Saturday, June 25, 2011

I'M NOT A WITCH


Pukul satu siang dari pojok kelas. Matahari masih bersinar terang dengan cahaya menyilaukannya. Debu-debu berterbangan dihembus angin. Daun-daun berguguran. Sudah daun keempat belas yang gugur. Aku menghitungnya sedari tadi. Memandang hampa ke luar jendela, tanpa berkedip.
"Jadi, tujuan dibentuknya ASEAN adalah..." terdengan suara Pak Ron, guru sejarah. Pak Ron sudah memenuhi papan tulis putih dengan tinta hitam yang baunya tercium sampai ke bangku belakang. Hampi satu jam Pak Ron mengoceh tentang organisasi-organisasi di dunia. Dan kau tahu, aku sama sekali bosan. "Shea?" Pak Ron menyebut namaku. Lamunanku buyar seketika. Tapi kuingat sudah lima belas helai daun yang gugur. Aku menatapnya saja, sungguh aku tidak tahu apa pertanyaannya. "Apa tujuan ASEAN?" kata Pak Ron memperjelas pertanyaan.
"Bekerja sama di berbagai bidang?" jawabku singkat tanpa minat. Kulihat sekilas Pak Ron tampak malas mendengar jawabanku. "Kamu sakit?" tanyanya lagi.
Aku menggeleng. Aku benci pada orang-orang yang menganggapku sakit, padahal aku sehat-sehat saja dan dari mana bisa ada kesimpulan bahwa aku sakit hanya dengan melihat penampilanku. Yeah, aku memang sedang malas hari ini jadi aku terlihat lemas. Tapi yang lemas di ruangan ini bukan cuma aku kan.
Bel berdering beberapa menit kemudian dan Pak Ron tak melanjutkan ASEAN-nya denganku. Itu artinya tanda pulang telah tiba. Kulihat murid-murid berhamburan dari jendela. Debu-debu itu semakin beterbangan. Pak Ron meninggalkan kelas. Aku pun akan menyusulnya. Kurapikan semua buku dan alat tulis di meja. Tak lupa kupakai jaket hitamku dan penutup kepalanya. Aku sudah lelah dengan segala keramaian sekolah ini, jadi berjalan cepat-cepat sampai ke rumah adalah wajar. Aku menerobos kerumunan orang-orang yang menghalangi jalanku untuk keluar dari kelas panas ini.
DUK! Rupanya aku menabrak seseorang dan kudengar ia mulai mengomel. Aku menabrak Vita, salah seorang penghuni kelasku. Kenapa harus orang ini yang kutabrak.Aku juga menyesali kenapa dia tidak jatuh terjerembab hingga tak sadarkan diri saja. Aku benci mendengar suaranya. Kerumunan orang-orang tadi juga memandangiku seolah aku adalah alien.
"Jalan hati-hati dong! Lihat nih bajuku basah!" katanya. Ternyata aku menabraknya saat sedang minum. Kulihat bajunya sedikit. Tapi salahnya sendiri kenapa minum di depanku. "Sorry," ujarku pelan. Aku tak mau memperpanjang urusan.
"Makanya buka dong jaketmu! Kalo lihat tuh ke depan, bukan ke bawah!" tangannya yang panjang membuka penutup kepala jaketku dengan paksa. Rambut Vita yang panjang dan kulitnya putih kini terlihat jelas di mataku. Tangan kirinya masih memegang sebotol air mineral. Dan yang paling jelas adalah wajahnya yang kesal padaku. Menurutku ini hanya masalah konyol yang tidak penting. Perjalanan keluar kelasku harus terhenti satu menit hanya karena noda air mineral? Aku menyesal minta maaf.
Aku juga benci pada pandangan menghinanya padaku. Tanpa basa-basi lagi aku lalu merebut botolnya dan menyiramkan isinya ke mukanya. Aku tersenyum puas. "Ah! Apa yang kau lakukan nenek sihir?!" teriaknya histeris. Apa katamu? Nenek sihir? Baiklah, aku takkan mengampunimu! Tanganku bersiap mencabut tiap helai rambutnya.
"Hey, cepat duduk! Kalian belum boleh pulang!" ujar seseorang yang tiba-tiba berada di antara kita berdua. Seketika itu aku sadar kalau aku hanya berkhayal sejak tadi. Vita masih berdiri dihadapanku dan bajunya pun sudah kering.
"Belum boleh pulang?" Vita mengalihkan sasarannya. Kali ini aku juga setuju dengan kata-kata Vita. "Masih belum! Kita belum selesai membahas rencana jalan-jalan kelas kita," katanya tegas. Dia adalah Ferro, ketua kelasku. Memang dia adalah ketua kelas yang rajin dan berdedikasi tinggi. Namun kebiasaannya menunda jadwal pulang sungguh menyebalkan. Apalagi ini cuma soal jalan-jalan yang pasti aku tidak sudi ikut. Oh come on, jalan-jalan? Inikan baru bulan keempat di semester satu?
Akhirnya aku pun harus menunda kepulanganku sambil mendengarkan orang-orang kelasku membahas pelesir mereka dengan emosi yang tertahan. Kalau kalian ingin jalan-jalan, pergi saja sendiri! Aku tidak akan ikut!
Aku sampai lupa pada wanita menyebalkan tadi. Dia menyebutku nenek sihir. Itu sudah jadi julukanku sejak pertama kali masuk sekolah dulu, dan sekarang julukan itu masih saja melekat padaku di bangku kelas XI SMA. Mungkin karena aku memang lebih suka menyendiri. Aku juga tidak suka tersenyum. Hm, sekarang aku sedikit mengerti kenapa tak ada yang mau berteman dengan penyihir sepertiku.
Dan aku juga tidak terlalu membutuhkan mereka. Terserah mereka mau bilang nenek sihir, atau apa, aku akan menjadi diriku yang ini. Aku juga tidak pernah sakit hati mendengar itu semua, ya karena mereka bukan orang yang penting dalam hidupku.
Rapat kelas selesai. Hari Minggu besok orang-orang itu berencana pergi ke pantai (aku suka menyebut teman sekelasku sebagai ‘orang-orang’) dan tentu saja aku tidak akan ikut. Aku tahu kalau mereka sudah menduga aku tidak akan berminat pada kegiatan seperti itu, tapi tetap saja aku harus duduk di sana selama setengah jam. Menyebalkan!
Sekolah sudah agak sepi. Tapi bukan berarti tak ada orang sama sekali. Masih banyak yang masih makan di kantin. Beberapa murid laki-laki masih nongkrong di tempay parkir, dan kulihat ada Ferro. Beberapa murid perempuan juga terlihat berkerumun di dekat gerbang sekolah. Guru-guru sudah lama pulang. Beginilah keadaan sekolah di jam pulang.
Kulihat penjual es krim masih setia berjualan di depan sekolah. Aku ingin beli. Tapi masih ada beberapa murid perempuan kelas satu yang mengantri. Tapi aku benar-benar ingin es krim, entah kenapa. Jadi kuputuskan ikut mengantri dengan mereka.
“Waduh, ada nenek sihir,” bisik salah satu diantara mereka. Telingaku memang terlalu tajam untuk mendengar suara bisik-bisik di keramaian seperti ini. Aku pura-pura tuli saja. “Ayo, cepet,” katanya lagi pada teman-temannya yang seperti terlihat panik. Tak lama kemudian mereka pun pergi dan aku mendapatkan es krim cokelatku yang lezat.
Sampai aku berjalan menjauh dari penjual es krim, lalu duduk di halte, sampai kemudian aku naik ke bus kota, aku tahu cewek-cewek masih memandangiku dan sedikit bergosip sambil menikmati es krim.
Aku kesal. Memangnya apa yang kuperbuat sampai aku diperlakukan seperti itu. Apalagi mereka murid kelas satu! Hey, aku kakak kelas kalian!
Pikiranku lalu menerawang ke peristiwa saat kelas satu dulu. Saat itu aku baru sekitar lima bulan masuk ke SMA. Dan aku juga sudah berdandan ala rocker emo yang membuatku terkesan misterius, sama seperti sekarang. Rambut hitam panjang dan agak bergelombang di bagian bawah, lalu dengan poni yang hampir menyamarkan mataku, juga jaket hitam. Seperti itulah aku. Nah waktu itu ada berita menghebohkan seluruh sekolah. Berita ini sempat masuk ke koran lokal segala karena SMA-ku yang lumayan terkenal. Waktu itu ada dua murid laki-laki kelas tiga yang kepergok membawa ganja di tasnya. Entah bagaimana bisa ketahuan, yang jelas mereka berdua akhirnya dikeluarkan dari sekolah. Dan sekolah tidak mau kecolongan lagi. Selama bertahun-tahun sekolah yakin tak ada muridnya yang berurusan dengan narkotika, namun peristiwa itu membuat SMA-ku ini ragu.
Mulailah dilakukan razia ke kelas-kelas. Dan yang paling menyakitkan, aku dicurigai! Padahal saat razia sudah terbukti aku tidak membawa barang yang aneh-aneh, tapi aku tetap dipanggil ke kantor BK untuk diinterogasi. Namun pihak sekolah akhirnya melepaskan aku.
Bisik-bisik yang kudengar, dari pendengaranku yang tajam, aku dicurigai karena penampilanku yang seperti orang mengisap ganja lalu pergi ke sekolah seperti biasa. Ada juga yang bilang kalau aku suka diam-diam menghisap rokok di belakang sekolah. Dan yang lebih meyakinkan, ada yang bilang penampilanku mirip dengan dua murid yang membawa ganja itu. Benar-benar payah orang yang menilai orang lain dari penampilannya saja. Mungkin sekumpulan cewek-cewek tadi masih mencurigaiku.
Aku sampai di rumah. Bukan rumah sih, tapi apartemen. Tapi karena tidak mewah, atau malah kumuh, maka sering disebut rumah susun. Bau masakan mengepul di dalam rumah. Rupanya hari ini Mama sedang bersemangat mencoba resep masakan baru. Baguslah. Setelah berbagai hal menyebalkan di sekolah, makan siang menjadi segalanya bagiku.
“Wah, sudah pulang rupanya,” kata Mama dari dapur. Aku tidak menjawab dan masuk ke kamar. “Bagaimana harimu?” tanya Mama lagi. Sekarang aku sudah di depan TV. “Biasa aja,”
“Nah, kalau begitu tebak apa menu hari ini?”
Apaan sih. Aku diam dan serius menonton TV. Terserah Mama mau masak apa. Mamaku memang ceria. Berbeda jauh denganku yang seperti tak punya emosi kadang-kadang, kalaupun ber-emosi, pasti marah-marah. Biarpun terkadang aku tidak terlalu peduli dengan pembicaraan Mama, ia juga tidak peduli rupanya.
“Spagheti!” ujar Mama sambil memegang sepiring spagheti yang masih beruap panas ke meja makan. Tanpa banyak bicara, karena memang tidak perlu, aku segera menuju meja makan. Kami berdua menikmati makan siang ini dengan senang, seperti biasa. Ya, kami memang tinggal berdua di apartemen murah ini sejak lima tahun lalu. Sebelumnya kami sering berpindah-pindah kontrakan.
Ini Mamaku. Seperti yang kubilang, ia selalu ceria apapun keadaannya. Mungkin seharusnya aku menirunya. Ia bekerja di sebuah salon terkemuka di kota ini. Dengan uang hasil jerih payahnya-lah aku hidup.
Kalau Ayah aku tidak tahu. Entah aku punya atau tidak. Harusnya sih punya. Mama tidak pernah beritahu ke mana Ayah pergi. Aku mengira kalau mereka bercerai, atau Ayah memilih tinggal dengan wanita lain. Bahkan aku curiga dia meninggal. Tapi semua kecurigaanku tak pernah terbukti dan aku hanya bertanya-tanya sampai sekarang.
“Enak kan?” tanya Mama, dengan semangat. “Enak.” jawabku jujur. “Nah kalau enak, senyum dong,” goda Mama lagi. Aku diam tidak peduli. “Kamu memang harus belajar tersenyum. Bagaimana kamu bisa punya teman kalau begini terus?” Aku mengunyah spagheti sambil pura-pura tidak dengar.
“Kau seperti Ayahmu, penyihir,” untuk pertama kalinya Mama menyebut ayah. Aku berhenti mengunyah dan menatap Mama dengan pandangan sebal sekaligus penasaran. “Penyihir?”
“Kalau sifatmu seperti itu terus, kamu seperti nenek sihir,”
“Nenek sihir?” emosiku mulai naik lagi.
“Seperti Ayahmu,” ujar Mama tenang, tak peduli aku mulai marah.
“Aku bukan penyihir!”
Dan aku pun masuk ke kamar sambil membanting pintu.


No comments:

Post a Comment

 
;