Saturday, June 25, 2011

MY QUESTION


Langit sudah mulai menghitam. Suhu udara menjadi lebih dingin. Hembusan angin menggoyangkan dedaunan di pohon. Beberapa yang sudah kering terlepas dari ranting dan tergeletak di tanah mengotori jalan. Lampu taman pun dinyalakan petugas taman kota. Lampu yang menjadi tanda bagi anak-anak kecil yang biasa bermain di sana di sore hari untuk pulang ke rumahnya masing-masing.
Biarpun hari menjelang malam, apalagi dengan suhu udara sedingin ini, ia malah tetap berada di taman. Sudah sejak siang tadi ia berkeliaran di kota tanpa arah, berusaha meminta makan ke kedai-kedai di pinggir jalan, bahkan beberapa restoran pun ia datangi dan hasilnya hanya sumpah serapah pemilik kedai. Perutnya tetap kosong.
Dengan perasaan lapar yang menggila juga rasa lelah yang mendera, ia berbaring di kursi taman yang panjang. Kepalanya menengadah ke langit memandang bulan dan bintang yang sudah mulai terlihat.
Ia menghela napas. Memikirkan nasib dirinya yang terlunta-lunta tanpa kenal siapapun di tempat yang baginya asing ini. Berhari-hari ia harus menahan lapar dan menahan dingin. Ia menutup matanya. Tak ada gunanya mengeluh, toh hal seperti ini sudah biasa bagi orang sepertinya.
Saat matanya terpejam itulah ia terbayang makanan seperti mi dengan saus tomat yang rasanya dingin dan aneh. “Hm.. apa sebaiknya aku datang ke sana lagi ya? Ah, wanita itu akan membunuhku kalau aku…eh tapi ...” ia terbangun dari tidurnya. Entah apa yang terpikirkan olehnya. Ia seperti berpikir keras. “Wanita itu …sepertinya aku pernah dengar namanya…mungkinkah dia…?” dan malam itupun ia tidur sambil memikirkan berbagai rencana di kepalanya.
***

Orion? Nama yang aneh, tapi menurutku itu keren. Seperti nama rasi bintang, atau aku juga pernah baca, entah apa aku benar ya, orion adalah nama zodiak ketiga belas. Penampilannya sangat berantakan dan tidak terurus. Sebenarnya tingkahnya menyebalkan, tapi tidak tahu kenapa aku sedikit penasaran pada sosok ini. Terutama peristiwa di tengah jalan yang sangat tidak masuk akal itu.
Semua buku-buku yang berserakan dihadapanku tak bisa mengalihkan pikiranku menjauh dari seorang Orion. Tawanya yang riang masih bergaung di telinga, juga tingkahnya yang aneh saat melihat mobil berseliweran di jalan atau melihat televisi yang dipajang. Ia seperti tidak berasal dari bumi.
Pelan-pelan kugoreskan pensilku yang tumpul ke sebuah kertas yang seharusnya kupenuhi dengan angka-angka. Aku tidak tertarik pada angka dan rumus itu. Bahkan jari jemariku ingin menggambar Orion. Setengah jam kemudian, jadilah sosok berambut hitam lurus yang tak pernah disisir apalagi keramas itu, lengkap dengan coat hijau lumutnya yang lusuh, celana jeans kusam (baru ingat aku dia pakai jeans), matanya yang tajam, juga senyumnya itu.
Aku lelah. Aku memejamkan mata, mencoba sedikit menghambat rasa penasaran yang semakin lama semakin mengganggu saja. Setelah gelap yang kulihat, tiba-tiba semua beubah menjadi suasana taman dengan banyak anak kecil. Aku merasa tubuhku memendek dan tanganku menjadi kecil. Apa aku menjadi liliput sekarang? Kulihat aku seukuran dengan anak-anak kecil yang bermain itu.
Ini taman kanak-kanak. Sebuah tempat yang disetting agar selalu penuh keceriaan, padahal itu semua hanya bohong belaka. Seperti ilusi. Mereka bermain, dan aku hanya duduk sendiri memamndang mereka, yang tak pernah sekalipun mengajakku.. Tapi es krim coklat yang hampi leleh inilah temanku yang paling setia. Ia tak pernah marah meski aku menelannya sedikit demi sedikit.
“Hey! Pergi kamu! Ini kan tempatku,…” kata seorang anak perempuan yang rambutnya dikuncir dua kiri kanan. “Aku yang lebih dulu di sini,”
“Tapi ini tempatku dari kemarin tahu!” kata anak itu lagi dengan gaya khas anak manja yang menyebalkan. “Tidak mau!” aku bersikeras. Takkan kubiakan ada yang menggangguku. Tapi anak perempuan ini terus berteriak-teriak memaksa aku pergi. Tanpa pikir panjang aku mengibaskan tangan kiriku ke arahnya, dan ajaibnya ia seperti terdorong ke belakang dan akhinrya terjungkal sepeti gerakan roll belakang. Aku kaget. Tapi ingin tertawa.
Anak perempuan itu menangis sejadi-jadinya. Kunciran rambutnya hampir terlepas. Aku jadi kasihan padanya, sampai lupa apa yang sebenanya aku lakukan. Lalu Ibu Guru menghampirinya dan berusaha meredakan tangisnya. Anak itu terus menunjuk-nunjukku sambil berteriak-teriak.
“Shea, ayo minta maaf,” kata Ibu Guru berusaha sabar. “Tapi aku tidak memukulnya Bu Guru,” aku membela diri tanpa rasa bersalah. “Tadi Ibu lihat kamu mendorongnya, ayo minta maaf!”
“Nggak mau!” dan aku lari. Semenjak kejadian itu anak-anak kecil seusiaku menjauhiku karena takut. Lalu yang kuingat aku pindah ke kota lain bersama Mama. Tapi tetap saja sikap anak-anak kecil sana sama saja. Aku bahkan sempat takut pada diriku sendiri. Kekuatan apa itu sebenarnya.
Bayangan-bayangan masa kecilku yang sempat membuatku takut pada tanganku sendiri itu tiba-tiba munul lagi dalam mimpi, memaksaku bernostalgia pada kenangan buruk, bahkan suara anak peempuan yang kubuat menangis itu malah terngiang lagi. Aku benci ini, Aku benci. Sampai kulihat lukisan pensil yang kubuat tadi, terlihat senyum Orion yang seolah mengeti masalahku sambil bersabda, “Sesungguhnya, hanya orang gila-lah yang mengerti jalan pikiran orang sinting!”
Aku sangat yakin Orion paham ini semua. Mungkin yang bisa menelaah masalahku hanya orang-orang abnormal seperti dia. Dulu aku bahkan berpikir Orion adalah seniman gila yang sekarang bangkrut dan menjadi gelandangan, tapi tiba-tba aku berpikir dia adalah paranormal, seorang dukun eksentrik yang bisa melihat masa depan
Di mana Orion berada sekarang? Aku tidak tahu di mana ia tinggal. Aku yakin dia tuna wisma jadi tak ada rumah baginya kecuali jalanan. Aku tidak tahu di mana ia biasa berseliweran. Aku juga bingung dari mana harus mulai mencarinya. Sungguh tidak terbayangkan, dulu aku berusaha menghindarinya, dan ternyata sekarang aku yang mencarinya.
Sudah hampir lima hari aku berseilweran di jalan tiap pulang sekolah. Tapi tidak pernah ada tanda-tanda kehidupannya. Aku bertanya pada tuna wisma di pinggir jalan dengan menjelaskan ciri-ciri Orion, tetap saja tidak ada yang mengaku melihat orang seperti itu.
Aku menyerah. Rasanya aku hanya tertular kegilaan Orion saja hingga pikiranku menjadi irasional. Aku hentikan saja kegilaan ini dan mlai hidup seperti biasa.
“Kemarin kita sekelas pegi ke pantai lho. Rugi kamu nggak ikut. Pantainya sepi banget. cuma ada kita sekelas, dunia serasa milik kita saja..” cerita Ferro yang selalu menemaniku dalam perjalanan menuju gerbang sekolah akhir-akhir ini. “Oh ya?” Aku merespon tanpa minat.
“Aku yakin kau pasti menyukainya, makanya suatu saat nanti kamu harus ikut,”
“Akan kupikirkan,”
Kakiku terhenti tiba-tiba setelah kumelihat sosok yang tidak asing lagi di gerbang. Orang itu sedang bersama beberapa anak laki-laki yang sepertinya masih kelas satu. “Kau tahu tidak? Dia seperti ini lho...” tanyanya pada murid kelas satu itu sambil menggerakkan tangannya. “Siapa maksudmu sih, aku tidak mengerti,” jawab yang berkacamata. “Heh, masa kau tidak tahu sih, mungkin ia mencari nenek sihir itu,” ujar temannya yang berjaket putih. “Kau mencari nenek sihir?” tanya yang berkacamata.
“ Nenek sihir?Apa maksud kalian?” ia terlihat bingung.
“Itu dia di sana.” Salah satu dari mereka lurus menunjukku sampai aku sedikit kaget. Itu Orion yang selama ini aku cari-cari sekarang hidup kembali! Padahal aku sudah mulai ingin hidup normal, sekarang lagi-lagi aku mencium aroma kegilaan yang akan ia hembuskan padaku.
Orion masih sama seperti dua minggu yang lalu. Kostum yang ia kenakan tidak berubah sama sekali. Bau tidak sedap sudah pasti merebak ke mana-mana. Aku berani taruhan kalau Orion tak penah mandi seumur hidupnya.
“Hahahay... akhirnya kumenemukanmu juga!” katanya setelah menghampiriku. Aku speechless melihatnya muncul kembali. Apalagi ini kan masih di sekolah, bisa-bisa pandangan negatif tentangku merebak lagi.
“Siapa kau?” ujar Ferro ada Orion. Raut wajahnya menunjukkan ketidaksukaan. “Hey, kau sendiri siapa?” jawab Orion eenaknya.
“Orang asing sepertimu tidak boleh masuk ke halaman sekolah, mengerti!”
Aku mengangguk-angguk setuju. Entah kenapa aku merasa malu disapa oleh Orion yang seperti itulah wujudnya.
“Aku tidak ada urusan denganmu, aku ingin bicara padanya,” Orion masih saja bersikeras. Tapi aku tidak tahan lagi dengan tingkahnya yang masih saja menyebalkan, apalagi orang-orang sudah mulai memandang ke arahku. “Pergi sana!” teriakku. Ferro bahkan mendorongnya agar menjauh darikui. “Eh, apa-apaan ini?”
“Dia bilang kau harus pergi, apa perlu kupanggil satpam?!” bentak Ferro.
“Anak muda kau tidak usah ikut campur. Hey kau, apa benar kau yang namanya Shea?” tanya Orion sambil melepaskan tangan Ferro yang masih berusaha mencegahnya. Aku diam saja pura-pura tidak dengar.
“Ada hal penting yang ingin kutanyakan padamu,”
Aku berpikir. Mungkin inilah kesempatan terakhirku bisa bertemu Orion sebelum ia menghilang lagi. Pertanyaan-pertanyaan yang dulu sempat mengganjal otakku kembali memaksaku membuka banyak lembaran lama yang perlu dipertanyakan. Rasa penasaran pada sosok Orion.
“ Eh, Fer, aku ada perlu dengannya. Biarkan saja.” kataku kemudian, Ferro hanya memandang penuh tanya. “Tapi dia akan mengganggumu She, masa kamu kenal oang ini?”
“Biarkan saja Fer.”
Aku mengajak Orion pegi, sementara itu Orion mengucapkan selamat tinggal pada Ferro dengan bersiul-siul di depan wajahnya sambil meremehkan, tak lupa tertawa juga.
Kami berdua memasuki sebuah restoran kecil di dekat sekolah. Orion tiba-tiba tak mau bicara sebelum aku memberinya makan. Melihat tubuhnya yang semakin tak terurus dan lunglai itu aku jadi sedikit kasihan. Aku membaca daftar menu yang disodorkan pelayan yang berdiri di samping meja. “Hoaa... tempat ini bagus sekali.. wah ada benda itu.. hahay...” ujar Orion sambil memandangi seluruh isi restoran dngan gaya anehnya. Sementara si pelayan mengamatinya, antara merasa jijik, juga agak takut.
“Hentikan! Kau membuatku malu tahu!” Aku kesal.
“Maaf, maaf, ” katanya tanpa rasa bersalah. Beberapa menit kemudian makanan yang tersaji mulai memenuhi mulutnya. “Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?” aku sangat penasaran sampai tak ingin makan. “Hahahaha..aku penasaran sekali, kenapa mereka memanggilmu nenek sihir? Menurutku kau tidak terlihat tua,”
“Ck. Tidak usah pedulikan orang-orang itu, dasar bodoh! Aku bukan nenek sihir tahu!”
“Hahay, kalau kau nenek sihir, berarti boleh dong aku jadi kakek sihirnya?”
Aku menendang kakinya di bawah meja. Bahkan aku juga ingin memecahkan piring ke kepalanya. “Kau menemuiku hanya untuk pembicaraan tidak bermutu ini?”
“Hey, sabar dulu. Kau ini jahat sekali. Pantas saja mereka memanggilmu nenek sihir! Ternyata Pak Tua itu benar!” Orion menggelengkan kepalanya.
“Kakek tua apa? Sudah cukup. Jadi siapa kau sebenarnya? Kau muncul begitu saja dihadapanku waktu itu dan dari sikapmu yang selalu terheran-heran saat melihat benda-benda di sekitarmu, aku yakin akau bukan penduduk bumi.”
“Memang bukan. Aku tidak berasal dari dunia yang sama denganmu. Aku datang ke sini hanya untuk mncari Shea Gardner, benar itu kau?”
Aku semakin tertarik walaupun sedikit emosi. Apalagi mendengarnya berasal dari dunia lain, omong kosong macam apa ini? Tapi Orion terlihat serius, tak seperti biasanya. “Aku datang untuk meminta bantuanmu. Aku ingin meminjam tongkatmu,” ujar Orion. Dia benar-bnar berubah, mata elangnya yang tajam itu serasa menusuk mataku. “Tongkat? Tongkat apa?”
“Tidak usah pura-pura tidak tahu, kita sama-sama penyihir di sini, tak ada yang perlu disembunyikan lagi.”
“Apa maksudmu kita sama-sama penyihir?”
“Eh, jadi kau tidak tahu? Apa aku salah orang ya? Ah sial! Pak Tua itu menipuku! Baiklah, baiklah. Aku pergi saja. Maaf mengganggumu,” Orion beranjak dari kursinya meninggalkan meja penuh piring kotor. Aku tak tinggal diam. Kutarik jaketnya dan menonjok mukanya yang sok tidak berdosa itu. Seluruh isi restoran tertuju padaku dan Orion. “Kau mau pergi begitu saja hah? Jelaskan semuanya padaku!” kataku sambil mencengkeram kerahnya.



WHO'S THAT BOY


Pembicaraan siang kemarin dengan Mama masih terngiang di kepalaku. Bahkan Mamaku sendiri juga sama dengan orang-orang di sekolah, menyamakan diriku dengan penyihir. Bahkan Mama sampai membawa-bawa Ayah segala, apa sedemikian bencinya Mama pada Ayah sampai ia berkata begitu? Ah terserahlah. Aku bukan penyihir dan aku juga benci penyihir. Aku takkan merubah diriku, aku lebih suka menjadi diriku sendiri, harusnya mereka bisa menerimaku apa adanya, seperti yang kulakukan selama ini.
Kegalauanku semakin menjadi-jadi akhir-akhir ini. Semua materi pelajaran sekolah tak ada yang masuk ke kepalaku. Lagi-lagi aku mengacuhkan guru seperti biasanya dengan memandang hampa ke luar jendela.
Ternyata hari ini, Ferro menunda jadwal pulangku lagi. Ia memintaku tetap di sekolah untuk menyelesaikan materi presentasi. Aku mencoba berhenti bermuka masam dan bersikap biasa saja. Tapi aku tidak terlalu suka dengan kelompok yang terbentuk dengan hasil undian ini.
Ada Ferro sebagai ketua kelompok, pasti suka menyuruh-nyuruh seenaknya. Dan yang paling tidak mengenakkan, ada Vita dan dua sahabat karibnya, Jessi dan Lola di kelompok ini . Mereka selalu bertiga kemanapun berada. Tidak sepertiku yang sendirian. Tapi siapapun anggota kelompokku, aku mencoba bersikap baik kali ini. “Kalian berempat kerjakan duluan presentasinya, aku ada rapat OSIS, nanti aku kembali,” kata Ferro. Enak saja, kataku dalam hati. Vita juga protes. “Enak banget kamu ya?” katanya ketus. “Itu yang kamu pakai laptop siapa kalau bukan punyaku? Makanya aku pasti balik ke sini, kalian dulu yang kerjakan, ” ujar Ferro membela diri. Ferro ini aktif di OSIS. Biasalah orang seperti dia, eksis.
Vita menyerah. Tugas kelompok ini diserahkan besok. Jadi dia harus mengerjakan hari ini. Ferro pergi. Kini tinggal aku dan tiga cewek itu. Aku diam saja sedari tadi. Kulihat mereka bertiga sedikit sebal, apalagi Vita. Masa gara-gara insiden kemarin? Hampir tiga puluh menit berlalu dengan sepi-sepi saja. Garing.
“Eh, Shea, kamu ikut ekskul apa?” akhirnya Lola bicara padaku. Mungkin untuk mencairkan suasana. “Nggak ikut.” Jawabku, masih dengan gayaku yang biasa. Lola memaksakan senyumnya dan mencoba mencari pertanyaan lain. “Eh, kita bertiga laper nih. Kita ke kantin dulu ya?” kata Jessi padaku. Juga dengan senyum yang dipaksakan. “Ya,” jawabku. “Jaga laptopnya,” ujar Vita. Mereka bertiga lalu keluar.
Aku mengotak-atik presentasi. Tapi aku bosan. Sudah lima belas menit berlalu tanpa ada hiburan. Kukeluarkan Ipod dan mulai mencari-cari lagu untuk didengar. Ah, aku bosan! Sudah lama mereka bertiga tidak kembali, aku juga baru sadar mereka juga membawa tasnya.
Aku semakin penasaran apa yang dilakukan mereka. Aku memutuskan untuk menyusul ke kantin saja. Ternyata mereka masih ada. Dengan pendengaranku yang tajam aku mendengarkan pembicaraan mereka dari balik tembok.
“Males banget sekelompok sama nenek sihir itu,” kata Shea. “Untung kalian kuajak ke sini, kalau nggak, mati gaya kalian!” kata Jessi. “Tapi kayaknya dia baik,” kata Lola dengan polosnya. “Baik apanya? Nggak suka aku sama dia!” Vita menyanggah. “Nggak usah ikut kerja kelompok yuk, kabur aja. Biar Ferro sama si nenek itu yang ngerjain!” usul Jessi yang diamini Vita. Lola akhirnya ikut-ikutan.
Aku mendengar jelas pembicaraan mereka. Terlalu jelas. Aku marah. Juga sedih. Kenapa mereka begitu jahat. Mereka mahkluk rendahan yang tak pantas jadi temanku! Aku kembali ke kelas, mengambil tas dan pulang seperti mereka bertiga. Kulihat laptop milik Ferro yang masih menyala, apa iya aku tinggal begitu saja? Ah, masa bodoh dengan laptop. Untung aku tidak membantingnya.
Aku berjalan di lorong sekolah dengan langkah cepat, sambil menunduk, juga dengan jaket seperti biasa. Lagi-lagi aku menabrak orang. Kebiasaanku yang ini selalu membuatku kesal sendiri. “Shea? Mau ke mana?” ternyata Ferro yang kutabrak. Aku bingung mau menjelaskan. Jangan-jangan Ferro marah karena aku melalaikan tugas. Aku tidak mau menatap wajahnya, dan terus berjalan lurus. Ferro masih berdiri memantung di lorong, melihat kepergianku.
---
Aku tidak naik bus untuk pulang. Aku sebenarnya juga tidak berencana pulang. Aku memilih berjalan ke mana pun yang kumau sampai kekesalanku ini reda. Tidak peduli seberapa panas dan seramai apa kota hari ini. Aku jalan saja. Lupakan orang-orang di sekolah tadi, mereka yang penyihir, bukan aku!
Aku masuk dikerumunan pejalan kaki yang akan menyeberang jalan. Mereka tinggi dan aku pendek sehingga aku seperti liliput diantara mereka. Kami, gerombolan orang yang ingin menyeberang jalan sedang menunggu lampu merah menghentikan mobil-mobil yang lalu lalang itu.
Yap, lampu sudah merah. Kami berjalan pelan-pelan melewati zebra cross kuning ini. Entah kenapa gerombolan ini berjalan lambat-lambat dan aku terhimpit diantara mereka. Aku hanya bisa melihat punggung-punggung mereka, sampai kulihat ada kilatan cahaya dan lagi-lagi aku menabrak seseorang dengan keras.
Aku terjatuh di tengah zebra cross. Gerombolan itu sudah sampai ke seberang sementara aku masih di sini dengan manusia aneh yang kutabrak itu. Tapi ada yang aneh. Sepertinya dia jatuh dari langit. Kerumunan itu sudah sampai di seberang jalan. Sedangkan aku harus terjatuh di tengah jalan raya gara-gara satu orang ini. Entah bagaimana, dia bisa muncul begitu saja dan bertabrakan denganku lumayan keras.
“Hey!” teriakku pada sosok itu. Setelah kulihat lebih jelas, ternyata dia adalah seorang cowok bermata sipit. Kulitnya juga putih. Ia mengenakan jaket berwarna hijau tua yang panjang sampai ke lututnya. Tak lupa ia juga memakai penutup kepala jaketnya, Rambut hitamnya yang lurus agak berantakan. Dia seperti gelandangan.
“Ah, maafkan aku, aku tidak sengaja. Di mana ini?” katanya dengan sedikit bingung. Ia sudah berdiri dihadapanku. Jadi, dia pura-pura amnesia sekarang ? Sebaiknya aku tidak perlu memperpanjang masalah dengan oang seperti ini. Lagipula beberapa detik lagi lampu kembali hijau dan mobil-mobil itu kembali berjalan.
Aku tak mempedulikannya dan segera menuju ke seberang. Aku tidak tahu cowok aneh itu terkena amnesia atau memang bodoh, ia masih berdiri kebingungan di tengah jalan, padahal mobil-mobil dan kendaraan lainnya sudah berjalan seperti 70 detik yang lalu. Aksinya yang menyebalkan menjadi sasaran kemarahan pengguna jalan. Mereka tak segan membunyikan klakson keras-keras dan memaki.
Memang dia sedikit gila. Ia malah terkagum-kagum dengan mobil-mobil yang lewat, masih di zebra cross tadi. Jangan-jangan dia pasien rumah sakit jiwa yang kabur. Aku merasa kasihan, dengan susah payah menghindari kendaraan yang melaju agak kencang, aku sampai di tempat yang tadi, mnggandeng tangannya, dan membawanya ke tepi dengan susah payah.
“Wow! Tempat ini benar-benar keren!” kata cowok itu sambil tertawa lebar. Ia sama sekali tidak menyadari perbuatannya yang mengganggu tadi. “Kau gila ya?!” bentakku. Dia behenti tertawa dan ganti menatapku. Ia tersenyum. “Yah.. begitulah yang mereka katakan tentang aku,”
Aku semakin yakin orang ini tidak waras. Bicara dengannya pun tidak akan nyambung dan hanya menguras emosi saja. Aku melanjutkan perjalan emosionalku, sedangkan cowok itu kulihat sedang mengagumi etalase toko televisi sembil tertawa aneh.

Hari ini tugas presentasi itu dikumpulkan. Memang harus mempresentasikanya, tapi masih menunggu giliran dua kelompok. Itu artinya giliranku minggu depan. Maksudku giliran kelompokku.
Aku tidak berkomunikasi pada tiga cewek yang meninggalkan tugas dengan tidak bertanggung jawab itu. Sedangkan Ferro, entah apa yang dipikirkannya, mungkin kesal pada kami yang meninggalkan laptopnya sendirian di kelas, yang pasti ia tidak banyak menyuruh-nyuruh hari ini. Biasanya ia cerewet pada petugas piket.
Aku jadi merasa besalah pada Ferro, entah kenapa, yang jelas untuk petama kalinya aku merasa bersalah pada seseorang. Aku meninggalkan laptop sembarangan, tidak menyelesaikan tugas, juga yang waktu itu di lorong sekolah. Aku meninggalkannya begitu saja tanpa bicara.
Pulang sekolah kali ini aku berjalan lambat-lambat. Aku akan berusaha tidak menabrak orang lagi karena aku tidak mau bertemu orang gila seperti kemarin. “Hey!” seseorang menepuk pundakku. Ternyata Ferro. Aku menoleh padanya dengan ekspresi yang menunjukkan perntanyaan, “Ada apa?”
“Jangan melihatku seperti itu. Kau membuatku takut, tahu!” katanya sambil tersenyum. Mungkin ini hanya awalan sebelum dia marah-marah soal kemarin. Oke-oke, aku akan dengarkan semua omelannya. Memang sebagian adalah salahku juga, dan sebagian besar lainnya adalah kesalahan geng cewek itu. Tapi Ferro tidak melanjutkan pembicaraan, dia hanya berjalan di sebelahku sambil memandangi sepatunya.
“Em… soal kemain itu, aku..” aku mencoba bicara. Aku sungguh merasa tidak enak. “Oh, power point-nya sudahku copy ke CD, sudah dikumpulkan juga,” ujar Ferro tenang.
“Jadi kamu yang selesaikan semuanya?”
“Nggak banyak kok. Lagian aku juga yang salah, waktunya kerja kelompok, malah seenaknya pergi.”
“Tapi kan kamu memang ada rapat OSIS,”
“Ah, nggak papa, beneran deh. Nyantai aja. cuma, kalau bisa, laptopku jangan ditinggal di kelas gitu ya, mana sekolah sepi banget, jadi rawan hilang.”
“Nah itu, aku minta maaf soal itu Fer,”
“Jadi kamu ikut nggak?”
“Ikut apa?” aku bingung. Ini masih soal laptop atau dia mengajakku kerja kelompok lagi. “Masa nggak tahu sih? Hari Minggu kita ke pantai,”
Oh iya, kelasku memang berencana ke pantai. Kelasku ini memang seperti pecinta alam, sering berpergian bersama ke tempat-tempat, seperti gunung, danau, air terjun, pantai, atau ke desa apa. Tidak perlu ditanya, aku memang bukan pecinta alam.
“Oh, soal itu aku…”
“Kalau kamu nggak ada transport kan bisa ikut mobilku, atau yang lain. Seru lho! Ayo ikut!” Ferro terlihat bersemangat. Tapi tetap saja kata-katanya seperti sedang menyuruhku piket.
“Eh.. gimana ya. Aku ada acara. Kapan-kapan aja,” aku pakai alasan biasa untuk menolak. Untung saja Ferro tidak memaksaku lagi. “Ya sudahlah kalau kamu memang ada acara. Tapi acara jalan-jalan kita selanjutnya kamu nggak boleh nggak ikut lho!”
“Tapi aku..” aku mau beralasan lagi, Ferro malah lari ke tempat parkir menemui teman-temannya yang biasa nongkrong di situ.
Biar sajalah. Tidak ada salahnya aku ikut mereka jalan-jalan. Apalagi yang mengajakku secara khusus adalah Ferro, yang jujur saja, sebenarnya aku tidak sudi bilang begini, ia merupakan anggota kelompok cowok-cowok populer di sekolah. Dia bicara padaku sebentar saja, pasti sudah ada yang iri di belakangku.
Hari ini aku tidak naik bus lagi. Setelah kemarin jalan kaki sampai ke rumah, aku jadi ketagihan. Apalagi cuaca sekarang yang mendung, jadi tidak tidak terlalu panas. Hanya resiko hujan saja.
Omong-imong, bagaimana ya keadaan orang gila itu? Semoga ia sudah ditangkap petugas rumah sakit jiwa sebelum keonaran tejadi lebih parah. Kasihan, masih muda, lumayan cakep lagi, harus mengalami hal seperti itu. Ckck!
“Hoy!” seseorang menepuk pundakku lagi. Kali ini lebih keras. Jangan-jangan penhipnotis yang merampok barang orang. Aku sudah ketakutan saja, sampai kutahu orang itu adalah oang gila yang kemarin. “Eh, kamu yang kemarin menolongku kan?” katanya, masih dengan sedikit tertawa aneh.
“Kau lagi!” aku bersiap memukulnya. Benar-benar menyebalkan harus bertemu dengan dia. “Hey, hey, sabar dulu. Aku tidak berniat jahat,” katanya santai.
“Apa maumu?” kataku kasar. “E, aku, aku.. kau tahulah aku tidak punya siapa-siapa di sini,”
Aku mendengarkannya sambil berusaha sabar.
“Aku sudah seminggu nggak makan, jadi..”
“Dasar bodoh! Memangnya aku siapamu hah?!” bentakku sambil menghadiahkan tinjuku yang tadi tertahan. Bisa-bisanya dia meminta makan dengan tampang cengengesan seperti itu. Bagaimanapun juga, ia memang terihat lemas. Jadi kuberi saja uang sedikit.Aku jadi gampang kasihan sekarang. “Awas kau, kalau masih mengikutiku, akan kulaporkan polisi!” ancamku sambil berlalu.
Aku sudah hampir sampai ke rumah susunku yang kumuh. Sepanjang perjalanan aku harus menahan emosi sejadi-jadinya. Bagaimana tidak, cowok aneh itu masih saja mengikutiku dengan wajah memelas. “Baiklah, ayo ikut aku! Tapi setelah ini kau harus pergi.” ujarku pada akhinya.
Cowok aneh itu makan dengan lahap. Benar-benar orang kelaparan. Padahal aku hanya memberinya spaghetti sisa kemarin yang masih ada di kulkas. Aku memandanginya dengan kesal sekaligus kasihan.
“Rasanya aneh, tapi tidak apa, aku makan saja ya semua!” katanya masih dengan mulut penuh makanan. “Heh, terserah kau saja! Setelah itu cepat pergi! Jangan sampai Mamaku tahu aku membawa gelandangan ke sini!”
Terlambat. Mama sudah masuk ke dalam rumah. Ia terkejut melihat ada orang selain aku di sini, apalagi ia makan selahap itu. Aku bingung menjelaskan ini semua.
“Wah, ada tamu rupanya. Siapa ini Shea?” kata Mama ramah. “Eh, dia.. temanku.” jawabku sekenanya.
“Apa? Jadi kau temannya Shea?” tanya Mama. Cowok aneh itu. Mengangguk tanpa berpikir. “Dia diusir dari rumah, sudah berhari-hari ia tidak makan, jadi aku mengajaknya makan di sini,” kataku lagi.
“Ya ampun kasihan sekali! Tapi Mama senang, akhirnya kamu punya teman juga. Hey, kamu harus jadi teman Shea yng baik yah..” sifat aneh Mama yang suka heboh sendiri itu muncul. “Ya ampun! Ini kan makanan kemarin-kemarin… masa temanmu kamu kasih makanan ini sih? Kamu mau meracuni dia? Tunggu aku akan masak lagi, “
“Oke,oke!” jawab orang dihadapanku itu.
“Ah, tidak perlu Ma. Dia sudah mau pulang. Ayo kuantar kamu pulang,” aku mencoba bersikap amah sambil menariknya dari meja makan. “Ayo pergi atau kubunuh kau!” bisikku.
Akhinya cowok aneh ini mau juga kuajak pergi. Walaupun tidak curiga sama sekali, aku tidak mau bertanya aneh-aneh tentang orang ini. Tapi aku jadi teringat kejadian kemarin. Cowok ini muncul begitu saja dihadapanku, entah bagaimana caranya. Sebelumnya aku juga melihat kilatan cahaya.
“Terima kasih ya.. Jujur saja, makanan tadi rasanya aneh. Tapi aku suka! Hahay!” dia mulai tertawa lagi. “Hey, rasanya ada yang aneh denganmu.” ujarku dengan tampang curiga. “Awalnya ada kilatan cahanya dan kau muncul begitu saja dihadapanku,”
“Oh, itu. Aku jelaskan kau juga tidak akan mengerti. Jadi lupakan saja.” Kali ini ia sedikit tegang.
“Benar juga,” kataku pada diriku sendiri. Mana mungkin ada orang yang muncul dari kilatan cahaya. Sungguh tidak masuk akal. Jadi kesimpulannya, apa aku yang sebenarnya gila?
Cowok berjaket itu berjalan menjauhiku. Tangannya melambai tanda selamat tinggal. Tiba-tiba aku sedikit penasaran padanya, sebaiknya aku bertanya sekarang sebelum ia benar-benar menghilang. “Hey! Siapa kau sebenarnya?”
Ia berhenti melangkah dan menoleh padaku. Matanya yang sipit itu terlihat benar-benar tajam sepeti mata elang. “Siapa aku? Aku ini… Orion!”

I'M NOT A WITCH


Pukul satu siang dari pojok kelas. Matahari masih bersinar terang dengan cahaya menyilaukannya. Debu-debu berterbangan dihembus angin. Daun-daun berguguran. Sudah daun keempat belas yang gugur. Aku menghitungnya sedari tadi. Memandang hampa ke luar jendela, tanpa berkedip.
"Jadi, tujuan dibentuknya ASEAN adalah..." terdengan suara Pak Ron, guru sejarah. Pak Ron sudah memenuhi papan tulis putih dengan tinta hitam yang baunya tercium sampai ke bangku belakang. Hampi satu jam Pak Ron mengoceh tentang organisasi-organisasi di dunia. Dan kau tahu, aku sama sekali bosan. "Shea?" Pak Ron menyebut namaku. Lamunanku buyar seketika. Tapi kuingat sudah lima belas helai daun yang gugur. Aku menatapnya saja, sungguh aku tidak tahu apa pertanyaannya. "Apa tujuan ASEAN?" kata Pak Ron memperjelas pertanyaan.
"Bekerja sama di berbagai bidang?" jawabku singkat tanpa minat. Kulihat sekilas Pak Ron tampak malas mendengar jawabanku. "Kamu sakit?" tanyanya lagi.
Aku menggeleng. Aku benci pada orang-orang yang menganggapku sakit, padahal aku sehat-sehat saja dan dari mana bisa ada kesimpulan bahwa aku sakit hanya dengan melihat penampilanku. Yeah, aku memang sedang malas hari ini jadi aku terlihat lemas. Tapi yang lemas di ruangan ini bukan cuma aku kan.
Bel berdering beberapa menit kemudian dan Pak Ron tak melanjutkan ASEAN-nya denganku. Itu artinya tanda pulang telah tiba. Kulihat murid-murid berhamburan dari jendela. Debu-debu itu semakin beterbangan. Pak Ron meninggalkan kelas. Aku pun akan menyusulnya. Kurapikan semua buku dan alat tulis di meja. Tak lupa kupakai jaket hitamku dan penutup kepalanya. Aku sudah lelah dengan segala keramaian sekolah ini, jadi berjalan cepat-cepat sampai ke rumah adalah wajar. Aku menerobos kerumunan orang-orang yang menghalangi jalanku untuk keluar dari kelas panas ini.
DUK! Rupanya aku menabrak seseorang dan kudengar ia mulai mengomel. Aku menabrak Vita, salah seorang penghuni kelasku. Kenapa harus orang ini yang kutabrak.Aku juga menyesali kenapa dia tidak jatuh terjerembab hingga tak sadarkan diri saja. Aku benci mendengar suaranya. Kerumunan orang-orang tadi juga memandangiku seolah aku adalah alien.
"Jalan hati-hati dong! Lihat nih bajuku basah!" katanya. Ternyata aku menabraknya saat sedang minum. Kulihat bajunya sedikit. Tapi salahnya sendiri kenapa minum di depanku. "Sorry," ujarku pelan. Aku tak mau memperpanjang urusan.
"Makanya buka dong jaketmu! Kalo lihat tuh ke depan, bukan ke bawah!" tangannya yang panjang membuka penutup kepala jaketku dengan paksa. Rambut Vita yang panjang dan kulitnya putih kini terlihat jelas di mataku. Tangan kirinya masih memegang sebotol air mineral. Dan yang paling jelas adalah wajahnya yang kesal padaku. Menurutku ini hanya masalah konyol yang tidak penting. Perjalanan keluar kelasku harus terhenti satu menit hanya karena noda air mineral? Aku menyesal minta maaf.
Aku juga benci pada pandangan menghinanya padaku. Tanpa basa-basi lagi aku lalu merebut botolnya dan menyiramkan isinya ke mukanya. Aku tersenyum puas. "Ah! Apa yang kau lakukan nenek sihir?!" teriaknya histeris. Apa katamu? Nenek sihir? Baiklah, aku takkan mengampunimu! Tanganku bersiap mencabut tiap helai rambutnya.
"Hey, cepat duduk! Kalian belum boleh pulang!" ujar seseorang yang tiba-tiba berada di antara kita berdua. Seketika itu aku sadar kalau aku hanya berkhayal sejak tadi. Vita masih berdiri dihadapanku dan bajunya pun sudah kering.
"Belum boleh pulang?" Vita mengalihkan sasarannya. Kali ini aku juga setuju dengan kata-kata Vita. "Masih belum! Kita belum selesai membahas rencana jalan-jalan kelas kita," katanya tegas. Dia adalah Ferro, ketua kelasku. Memang dia adalah ketua kelas yang rajin dan berdedikasi tinggi. Namun kebiasaannya menunda jadwal pulang sungguh menyebalkan. Apalagi ini cuma soal jalan-jalan yang pasti aku tidak sudi ikut. Oh come on, jalan-jalan? Inikan baru bulan keempat di semester satu?
Akhirnya aku pun harus menunda kepulanganku sambil mendengarkan orang-orang kelasku membahas pelesir mereka dengan emosi yang tertahan. Kalau kalian ingin jalan-jalan, pergi saja sendiri! Aku tidak akan ikut!
Aku sampai lupa pada wanita menyebalkan tadi. Dia menyebutku nenek sihir. Itu sudah jadi julukanku sejak pertama kali masuk sekolah dulu, dan sekarang julukan itu masih saja melekat padaku di bangku kelas XI SMA. Mungkin karena aku memang lebih suka menyendiri. Aku juga tidak suka tersenyum. Hm, sekarang aku sedikit mengerti kenapa tak ada yang mau berteman dengan penyihir sepertiku.
Dan aku juga tidak terlalu membutuhkan mereka. Terserah mereka mau bilang nenek sihir, atau apa, aku akan menjadi diriku yang ini. Aku juga tidak pernah sakit hati mendengar itu semua, ya karena mereka bukan orang yang penting dalam hidupku.
Rapat kelas selesai. Hari Minggu besok orang-orang itu berencana pergi ke pantai (aku suka menyebut teman sekelasku sebagai ‘orang-orang’) dan tentu saja aku tidak akan ikut. Aku tahu kalau mereka sudah menduga aku tidak akan berminat pada kegiatan seperti itu, tapi tetap saja aku harus duduk di sana selama setengah jam. Menyebalkan!
Sekolah sudah agak sepi. Tapi bukan berarti tak ada orang sama sekali. Masih banyak yang masih makan di kantin. Beberapa murid laki-laki masih nongkrong di tempay parkir, dan kulihat ada Ferro. Beberapa murid perempuan juga terlihat berkerumun di dekat gerbang sekolah. Guru-guru sudah lama pulang. Beginilah keadaan sekolah di jam pulang.
Kulihat penjual es krim masih setia berjualan di depan sekolah. Aku ingin beli. Tapi masih ada beberapa murid perempuan kelas satu yang mengantri. Tapi aku benar-benar ingin es krim, entah kenapa. Jadi kuputuskan ikut mengantri dengan mereka.
“Waduh, ada nenek sihir,” bisik salah satu diantara mereka. Telingaku memang terlalu tajam untuk mendengar suara bisik-bisik di keramaian seperti ini. Aku pura-pura tuli saja. “Ayo, cepet,” katanya lagi pada teman-temannya yang seperti terlihat panik. Tak lama kemudian mereka pun pergi dan aku mendapatkan es krim cokelatku yang lezat.
Sampai aku berjalan menjauh dari penjual es krim, lalu duduk di halte, sampai kemudian aku naik ke bus kota, aku tahu cewek-cewek masih memandangiku dan sedikit bergosip sambil menikmati es krim.
Aku kesal. Memangnya apa yang kuperbuat sampai aku diperlakukan seperti itu. Apalagi mereka murid kelas satu! Hey, aku kakak kelas kalian!
Pikiranku lalu menerawang ke peristiwa saat kelas satu dulu. Saat itu aku baru sekitar lima bulan masuk ke SMA. Dan aku juga sudah berdandan ala rocker emo yang membuatku terkesan misterius, sama seperti sekarang. Rambut hitam panjang dan agak bergelombang di bagian bawah, lalu dengan poni yang hampir menyamarkan mataku, juga jaket hitam. Seperti itulah aku. Nah waktu itu ada berita menghebohkan seluruh sekolah. Berita ini sempat masuk ke koran lokal segala karena SMA-ku yang lumayan terkenal. Waktu itu ada dua murid laki-laki kelas tiga yang kepergok membawa ganja di tasnya. Entah bagaimana bisa ketahuan, yang jelas mereka berdua akhirnya dikeluarkan dari sekolah. Dan sekolah tidak mau kecolongan lagi. Selama bertahun-tahun sekolah yakin tak ada muridnya yang berurusan dengan narkotika, namun peristiwa itu membuat SMA-ku ini ragu.
Mulailah dilakukan razia ke kelas-kelas. Dan yang paling menyakitkan, aku dicurigai! Padahal saat razia sudah terbukti aku tidak membawa barang yang aneh-aneh, tapi aku tetap dipanggil ke kantor BK untuk diinterogasi. Namun pihak sekolah akhirnya melepaskan aku.
Bisik-bisik yang kudengar, dari pendengaranku yang tajam, aku dicurigai karena penampilanku yang seperti orang mengisap ganja lalu pergi ke sekolah seperti biasa. Ada juga yang bilang kalau aku suka diam-diam menghisap rokok di belakang sekolah. Dan yang lebih meyakinkan, ada yang bilang penampilanku mirip dengan dua murid yang membawa ganja itu. Benar-benar payah orang yang menilai orang lain dari penampilannya saja. Mungkin sekumpulan cewek-cewek tadi masih mencurigaiku.
Aku sampai di rumah. Bukan rumah sih, tapi apartemen. Tapi karena tidak mewah, atau malah kumuh, maka sering disebut rumah susun. Bau masakan mengepul di dalam rumah. Rupanya hari ini Mama sedang bersemangat mencoba resep masakan baru. Baguslah. Setelah berbagai hal menyebalkan di sekolah, makan siang menjadi segalanya bagiku.
“Wah, sudah pulang rupanya,” kata Mama dari dapur. Aku tidak menjawab dan masuk ke kamar. “Bagaimana harimu?” tanya Mama lagi. Sekarang aku sudah di depan TV. “Biasa aja,”
“Nah, kalau begitu tebak apa menu hari ini?”
Apaan sih. Aku diam dan serius menonton TV. Terserah Mama mau masak apa. Mamaku memang ceria. Berbeda jauh denganku yang seperti tak punya emosi kadang-kadang, kalaupun ber-emosi, pasti marah-marah. Biarpun terkadang aku tidak terlalu peduli dengan pembicaraan Mama, ia juga tidak peduli rupanya.
“Spagheti!” ujar Mama sambil memegang sepiring spagheti yang masih beruap panas ke meja makan. Tanpa banyak bicara, karena memang tidak perlu, aku segera menuju meja makan. Kami berdua menikmati makan siang ini dengan senang, seperti biasa. Ya, kami memang tinggal berdua di apartemen murah ini sejak lima tahun lalu. Sebelumnya kami sering berpindah-pindah kontrakan.
Ini Mamaku. Seperti yang kubilang, ia selalu ceria apapun keadaannya. Mungkin seharusnya aku menirunya. Ia bekerja di sebuah salon terkemuka di kota ini. Dengan uang hasil jerih payahnya-lah aku hidup.
Kalau Ayah aku tidak tahu. Entah aku punya atau tidak. Harusnya sih punya. Mama tidak pernah beritahu ke mana Ayah pergi. Aku mengira kalau mereka bercerai, atau Ayah memilih tinggal dengan wanita lain. Bahkan aku curiga dia meninggal. Tapi semua kecurigaanku tak pernah terbukti dan aku hanya bertanya-tanya sampai sekarang.
“Enak kan?” tanya Mama, dengan semangat. “Enak.” jawabku jujur. “Nah kalau enak, senyum dong,” goda Mama lagi. Aku diam tidak peduli. “Kamu memang harus belajar tersenyum. Bagaimana kamu bisa punya teman kalau begini terus?” Aku mengunyah spagheti sambil pura-pura tidak dengar.
“Kau seperti Ayahmu, penyihir,” untuk pertama kalinya Mama menyebut ayah. Aku berhenti mengunyah dan menatap Mama dengan pandangan sebal sekaligus penasaran. “Penyihir?”
“Kalau sifatmu seperti itu terus, kamu seperti nenek sihir,”
“Nenek sihir?” emosiku mulai naik lagi.
“Seperti Ayahmu,” ujar Mama tenang, tak peduli aku mulai marah.
“Aku bukan penyihir!”
Dan aku pun masuk ke kamar sambil membanting pintu.


 
;