Pembicaraan siang kemarin dengan Mama masih terngiang di kepalaku. Bahkan Mamaku sendiri juga sama dengan orang-orang di sekolah, menyamakan diriku dengan penyihir. Bahkan Mama sampai membawa-bawa Ayah segala, apa sedemikian bencinya Mama pada Ayah sampai ia berkata begitu? Ah terserahlah. Aku bukan penyihir dan aku juga benci penyihir. Aku takkan merubah diriku, aku lebih suka menjadi diriku sendiri, harusnya mereka bisa menerimaku apa adanya, seperti yang kulakukan selama ini.
Kegalauanku semakin menjadi-jadi akhir-akhir ini. Semua materi pelajaran sekolah tak ada yang masuk ke kepalaku. Lagi-lagi aku mengacuhkan guru seperti biasanya dengan memandang hampa ke luar jendela.
Ternyata hari ini, Ferro menunda jadwal pulangku lagi. Ia memintaku tetap di sekolah untuk menyelesaikan materi presentasi. Aku mencoba berhenti bermuka masam dan bersikap biasa saja. Tapi aku tidak terlalu suka dengan kelompok yang terbentuk dengan hasil undian ini.
Ada Ferro sebagai ketua kelompok, pasti suka menyuruh-nyuruh seenaknya. Dan yang paling tidak mengenakkan, ada Vita dan dua sahabat karibnya, Jessi dan Lola di kelompok ini . Mereka selalu bertiga kemanapun berada. Tidak sepertiku yang sendirian. Tapi siapapun anggota kelompokku, aku mencoba bersikap baik kali ini. “Kalian berempat kerjakan duluan presentasinya, aku ada rapat OSIS, nanti aku kembali,” kata Ferro. Enak saja, kataku dalam hati. Vita juga protes. “Enak banget kamu ya?” katanya ketus. “Itu yang kamu pakai laptop siapa kalau bukan punyaku? Makanya aku pasti balik ke sini, kalian dulu yang kerjakan, ” ujar Ferro membela diri. Ferro ini aktif di OSIS. Biasalah orang seperti dia, eksis.
Vita menyerah. Tugas kelompok ini diserahkan besok. Jadi dia harus mengerjakan hari ini. Ferro pergi. Kini tinggal aku dan tiga cewek itu. Aku diam saja sedari tadi. Kulihat mereka bertiga sedikit sebal, apalagi Vita. Masa gara-gara insiden kemarin? Hampir tiga puluh menit berlalu dengan sepi-sepi saja. Garing.
“Eh, Shea, kamu ikut ekskul apa?” akhirnya Lola bicara padaku. Mungkin untuk mencairkan suasana. “Nggak ikut.” Jawabku, masih dengan gayaku yang biasa. Lola memaksakan senyumnya dan mencoba mencari pertanyaan lain. “Eh, kita bertiga laper nih. Kita ke kantin dulu ya?” kata Jessi padaku. Juga dengan senyum yang dipaksakan. “Ya,” jawabku. “Jaga laptopnya,” ujar Vita. Mereka bertiga lalu keluar.
Aku mengotak-atik presentasi. Tapi aku bosan. Sudah lima belas menit berlalu tanpa ada hiburan. Kukeluarkan Ipod dan mulai mencari-cari lagu untuk didengar. Ah, aku bosan! Sudah lama mereka bertiga tidak kembali, aku juga baru sadar mereka juga membawa tasnya.
Aku semakin penasaran apa yang dilakukan mereka. Aku memutuskan untuk menyusul ke kantin saja. Ternyata mereka masih ada. Dengan pendengaranku yang tajam aku mendengarkan pembicaraan mereka dari balik tembok.
“Males banget sekelompok sama nenek sihir itu,” kata Shea. “Untung kalian kuajak ke sini, kalau nggak, mati gaya kalian!” kata Jessi. “Tapi kayaknya dia baik,” kata Lola dengan polosnya. “Baik apanya? Nggak suka aku sama dia!” Vita menyanggah. “Nggak usah ikut kerja kelompok yuk, kabur aja. Biar Ferro sama si nenek itu yang ngerjain!” usul Jessi yang diamini Vita. Lola akhirnya ikut-ikutan.
Aku mendengar jelas pembicaraan mereka. Terlalu jelas. Aku marah. Juga sedih. Kenapa mereka begitu jahat. Mereka mahkluk rendahan yang tak pantas jadi temanku! Aku kembali ke kelas, mengambil tas dan pulang seperti mereka bertiga. Kulihat laptop milik Ferro yang masih menyala, apa iya aku tinggal begitu saja? Ah, masa bodoh dengan laptop. Untung aku tidak membantingnya.
Aku berjalan di lorong sekolah dengan langkah cepat, sambil menunduk, juga dengan jaket seperti biasa. Lagi-lagi aku menabrak orang. Kebiasaanku yang ini selalu membuatku kesal sendiri. “Shea? Mau ke mana?” ternyata Ferro yang kutabrak. Aku bingung mau menjelaskan. Jangan-jangan Ferro marah karena aku melalaikan tugas. Aku tidak mau menatap wajahnya, dan terus berjalan lurus. Ferro masih berdiri memantung di lorong, melihat kepergianku.
---
Aku tidak naik bus untuk pulang. Aku sebenarnya juga tidak berencana pulang. Aku memilih berjalan ke mana pun yang kumau sampai kekesalanku ini reda. Tidak peduli seberapa panas dan seramai apa kota hari ini. Aku jalan saja. Lupakan orang-orang di sekolah tadi, mereka yang penyihir, bukan aku!
Aku masuk dikerumunan pejalan kaki yang akan menyeberang jalan. Mereka tinggi dan aku pendek sehingga aku seperti liliput diantara mereka. Kami, gerombolan orang yang ingin menyeberang jalan sedang menunggu lampu merah menghentikan mobil-mobil yang lalu lalang itu.
Yap, lampu sudah merah. Kami berjalan pelan-pelan melewati zebra cross kuning ini. Entah kenapa gerombolan ini berjalan lambat-lambat dan aku terhimpit diantara mereka. Aku hanya bisa melihat punggung-punggung mereka, sampai kulihat ada kilatan cahaya dan lagi-lagi aku menabrak seseorang dengan keras.
Aku terjatuh di tengah zebra cross. Gerombolan itu sudah sampai ke seberang sementara aku masih di sini dengan manusia aneh yang kutabrak itu. Tapi ada yang aneh. Sepertinya dia jatuh dari langit. Kerumunan itu sudah sampai di seberang jalan. Sedangkan aku harus terjatuh di tengah jalan raya gara-gara satu orang ini. Entah bagaimana, dia bisa muncul begitu saja dan bertabrakan denganku lumayan keras.
“Hey!” teriakku pada sosok itu. Setelah kulihat lebih jelas, ternyata dia adalah seorang cowok bermata sipit. Kulitnya juga putih. Ia mengenakan jaket berwarna hijau tua yang panjang sampai ke lututnya. Tak lupa ia juga memakai penutup kepala jaketnya, Rambut hitamnya yang lurus agak berantakan. Dia seperti gelandangan.
“Ah, maafkan aku, aku tidak sengaja. Di mana ini?” katanya dengan sedikit bingung. Ia sudah berdiri dihadapanku. Jadi, dia pura-pura amnesia sekarang ? Sebaiknya aku tidak perlu memperpanjang masalah dengan oang seperti ini. Lagipula beberapa detik lagi lampu kembali hijau dan mobil-mobil itu kembali berjalan.
Aku tak mempedulikannya dan segera menuju ke seberang. Aku tidak tahu cowok aneh itu terkena amnesia atau memang bodoh, ia masih berdiri kebingungan di tengah jalan, padahal mobil-mobil dan kendaraan lainnya sudah berjalan seperti 70 detik yang lalu. Aksinya yang menyebalkan menjadi sasaran kemarahan pengguna jalan. Mereka tak segan membunyikan klakson keras-keras dan memaki.
Memang dia sedikit gila. Ia malah terkagum-kagum dengan mobil-mobil yang lewat, masih di zebra cross tadi. Jangan-jangan dia pasien rumah sakit jiwa yang kabur. Aku merasa kasihan, dengan susah payah menghindari kendaraan yang melaju agak kencang, aku sampai di tempat yang tadi, mnggandeng tangannya, dan membawanya ke tepi dengan susah payah.
“Wow! Tempat ini benar-benar keren!” kata cowok itu sambil tertawa lebar. Ia sama sekali tidak menyadari perbuatannya yang mengganggu tadi. “Kau gila ya?!” bentakku. Dia behenti tertawa dan ganti menatapku. Ia tersenyum. “Yah.. begitulah yang mereka katakan tentang aku,”
Aku semakin yakin orang ini tidak waras. Bicara dengannya pun tidak akan nyambung dan hanya menguras emosi saja. Aku melanjutkan perjalan emosionalku, sedangkan cowok itu kulihat sedang mengagumi etalase toko televisi sembil tertawa aneh.
Hari ini tugas presentasi itu dikumpulkan. Memang harus mempresentasikanya, tapi masih menunggu giliran dua kelompok. Itu artinya giliranku minggu depan. Maksudku giliran kelompokku.
Aku tidak berkomunikasi pada tiga cewek yang meninggalkan tugas dengan tidak bertanggung jawab itu. Sedangkan Ferro, entah apa yang dipikirkannya, mungkin kesal pada kami yang meninggalkan laptopnya sendirian di kelas, yang pasti ia tidak banyak menyuruh-nyuruh hari ini. Biasanya ia cerewet pada petugas piket.
Aku jadi merasa besalah pada Ferro, entah kenapa, yang jelas untuk petama kalinya aku merasa bersalah pada seseorang. Aku meninggalkan laptop sembarangan, tidak menyelesaikan tugas, juga yang waktu itu di lorong sekolah. Aku meninggalkannya begitu saja tanpa bicara.
Pulang sekolah kali ini aku berjalan lambat-lambat. Aku akan berusaha tidak menabrak orang lagi karena aku tidak mau bertemu orang gila seperti kemarin. “Hey!” seseorang menepuk pundakku. Ternyata Ferro. Aku menoleh padanya dengan ekspresi yang menunjukkan perntanyaan, “Ada apa?”
“Jangan melihatku seperti itu. Kau membuatku takut, tahu!” katanya sambil tersenyum. Mungkin ini hanya awalan sebelum dia marah-marah soal kemarin. Oke-oke, aku akan dengarkan semua omelannya. Memang sebagian adalah salahku juga, dan sebagian besar lainnya adalah kesalahan geng cewek itu. Tapi Ferro tidak melanjutkan pembicaraan, dia hanya berjalan di sebelahku sambil memandangi sepatunya.
“Em… soal kemain itu, aku..” aku mencoba bicara. Aku sungguh merasa tidak enak. “Oh, power point-nya sudahku copy ke CD, sudah dikumpulkan juga,” ujar Ferro tenang.
“Jadi kamu yang selesaikan semuanya?”
“Nggak banyak kok. Lagian aku juga yang salah, waktunya kerja kelompok, malah seenaknya pergi.”
“Tapi kan kamu memang ada rapat OSIS,”
“Ah, nggak papa, beneran deh. Nyantai aja. cuma, kalau bisa, laptopku jangan ditinggal di kelas gitu ya, mana sekolah sepi banget, jadi rawan hilang.”
“Nah itu, aku minta maaf soal itu Fer,”
“Jadi kamu ikut nggak?”
“Ikut apa?” aku bingung. Ini masih soal laptop atau dia mengajakku kerja kelompok lagi. “Masa nggak tahu sih? Hari Minggu kita ke pantai,”
Oh iya, kelasku memang berencana ke pantai. Kelasku ini memang seperti pecinta alam, sering berpergian bersama ke tempat-tempat, seperti gunung, danau, air terjun, pantai, atau ke desa apa. Tidak perlu ditanya, aku memang bukan pecinta alam.
“Oh, soal itu aku…”
“Kalau kamu nggak ada transport kan bisa ikut mobilku, atau yang lain. Seru lho! Ayo ikut!” Ferro terlihat bersemangat. Tapi tetap saja kata-katanya seperti sedang menyuruhku piket.
“Eh.. gimana ya. Aku ada acara. Kapan-kapan aja,” aku pakai alasan biasa untuk menolak. Untung saja Ferro tidak memaksaku lagi. “Ya sudahlah kalau kamu memang ada acara. Tapi acara jalan-jalan kita selanjutnya kamu nggak boleh nggak ikut lho!”
“Tapi aku..” aku mau beralasan lagi, Ferro malah lari ke tempat parkir menemui teman-temannya yang biasa nongkrong di situ.
Biar sajalah. Tidak ada salahnya aku ikut mereka jalan-jalan. Apalagi yang mengajakku secara khusus adalah Ferro, yang jujur saja, sebenarnya aku tidak sudi bilang begini, ia merupakan anggota kelompok cowok-cowok populer di sekolah. Dia bicara padaku sebentar saja, pasti sudah ada yang iri di belakangku.
Hari ini aku tidak naik bus lagi. Setelah kemarin jalan kaki sampai ke rumah, aku jadi ketagihan. Apalagi cuaca sekarang yang mendung, jadi tidak tidak terlalu panas. Hanya resiko hujan saja.
Omong-imong, bagaimana ya keadaan orang gila itu? Semoga ia sudah ditangkap petugas rumah sakit jiwa sebelum keonaran tejadi lebih parah. Kasihan, masih muda, lumayan cakep lagi, harus mengalami hal seperti itu. Ckck!
“Hoy!” seseorang menepuk pundakku lagi. Kali ini lebih keras. Jangan-jangan penhipnotis yang merampok barang orang. Aku sudah ketakutan saja, sampai kutahu orang itu adalah oang gila yang kemarin. “Eh, kamu yang kemarin menolongku kan?” katanya, masih dengan sedikit tertawa aneh.
“Kau lagi!” aku bersiap memukulnya. Benar-benar menyebalkan harus bertemu dengan dia. “Hey, hey, sabar dulu. Aku tidak berniat jahat,” katanya santai.
“Apa maumu?” kataku kasar. “E, aku, aku.. kau tahulah aku tidak punya siapa-siapa di sini,”
Aku mendengarkannya sambil berusaha sabar.
“Aku sudah seminggu nggak makan, jadi..”
“Dasar bodoh! Memangnya aku siapamu hah?!” bentakku sambil menghadiahkan tinjuku yang tadi tertahan. Bisa-bisanya dia meminta makan dengan tampang cengengesan seperti itu. Bagaimanapun juga, ia memang terihat lemas. Jadi kuberi saja uang sedikit.Aku jadi gampang kasihan sekarang. “Awas kau, kalau masih mengikutiku, akan kulaporkan polisi!” ancamku sambil berlalu.
Aku sudah hampir sampai ke rumah susunku yang kumuh. Sepanjang perjalanan aku harus menahan emosi sejadi-jadinya. Bagaimana tidak, cowok aneh itu masih saja mengikutiku dengan wajah memelas. “Baiklah, ayo ikut aku! Tapi setelah ini kau harus pergi.” ujarku pada akhinya.
Cowok aneh itu makan dengan lahap. Benar-benar orang kelaparan. Padahal aku hanya memberinya spaghetti sisa kemarin yang masih ada di kulkas. Aku memandanginya dengan kesal sekaligus kasihan.
“Rasanya aneh, tapi tidak apa, aku makan saja ya semua!” katanya masih dengan mulut penuh makanan. “Heh, terserah kau saja! Setelah itu cepat pergi! Jangan sampai Mamaku tahu aku membawa gelandangan ke sini!”
Terlambat. Mama sudah masuk ke dalam rumah. Ia terkejut melihat ada orang selain aku di sini, apalagi ia makan selahap itu. Aku bingung menjelaskan ini semua.
“Wah, ada tamu rupanya. Siapa ini Shea?” kata Mama ramah. “Eh, dia.. temanku.” jawabku sekenanya.
“Apa? Jadi kau temannya Shea?” tanya Mama. Cowok aneh itu. Mengangguk tanpa berpikir. “Dia diusir dari rumah, sudah berhari-hari ia tidak makan, jadi aku mengajaknya makan di sini,” kataku lagi.
“Ya ampun kasihan sekali! Tapi Mama senang, akhirnya kamu punya teman juga. Hey, kamu harus jadi teman Shea yng baik yah..” sifat aneh Mama yang suka heboh sendiri itu muncul. “Ya ampun! Ini kan makanan kemarin-kemarin… masa temanmu kamu kasih makanan ini sih? Kamu mau meracuni dia? Tunggu aku akan masak lagi, “
“Oke,oke!” jawab orang dihadapanku itu.
“Ah, tidak perlu Ma. Dia sudah mau pulang. Ayo kuantar kamu pulang,” aku mencoba bersikap amah sambil menariknya dari meja makan. “Ayo pergi atau kubunuh kau!” bisikku.
Akhinya cowok aneh ini mau juga kuajak pergi. Walaupun tidak curiga sama sekali, aku tidak mau bertanya aneh-aneh tentang orang ini. Tapi aku jadi teringat kejadian kemarin. Cowok ini muncul begitu saja dihadapanku, entah bagaimana caranya. Sebelumnya aku juga melihat kilatan cahaya.
“Terima kasih ya.. Jujur saja, makanan tadi rasanya aneh. Tapi aku suka! Hahay!” dia mulai tertawa lagi. “Hey, rasanya ada yang aneh denganmu.” ujarku dengan tampang curiga. “Awalnya ada kilatan cahanya dan kau muncul begitu saja dihadapanku,”
“Oh, itu. Aku jelaskan kau juga tidak akan mengerti. Jadi lupakan saja.” Kali ini ia sedikit tegang.
“Benar juga,” kataku pada diriku sendiri. Mana mungkin ada orang yang muncul dari kilatan cahaya. Sungguh tidak masuk akal. Jadi kesimpulannya, apa aku yang sebenarnya gila?
Cowok berjaket itu berjalan menjauhiku. Tangannya melambai tanda selamat tinggal. Tiba-tiba aku sedikit penasaran padanya, sebaiknya aku bertanya sekarang sebelum ia benar-benar menghilang. “Hey! Siapa kau sebenarnya?”
Ia berhenti melangkah dan menoleh padaku. Matanya yang sipit itu terlihat benar-benar tajam sepeti mata elang. “Siapa aku? Aku ini… Orion!”

No comments:
Post a Comment