Langit sudah mulai menghitam. Suhu udara menjadi lebih dingin. Hembusan angin menggoyangkan dedaunan di pohon. Beberapa yang sudah kering terlepas dari ranting dan tergeletak di tanah mengotori jalan. Lampu taman pun dinyalakan petugas taman kota. Lampu yang menjadi tanda bagi anak-anak kecil yang biasa bermain di sana di sore hari untuk pulang ke rumahnya masing-masing.
Biarpun hari menjelang malam, apalagi dengan suhu udara sedingin ini, ia malah tetap berada di taman. Sudah sejak siang tadi ia berkeliaran di kota tanpa arah, berusaha meminta makan ke kedai-kedai di pinggir jalan, bahkan beberapa restoran pun ia datangi dan hasilnya hanya sumpah serapah pemilik kedai. Perutnya tetap kosong.
Dengan perasaan lapar yang menggila juga rasa lelah yang mendera, ia berbaring di kursi taman yang panjang. Kepalanya menengadah ke langit memandang bulan dan bintang yang sudah mulai terlihat.
Ia menghela napas. Memikirkan nasib dirinya yang terlunta-lunta tanpa kenal siapapun di tempat yang baginya asing ini. Berhari-hari ia harus menahan lapar dan menahan dingin. Ia menutup matanya. Tak ada gunanya mengeluh, toh hal seperti ini sudah biasa bagi orang sepertinya.
Saat matanya terpejam itulah ia terbayang makanan seperti mi dengan saus tomat yang rasanya dingin dan aneh. “Hm.. apa sebaiknya aku datang ke sana lagi ya? Ah, wanita itu akan membunuhku kalau aku…eh tapi ...” ia terbangun dari tidurnya. Entah apa yang terpikirkan olehnya. Ia seperti berpikir keras. “Wanita itu …sepertinya aku pernah dengar namanya…mungkinkah dia…?” dan malam itupun ia tidur sambil memikirkan berbagai rencana di kepalanya.
***
Orion? Nama yang aneh, tapi menurutku itu keren. Seperti nama rasi bintang, atau aku juga pernah baca, entah apa aku benar ya, orion adalah nama zodiak ketiga belas. Penampilannya sangat berantakan dan tidak terurus. Sebenarnya tingkahnya menyebalkan, tapi tidak tahu kenapa aku sedikit penasaran pada sosok ini. Terutama peristiwa di tengah jalan yang sangat tidak masuk akal itu.
Semua buku-buku yang berserakan dihadapanku tak bisa mengalihkan pikiranku menjauh dari seorang Orion. Tawanya yang riang masih bergaung di telinga, juga tingkahnya yang aneh saat melihat mobil berseliweran di jalan atau melihat televisi yang dipajang. Ia seperti tidak berasal dari bumi.
Pelan-pelan kugoreskan pensilku yang tumpul ke sebuah kertas yang seharusnya kupenuhi dengan angka-angka. Aku tidak tertarik pada angka dan rumus itu. Bahkan jari jemariku ingin menggambar Orion. Setengah jam kemudian, jadilah sosok berambut hitam lurus yang tak pernah disisir apalagi keramas itu, lengkap dengan coat hijau lumutnya yang lusuh, celana jeans kusam (baru ingat aku dia pakai jeans), matanya yang tajam, juga senyumnya itu.
Aku lelah. Aku memejamkan mata, mencoba sedikit menghambat rasa penasaran yang semakin lama semakin mengganggu saja. Setelah gelap yang kulihat, tiba-tiba semua beubah menjadi suasana taman dengan banyak anak kecil. Aku merasa tubuhku memendek dan tanganku menjadi kecil. Apa aku menjadi liliput sekarang? Kulihat aku seukuran dengan anak-anak kecil yang bermain itu.
Ini taman kanak-kanak. Sebuah tempat yang disetting agar selalu penuh keceriaan, padahal itu semua hanya bohong belaka. Seperti ilusi. Mereka bermain, dan aku hanya duduk sendiri memamndang mereka, yang tak pernah sekalipun mengajakku.. Tapi es krim coklat yang hampi leleh inilah temanku yang paling setia. Ia tak pernah marah meski aku menelannya sedikit demi sedikit.
“Hey! Pergi kamu! Ini kan tempatku,…” kata seorang anak perempuan yang rambutnya dikuncir dua kiri kanan. “Aku yang lebih dulu di sini,”
“Tapi ini tempatku dari kemarin tahu!” kata anak itu lagi dengan gaya khas anak manja yang menyebalkan. “Tidak mau!” aku bersikeras. Takkan kubiakan ada yang menggangguku. Tapi anak perempuan ini terus berteriak-teriak memaksa aku pergi. Tanpa pikir panjang aku mengibaskan tangan kiriku ke arahnya, dan ajaibnya ia seperti terdorong ke belakang dan akhinrya terjungkal sepeti gerakan roll belakang. Aku kaget. Tapi ingin tertawa.
Anak perempuan itu menangis sejadi-jadinya. Kunciran rambutnya hampir terlepas. Aku jadi kasihan padanya, sampai lupa apa yang sebenanya aku lakukan. Lalu Ibu Guru menghampirinya dan berusaha meredakan tangisnya. Anak itu terus menunjuk-nunjukku sambil berteriak-teriak.
“Shea, ayo minta maaf,” kata Ibu Guru berusaha sabar. “Tapi aku tidak memukulnya Bu Guru,” aku membela diri tanpa rasa bersalah. “Tadi Ibu lihat kamu mendorongnya, ayo minta maaf!”
“Nggak mau!” dan aku lari. Semenjak kejadian itu anak-anak kecil seusiaku menjauhiku karena takut. Lalu yang kuingat aku pindah ke kota lain bersama Mama. Tapi tetap saja sikap anak-anak kecil sana sama saja. Aku bahkan sempat takut pada diriku sendiri. Kekuatan apa itu sebenarnya.
Bayangan-bayangan masa kecilku yang sempat membuatku takut pada tanganku sendiri itu tiba-tiba munul lagi dalam mimpi, memaksaku bernostalgia pada kenangan buruk, bahkan suara anak peempuan yang kubuat menangis itu malah terngiang lagi. Aku benci ini, Aku benci. Sampai kulihat lukisan pensil yang kubuat tadi, terlihat senyum Orion yang seolah mengeti masalahku sambil bersabda, “Sesungguhnya, hanya orang gila-lah yang mengerti jalan pikiran orang sinting!”
Aku sangat yakin Orion paham ini semua. Mungkin yang bisa menelaah masalahku hanya orang-orang abnormal seperti dia. Dulu aku bahkan berpikir Orion adalah seniman gila yang sekarang bangkrut dan menjadi gelandangan, tapi tiba-tba aku berpikir dia adalah paranormal, seorang dukun eksentrik yang bisa melihat masa depan
Di mana Orion berada sekarang? Aku tidak tahu di mana ia tinggal. Aku yakin dia tuna wisma jadi tak ada rumah baginya kecuali jalanan. Aku tidak tahu di mana ia biasa berseliweran. Aku juga bingung dari mana harus mulai mencarinya. Sungguh tidak terbayangkan, dulu aku berusaha menghindarinya, dan ternyata sekarang aku yang mencarinya.
Sudah hampir lima hari aku berseilweran di jalan tiap pulang sekolah. Tapi tidak pernah ada tanda-tanda kehidupannya. Aku bertanya pada tuna wisma di pinggir jalan dengan menjelaskan ciri-ciri Orion, tetap saja tidak ada yang mengaku melihat orang seperti itu.
Aku menyerah. Rasanya aku hanya tertular kegilaan Orion saja hingga pikiranku menjadi irasional. Aku hentikan saja kegilaan ini dan mlai hidup seperti biasa.
“Kemarin kita sekelas pegi ke pantai lho. Rugi kamu nggak ikut. Pantainya sepi banget. cuma ada kita sekelas, dunia serasa milik kita saja..” cerita Ferro yang selalu menemaniku dalam perjalanan menuju gerbang sekolah akhir-akhir ini. “Oh ya?” Aku merespon tanpa minat.
“Aku yakin kau pasti menyukainya, makanya suatu saat nanti kamu harus ikut,”
“Akan kupikirkan,”
Kakiku terhenti tiba-tiba setelah kumelihat sosok yang tidak asing lagi di gerbang. Orang itu sedang bersama beberapa anak laki-laki yang sepertinya masih kelas satu. “Kau tahu tidak? Dia seperti ini lho...” tanyanya pada murid kelas satu itu sambil menggerakkan tangannya. “Siapa maksudmu sih, aku tidak mengerti,” jawab yang berkacamata. “Heh, masa kau tidak tahu sih, mungkin ia mencari nenek sihir itu,” ujar temannya yang berjaket putih. “Kau mencari nenek sihir?” tanya yang berkacamata.
“ Nenek sihir?Apa maksud kalian?” ia terlihat bingung.
“Itu dia di sana.” Salah satu dari mereka lurus menunjukku sampai aku sedikit kaget. Itu Orion yang selama ini aku cari-cari sekarang hidup kembali! Padahal aku sudah mulai ingin hidup normal, sekarang lagi-lagi aku mencium aroma kegilaan yang akan ia hembuskan padaku.
Orion masih sama seperti dua minggu yang lalu. Kostum yang ia kenakan tidak berubah sama sekali. Bau tidak sedap sudah pasti merebak ke mana-mana. Aku berani taruhan kalau Orion tak penah mandi seumur hidupnya.
“Hahahay... akhirnya kumenemukanmu juga!” katanya setelah menghampiriku. Aku speechless melihatnya muncul kembali. Apalagi ini kan masih di sekolah, bisa-bisa pandangan negatif tentangku merebak lagi.
“Siapa kau?” ujar Ferro ada Orion. Raut wajahnya menunjukkan ketidaksukaan. “Hey, kau sendiri siapa?” jawab Orion eenaknya.
“Orang asing sepertimu tidak boleh masuk ke halaman sekolah, mengerti!”
Aku mengangguk-angguk setuju. Entah kenapa aku merasa malu disapa oleh Orion yang seperti itulah wujudnya.
“Aku tidak ada urusan denganmu, aku ingin bicara padanya,” Orion masih saja bersikeras. Tapi aku tidak tahan lagi dengan tingkahnya yang masih saja menyebalkan, apalagi orang-orang sudah mulai memandang ke arahku. “Pergi sana!” teriakku. Ferro bahkan mendorongnya agar menjauh darikui. “Eh, apa-apaan ini?”
“Dia bilang kau harus pergi, apa perlu kupanggil satpam?!” bentak Ferro.
“Anak muda kau tidak usah ikut campur. Hey kau, apa benar kau yang namanya Shea?” tanya Orion sambil melepaskan tangan Ferro yang masih berusaha mencegahnya. Aku diam saja pura-pura tidak dengar.
“Ada hal penting yang ingin kutanyakan padamu,”
Aku berpikir. Mungkin inilah kesempatan terakhirku bisa bertemu Orion sebelum ia menghilang lagi. Pertanyaan-pertanyaan yang dulu sempat mengganjal otakku kembali memaksaku membuka banyak lembaran lama yang perlu dipertanyakan. Rasa penasaran pada sosok Orion.
“ Eh, Fer, aku ada perlu dengannya. Biarkan saja.” kataku kemudian, Ferro hanya memandang penuh tanya. “Tapi dia akan mengganggumu She, masa kamu kenal oang ini?”
“Biarkan saja Fer.”
Aku mengajak Orion pegi, sementara itu Orion mengucapkan selamat tinggal pada Ferro dengan bersiul-siul di depan wajahnya sambil meremehkan, tak lupa tertawa juga.
Kami berdua memasuki sebuah restoran kecil di dekat sekolah. Orion tiba-tiba tak mau bicara sebelum aku memberinya makan. Melihat tubuhnya yang semakin tak terurus dan lunglai itu aku jadi sedikit kasihan. Aku membaca daftar menu yang disodorkan pelayan yang berdiri di samping meja. “Hoaa... tempat ini bagus sekali.. wah ada benda itu.. hahay...” ujar Orion sambil memandangi seluruh isi restoran dngan gaya anehnya. Sementara si pelayan mengamatinya, antara merasa jijik, juga agak takut.
“Hentikan! Kau membuatku malu tahu!” Aku kesal.
“Maaf, maaf, ” katanya tanpa rasa bersalah. Beberapa menit kemudian makanan yang tersaji mulai memenuhi mulutnya. “Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?” aku sangat penasaran sampai tak ingin makan. “Hahahaha..aku penasaran sekali, kenapa mereka memanggilmu nenek sihir? Menurutku kau tidak terlihat tua,”
“Ck. Tidak usah pedulikan orang-orang itu, dasar bodoh! Aku bukan nenek sihir tahu!”
“Hahay, kalau kau nenek sihir, berarti boleh dong aku jadi kakek sihirnya?”
Aku menendang kakinya di bawah meja. Bahkan aku juga ingin memecahkan piring ke kepalanya. “Kau menemuiku hanya untuk pembicaraan tidak bermutu ini?”
“Hey, sabar dulu. Kau ini jahat sekali. Pantas saja mereka memanggilmu nenek sihir! Ternyata Pak Tua itu benar!” Orion menggelengkan kepalanya.
“Kakek tua apa? Sudah cukup. Jadi siapa kau sebenarnya? Kau muncul begitu saja dihadapanku waktu itu dan dari sikapmu yang selalu terheran-heran saat melihat benda-benda di sekitarmu, aku yakin akau bukan penduduk bumi.”
“Memang bukan. Aku tidak berasal dari dunia yang sama denganmu. Aku datang ke sini hanya untuk mncari Shea Gardner, benar itu kau?”
Aku semakin tertarik walaupun sedikit emosi. Apalagi mendengarnya berasal dari dunia lain, omong kosong macam apa ini? Tapi Orion terlihat serius, tak seperti biasanya. “Aku datang untuk meminta bantuanmu. Aku ingin meminjam tongkatmu,” ujar Orion. Dia benar-bnar berubah, mata elangnya yang tajam itu serasa menusuk mataku. “Tongkat? Tongkat apa?”
“Tidak usah pura-pura tidak tahu, kita sama-sama penyihir di sini, tak ada yang perlu disembunyikan lagi.”
“Apa maksudmu kita sama-sama penyihir?”
“Eh, jadi kau tidak tahu? Apa aku salah orang ya? Ah sial! Pak Tua itu menipuku! Baiklah, baiklah. Aku pergi saja. Maaf mengganggumu,” Orion beranjak dari kursinya meninggalkan meja penuh piring kotor. Aku tak tinggal diam. Kutarik jaketnya dan menonjok mukanya yang sok tidak berdosa itu. Seluruh isi restoran tertuju padaku dan Orion. “Kau mau pergi begitu saja hah? Jelaskan semuanya padaku!” kataku sambil mencengkeram kerahnya.
