karena
dipanggil ke BK, tapi karena aku hampir terlelap dan suara Luna benar-benar
mengagetkanku.
“Mmm...
katanya kamu berkelahi sama anak SMP sebelah?”
“Hah? Tahu
dari ma...”
“Jadi
beneran? Ya ampun Adel!”
“Ah, nggak
kok.”
“Tadi Dhani
anak kelas D juga dipanggil, sana buruan!”
Perasaanku
jadi tidak enak.
XXX
Aku membuka
pintu kayu berkaca yang dihiasi gorden berenda. Hampir setengah jam aku di
ruangan itu, menjawab beberapa pertanyaan dari guru BK. Ini masih terkait
dengan peristiwa itu, yang kukira sepele dan sudah biasa terjadi walaupun
seharusnya tidak boleh dilakukan. Aku hanya tidak menyangka peristiwa yang
hampir terlupakan itu masih diungkit kembali, dan rupanya pihak sekolah sudah
mengetahui.
Di depan
ruang BK, tepat setelah aku keluar itu aku melihat Dhani—yang sebelumnya juga
sudah diinterogasi guru BK—sedang bersandar di tembok, di sebelah pintu yang
kubuka.
Aku agak
takut bertemu dengannya. Ia pasti berpikir kalau aku yang memberi tahu sekolah
padahal aku sudah berjanji untuk melupakan dan aku memang tidak berniat untuk
melaporkan atau hal-hal semacam itu. “Bukan aku yang lapor sekolah, aku juga
nggak tahu kenapa Bu Nana bisa tahu, beneran bukan aku!” aku segera menjelaskan
pada Dhani, anak kelas sebelah yang kurus kering dan pendek, tapi agak
misterius itu. Oh aku baru sadar, tingginya hampir sama dengan tinggi tubuhku
sekarang, ternyata dia bertambah tinggi hanya dalam hitungan minggu!
“Iya aku
tahu.” katanya datar. Syukurlah kalau dia tidak salah paham. Lalu siapa yang
memberitahu sekolah? “Ada anak kelas tiga yang tahu trus bilang ke Bu Nana.”
Dhani menjelaskan sebelum aku sempat bertanya.
“Trus
gimana?” tanyaku saat Dhani akan kembali ke kelas.
“Apanya?”
“Ya itu!”
aku mulai tidak sabar. Menyesal bertanya itu ya seperti ini.
“Nggak
papa.”
Ya.
Mudah-mudahan, kataku dalam hati. Mudah-mudahan memang tidak terjadi apa-apa.
Bukan dia yang salah, bukan juga aku. Dia hanya korban dari beberapa murid SMP
tidak tahu diri itu. Aku hanya menolongnya karena kebetulan lewat. Pihak
sekolah hanya mencari tahu kebenaran peristiwa itu dan berusaha hal itu tidak
akan pernah terjadi lagi pada muridnya.
Aku tidak
mengerti apa yang Dhani khawatirkan, kenapa ia tidak mau sekolah tahu—walaupun
akhirnya juga tahu. Sikapnya justru membuatku semakin khawatir padanya, karena
seolah ia akan mengatakan ‘sesuatu akan terjadi’.
Lalu kenapa
aku peduli? Kenapa aku harus khawatir? Siapa dia? Kenal pun baru seminggu, dan
kenapa aku harus berprasangka buruk? Aku sungguh tak bisa menjawabnya karena
aku tidak bisa membaca masa depan.
“Sebenarnya
Dhani itu teman SD-ku...” kata Luna, sesampainya di kelas. “Oh ya?” kataku
dengan begitu terkejut. Luna memang tidak pernah bercerita sebelumnya dan aku
pun sama sekali tidak memikirkan hal ini, bahwa Luna sebenarnya mengenal Dhani.
“Tapi aku
nggak begitu akrab sama dia. Lagian orangnya kan tertutup. Nggak nyangka juga
sih kok bisa satu sekolah lagi sama dia...”
Aku menatap
Luna dengan penasaran, berharap ia akan bercerita lebih banyak lagi. Tapi
sepertinya dia tidak begitu antusias membicarakan teman SD-nya itu. “Kenapa
sih? Jangan-jangan kamu suka sama dia?!” Luna mencurigaiku. “Nggak mungkin kan
Del??” Luna tampak shock.
“Nggak lah
Lun! Aku cuma kasihan sama dia!” aku membela diri.
“Oh. Iya,
memang kasihan dia itu. Dia itu yatim piatu, tinggalnya di panti asuhan. Nggak
nyangka kamu sebaik itu sama orang, aku yang kenal sama dia aja biasa-biasa
aja...ckckck,”
“Benarkah?”
aku terkejut lagi setelah mengetahui fakta kedua, bahwa Dhani adalah penghuni
panti asuhan. Dan sejak itu aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Aku juga
merasa bodoh kenapa aku harus mengkhawatirkan orang yang tidak terlalu
kukenal.
Tapi anak
laki-laki itu benar-benar berbeda. Aku seakan tidak bisa membiarkannya
menderita, aku ingin menolongnya. Tubuhku dikuasai oleh perasaan ingin
melindungi yang amat sangat. Walaupun aku perempuan, yang secara kodrat bukan
pelindung laki-laki.
Esoknya,
aku bertekad untuk mengikuti Dhani pulang, diam-diam tentunya. Aku sudah
memberitahu Mama kalau aku akan pulang sore karena ada kerja kelompok. Alasan
klise yang cukup ampuh supaya aku tidak dijemput dan rencanaku berhasil. Aku
juga hanya ingin tahu di mana dia tinggal, itu saja.
Dhani juga
tidak melihatku berjalan di belakangnya. Dia berjalan sendirian seperti biasa
dan aku mengikutinya sampai masuk gang. Mungkin di dekat sini tempatnya. Kukira
semua akan berjalan lancar, sampai akhirnya aku melihat gerombolan anak SMP
yang kemarin menghadang Dhani.
Dari
pembicaraan mereka, aku tahu kalau mereka telah dihukum oleh sekolahnya akibat
perkelahian waktu itu. Mereka marah dan melampiaskannya pada Dhani. Salah satu
dari mereka mencengkeram kerah baju Dhani sambil memaki-maki dan tangan satunya
siap memukul. Dhani dipukul hingga jatuh. Orang itu lalu akan memukul lagi.
Teman-temannya bersorak sorai. Aku tahu sekarang kenapa Dhani tidak ingin
kejadian itu diketahui sekolah karena gerombolan berandalan ini pasti akan
balas dendam, tapi ternyata orang lain mengetahuinya dan ini tidak bisa
dihindarkan.
“Hentikan!”
kataku dari belakang. “Kenapa kalian selalu mengganggunya! Dasar pengecut
kalian semua!” aku bersiap dengan kuda-kuda dan tangan yang mengepal.
Sebenarnya aku sudah belajar taekwondo sejak SD, melawan mereka bukan masalah
untukku.
Mereka
tertawa mengejekku. Setidaknya mereka berhenti menganiaya Dhani untuk sesaat.
“Anak ini lagi! Hajar saja bro!” kata salah satu dari mereka.
“Nggak
peduli kamu cewek atau cowok, kalo berani nantang ya harus dihadapi!”
Aku jelas
lebih pendek dari anak kelas tiga SMP. Dengan mudahnya dia memegang tanganku
hingga tidak bisa bergerak, tapi kakiku ini dengan mudahnya menendang perutnya
hingga terjatuh dan meringis kesakitan.
“Hey,
berhenti! Apa-apaan kalian ribut di sini!” seseorang memergoki kami. Aku agak
terkejut, tapi senang juga, berandal itu lalu pergi seketika melihatnya datang.
“Kamu nggak
papa nak? Ngapain kamu sama mereka? Mereka itu anak yang sering tawuran di
dekat sini,” kata bapak itu. Untunglah, aku kira aku juga akan dimarahi karena
berkelahi. “Nggak papa pak. Dhan, kamu nggak papa kan?” aku segera melihat
keadaan Dhani yang memegangi wajahnya yang kena pukul. Ia belum berdiri sejak
terjatuh tadi. “Sini aku lihat lukanya,” aku mencoba menarik tangannya.
“Pergi
kamu!” bentaknya sambil mendorongku hingga jatuh. Ia lalu lari. Aku
mengejarnya. Aku tahu dia marah karena aku selalu ikut campur masalahnya. Aku
juga menyalahkan diriku sendiri kenapa begini, kenapa begitu, kenapa, dan
kenapa. Tidak ada waktu untuk itu! Aku harus mengejarnya, setidaknya untuk
minta maaf.
Aku sampai pada sebuah lahan kosong dengan
beberapa rumah yang belum selesai dibangun dan sengaja ditinggalkan, mirip
padang rumput yang tidak rata dan banyak batu-batu di sana sini. Ini seperti
tempat orang-orang membuang material bangunan yang dibongkar. Aku melihat Dhani
duduk di tanah yang mirip bukit kecil dengan rumput dan semak yang tumbuh tak
beraturan. Dihadapannya juga hanya rumput-rumput yang tumbuh tinggi. Di sini
sangat sepi, hanya suara angin dan terik matahari.
Ia menangis
tersedu-sedu.
“Tidak ada
yang menyayangiku, tidak ada yang menginginkan aku. Semua orang membenciku.
Tidak ada gunanya aku hidup!” katanya dengan jelas seolah ia memang berbicara
denganku yang berdiri di belakangnya, di antara semak-semak yang membuatku
gatal. Aku tidak berani bicara. Aku benar-benar bingung saat aku tahu dia
menangis di sini.
“Lebih baik
aku mati saja!” seketika itu ia mengambil batu besar yang berserakan di
dekatnya, bersiap memukul dirinya sendiri. “BODOH! Mau apa kamu!” aku bergerak
cepat dengan menyerangnya hingga jatuh. Tak lupa aku memberi pukulan di
wajahnya tanpa ampun. Sudah lengkap lukanya, di pipi kiri karena berandal tadi,
dan di pipi kanan dariku. “Kamu pikir kalau kamu mati kamu bisa bahagia! JANGAN
JADI ORANG YANG LEMAH!” teriakku keras-keras. “Kenapa kamu selalu ikut campur
urusanku! Apa pedulimu kalau aku mati!” teriaknya lebih keras lagi.
“Oh, jadi
kamu benar-benar ingin mati! Baiklah, aku yang akan membunuhmu!” aku
lalu memukulnya lagi hingga ia tak berteriak-teriak lagi. Aku tidak benar-benar
akan membunuhnya. Aku hanya mengancamnya. Setelah itu aku kakiku terasa lemas
dan tidak mampu berdiri, aku lalu berlutut di rerumputan yang membuat gatal
itu. Dan aku menangis juga. Aku merasa bersalah sudah memukulnya. Apa bedanya
aku dengan berandalan tadi?
Beberapa
menit berlalu. Aku sudah berhenti menangis, dan duduk sambil memeluk lututku
membelakangi Dhani. Dhani diam sejak tadi. Ia menatap hamparan rerumputan
dengan hampa. “Kenapa kamu menolongku?” terdengar suara darinya, tapi aku tidak
terlalu mendengarnya. “Apa?” aku bertanya.
“Kenapa?
Kenapa kamu selalu menolongku? Bukankah kita bukan teman.” Dhani bicara tanpa
menoleh.
“Apa
menolong itu butuh alasan? Wajarkan kalau orang menolong orang lain? Dasar
aneh! Sudah! Aku mau pulang!” aku berdiri.
“Heh,”
katanya lagi.
“Apa lagi
hah? O, iya. Kalau kamu ingin mati lagi, dengan senang hati aku akan
membunuhmu, sampai jumpa!”
“Heh!”
“Apa sih?!”
benar-benar membuat emosi jiwa manusia ini.
“Thanks.”
Aku
terdiam. Dalam hati aku senang sudah menemaninya beberapa menit yang emosional
ini. Dia mungkin memang sudah ditakdirkan untuk bertemu denganku beberapa hari
yang lalu. Tuhan memang akan mempertemukan orang-orang yang akan menjadi
penting bagimu di masa depan walau tak kau sadari sekarang, dan itu benar! Aku
memang telah membuktikannya sebelas tahun kemudian. Takdir itu memang ada.

No comments:
Post a Comment