Saturday, January 19, 2013

LITTLE HOPE



Siang hari yang panas. Beberapa bulan ini masih musim kemarau, pohon-pohon meranggas, jalan berdebu, dan tanah menjadi gersang. Saat ini orang-orang pasti menunggu hujan turun, padahal mereka selalu mengutuk hujan yang turun setiap hari tanpa henti di kala musim hujan.
            Mungkin bagi sebagaian murid SMA laki-laki yang sedang asyik bermain bola itu, panas atau dingin, hujan atau angin, salju atau badai, itu bukan persoalan. Mereka bermain dengan senang dan bebas seperti anak kecil. Murid-murid laki-laki dari kelas tiga itu memilih menghabiskan hari-hari terakhir mereka di SMA  dengan mengadakan pertandingan sepakbola antar kelas di lapangan sekolah yang gersang itu. Tak ada pelajaran, tak ada lagi ujian, tak ada lagi tugas, mereka hanya menunggu pengumuman lulus beberapa minggu lagi.
            “GOOLL!!” pekik kegirangan salah satu pemain yang berhasil mencetak gol. Kesenangannya diikuti oleh rekan setimnya pula.  Wasit kemudian meniup peluitnya.Babak pertama selesai!” teriaknya. Kaoru tampak kelelahan hari ini. Ia adalah penjaga gawang yang baru saja kebobolan itu. Ia berjalan ke pinggir lapangan dan mengambil sebotol air minum, diikuti pula oleh rekan setimnya. “Kao, kok nggak bersemangat? Kita udah kemasukan tiga gol lho, jangan sampai kalah lawan mereka yah…kamu kan kiper terbaik di sekolah...kata Rin, salah seorang murid perempuan  yang menyempatkan diri menonton pertandingan hari ini. Pertanyaan Rin itu mewakili pertanyaan para murid perempuan lain yang rela menjadi suporter, khususnya menjadi supoter Kaoru.
            “Panas Rin...,” jawab Kaoru sekenanya. Ia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya susah konsentrasi, padahal ini belum pernah terjadi sebelumnya saat ia menghadapi pertandingan-pertandingan dengan sekolah lain. Dulu Kaoru dan timnya berhasil membawa pulang piala bergilir liga SMA untuk kedua kalinya. “Mungkin juga sekarang aku jarang latihan…,” jawab Kaoru lagi agar para fansnya yang rela panas-panas menonton pertandingan main-main ini tidak kecewa. “Semangat Kao! Semangat!” mereka tak hentinya bersorai di tepi lapangan.  
            “Oke!” kata Kaoru sambil melempar senyum dan beranjak dari tempat duduknya lalu kembali berdiri di depan gawang, para suporter itu pun semakin menggila memberikan dukungan. Pertandingan dilanjutkan. Mereka pun beraksi lagi di lapangan penuh debu yang beberapa kali membuat mata pedih itu.
            “Berisik sekali,” kata Hime. Ia memandang para penonton yang bersorai di  pertandingan sepak bola antar kelas itu dari jendela kelasnya di lantai dua. Hime memilih untuk  tidak bergabung dengan mereka, ia tidak peduli dengan pertandingan itu. Murid kelas tiga memang sudah tak ada kewajiban lagi di sekolah selain menunggu pengumuman lulus. Tapi menurutnya ia tak sempat bersenang-senang, masih perlu belajar untuk tes masuk perguruan tinggi yang sudah di depan mata.
            Sudah dua jam berlalu Hime baru menyelesaikan beberapa soal matematika. Kertas buramnya sudah penuh dengan coretan angka-angka tak beraturan. Sudah berulang kali ia bolak-balik buku matematikanya, namun tetap banyak yang tak bisa ia jawab. Alasan Hime untuk berkonsentrasi pada tes masuk perguruan tinggi bukan karena ia murid yang pintar, justru karena ia merasa sebagai murid yang payah khususnya pada pelajaran matematika, makanya ia berjuang mati-matian belajar seperti saat ini. Nilai sekolahnya yang biasa saja membuatnya cukup tidak pecaya diri untuk bisa masuk ke perguruan tinggi nanti.
            Sayangnya, para juara kelas yang sangat pintar berbagai pelajaran sekolah tidak berada di kelas. Hime mengira mereka bergabung dengan para penonton pertandingan sepakbola antar kelas tiga itu. Dan akhirnya Hime tidak bisa belajar dari mereka hari ini.
            Pertandingan sepakbola antar kelas tiga tadi telah usai. Ternyata tim kelas Kaoru mampu mengejar skor setelah tertinggal tiga angka. Para suporter  semakin bersemangat. Mereka terus bersorak sorai hingga ke kelas. Mereka begitu bangga karena timnya berhasil masuk final besok.  “Kenapa mereka malah pindah ke sini..?” gerutu Hime. Di rumah ia tidak bisa konsentrasi belajar karena selalu tergoda menonton TV, tapi di sekolah malah terganggu oleh orang-orang itu. “Aku butuh ketenangan. Aku mau ke perpustakaan saja...,” Hime merapikan buku dan membawanya keluar kelas.
            “Hime? Mau ke mana?” tanya Kaoru yang sedang dalam perjalanan menuju kelasnya. Badannya masih agak basah karena mandi keringat saat pertandingan tadi, nafasnya juga masih tersengal karena berlari saat naik tangga. “Aku mau ke perpus, di kelas ramai sih,” jawab Hime sambil terus berjalan tanpa mempedulikan Kaoru.
            “Mau ngapain di sana?” Kaoru malah mengikuti Hime. Ia lupa kalau ia sendiri ingin beristrirahat di kelas. Tapi Hime malas menjawab pertanyaan Kaoru. Ia terus berjalan meninggalkan Kaoru yang terheran-heran karena Hime pergi begitu saja.
            Kelas memang masih ramai. Beberapa kali ada guru yang memarahi mereka karena mengganggu murid kelas dua yang sedang belajar. Namun tetap saja mereka ramai lagi seperti sebelum ditegur. Mereka masih bergembira akan keberhasilan timnya masuk babak final, sebagian menyanyi bersama diiringi gitar, beberapa murid perempuan mengobrol, dan di tengah keramaian itu Kaoru berhasil tidur di pojok  kelas. Ia terlalu lelah akhir-akhir ini.
            Dalam tidurnya ternyata Kaoru masih teringat pada Hime. Ada apa dengannya? Kenapa dia selalu sendirian seperti itu? Sejak pertama kali aku sekelas dengannya saat kelas dua dulu, ia suka sekali sendirian, duduk sendiri, belajar sendiri, ke kantin sendiri, padahal ia baik pada semua orang, hanya saja sulit sekali memahami pikirannya..., pikir Kaoru.
            Dua tahun lalu, saat masih kelas dua, adalah awal dari kelas ini terbentuk. Saat itu Hime adalah gadis penyendiri yang selalu membaca buku di pojok kelas saat istirahat. Tiap kali ada yang mengajaknya ke kantin ia selalu menolak dan lebih suka seperti itu. “Aku suka di tepi jendela,...” begitu katanya pada salah seorang teman. Waktu berlalu dan semua teman-temannya sudah terbiasa dengan tingkah laku Hime itu. Mereka membiarkan Hime melakukan apa yang ia mau tanpa bertanya lagi.
            Tapi Kaoru terus bertanya. Kenapa Hime hidup seperti itu? Bukankah lebih menyenangkan kalau ia sekali-kali bermain dengan yang lain? Bukankah lebih menyenangkan kalau ia bisa bercerita tentang buku yang ia baca pada temannya? Bukankah lebih menyenangkan kalau sesekali ia bersama teman-temannya pergi menonton bioskop, atau pertandingan olahraga yang seru? Bahkan, apa ia tak mau sesekali melihat Kaoru bertanding dan mengangkat piala?
            Tiap kali bertemu Kaoru menyempatkan diri untuk menyapanya. Hime selalu membalas dan tersenyum, namun hanya sekilas, dan ia tak pernah benar-benar menatap Kaoru. Bahkan sejak awal Kaoru tergabung dalam tim sepak bola sekolah, ia ingin sekali melihat Hime ada di antara beberapa penonton di stadion, walaupun ada ribuan orang di sana dan tak mungkin melihatnya secara jelas di situ.
            “Aku tidak tahu apa ini. Hanya saja ia adalah manusia teraneh yang pernah kutemui, tatapan mata, cara bicaranya, dan senyumnya sedikit menyimpan misteri…,” kata Kaoru pada dirinya sendiri waktu itu.
            “Kaoru?” terdengar suara lembut. “Kaoru? Bangun…,” ujarnya lagi. Pelan-pelan Kaoru membuka mata, dan ia begitu terkejut saat tahu kelas sudah sepi, hanya beberapa orang saja yang entah melakukan apa di kelas. “Kenapa tidur di bangkuku?” tanya suara lembut itu lagi.  “Hime?!” Kaoru semakin terkejut lagi. Nyawanya baru saja terkumpul dan ia baru menyadari kalau di sebelahnya itu Hime. “Tadi kelasnya rame banget, makanya aku cari tempat di pojokan…, eh... aku nggak buka tasmu kok, cuma numpang tidur sebentar…” Kaoru panik.
            “Iya, iya, aku cuma mau ambil tas..,” jawab Hime sambil menahan tawa. “Sorry,” Kaoru lalu menyerahkan tas Hime yang diletakkan di kursi tempat ia duduk sekarang. “Aku pulang dulu ya,” ujar Hime setelah memasukkan beberapa buku ke tasnya. Ia lalu berdiri, dan berjalan meninggalkan Kaoru sebelum sempat ia membalas kata-katanya.
            “Hey, hey! Aku juga mau pulang!” teriak Kaoru, ia cepat-cepat berlari ke bangkunya, menyambar tasnya dan segera berjalan di samping Hime. Walau agak sedikit heran tapi Hime mencoba memaklumi kelakuan Kaoru yang terkadang menurutnya agak aneh.
            “Capek juga ya, naik turun tangga setiap hari,” kata Hime saat mereka berdua melewati tangga. Ia tidak tahu harus bicara apa pada Kaoru di sebelahnya. “Tapi ini kan menyehatkan!” ujar Kaoru dengan semangat. “Iya, mungkin tinggal tiga minggu lagi aku merasakan naik turun tangga ini..,” kata Hime.
            “Lho memangnya kamu mau ke mana?” tanya Kaoru dengan sedikit terkejut. “Nggak ke mana-mana, sebentar lagi kan kita sudah lulus,”
            “Oh iya. Aku lupa. Aku kira aku masih kelas dua, hehehehe..., waktu berjalan begitu cepat...,” Kaoru menggaruk kepalanya sambil tertawa.       
              Mereka pun melanjutkan perjalanannya menuju pintu gerbang sekolah. Hanya satu menit setelah dua tahun sekelas dan hanya saling sapa saja, akhirnya Kaoru punya kesempatan bicara dengan Hime seperti saat ini. Biasanya Hime selalu menghindarinya. Tapi kali ini sepertinya sedikit berbeda. Hime berjalan di sampingnya.
            “Wah sekolah sudah sepi begini, aku ketiduran berapa lama tadi ya?” tanya Kaoru pada dirinya sendiri. Halaman sekolah yang biasanya ramai oleh murid-murid yang menunggu dijemput kali ini hanya terlihat beberapa saja.
            “Kalau begitu aku pulang dulu ya.” Hime terus berjalan meninggalkan Kaoru. “Hey, hey!” teriak Kaoru lagi.
            “Ada apa?”
            “Ehh,…. Besok kelas kita masuk final lho… kamu harus dukung kelas kita juga!” ujar Kaoru yang terlihat sedikit bingung.
            “O ya? Semoga menang deh. Aku pulang dulu ya?” kata Hime dingin. Sepertinya ia tidak menaruh perhatian pada bidang olahraga. Ia menyukai ketenangan daripada sorak sorai orang-orang di tengah terik matahari.
            “Iya, iya, tapi Hime…,”
            “Ada apa lagi Kao?”
            “Nggak ada kok, hahaha..” Kaoru tertawa tanpa rasa bersalah.
            “Huh dasar..” Hime berbalik sambil tertawa, ia melambaikan tangan tanpa menghadap Kaoru, lalu berjalan menyusuri trotoar, menjauh dari gerbang sekolah, menjauh dari sosok Kaoru yang kini sudah mengendarai motornya di jalan raya yang ramai.
            Dua tahun sejak pertama kalinya Hime bertemu dengan Kaoru telah berlalu, dan tanpa sadar Hime mengagumi Kaoru sejak saat itu. Kaoru yang suka tertawa dan berlari di lorong sekolah, Kaoru yang sering datang terlambat tiap kali upacara hari Senin, dan Kaoru yang selalu dikelilingi oleh teman-temannya. Hime tidak pernah menyadari apa yang terjadi dengan dirinya, ia terlalu sering berjalan sendiri, ia menyukai kedamaian yang sepi daripada harus berkumpul dan tertawa bersama mereka. Tapi kenapa dengan Kaoru, untuk pertama kalinya Hime merasa ingin bersamanya, namun ia tak sanggup untuk menatapnya Kaoru tiap kali ia mengajaknya bicara. Ia hanya bisa pura-pura tidak peduli, cepat-cepat pergi, atau menghindar ketika bertemu Kaoru di jalan.
            Tanpa teman-teman sekelasnya tahu, sebenarnya Hime selalu datang saat pertandingan sepakbola antar SMA. Di tengah penonton yang ramai, Hime diam-diam selalu ada di sana walau hanya sebentar karena ia benci keramaian, ia selalu berharap Kaoru dan timnya akan menang. Selalu, tanpa pernah mereka tahu. Mereka hanya tahu bahwa Hime tak pernah peduli dengan orang lain.
            “Dan sekarang hanya tinggal tiga minggu dan apa ya mungkin tidak bertemu dia lagi setelah ini...” ujar Hime pelan. Ia masih berjalan sendirian di trotoar. Ia berhenti sejenak memandang langit siang yang penuh awan. “Aku berharap masih bisa bertemu dengannya suatu hari...” kata Hime.
            “Iya Hime, kita pasti bertemu lagi...” jawab Kaoru, di perjalanan pulangnya. 

(I've sent this short story to magazine, but this not published yet. So i publish it by myself here on my blog.) 
           

2 comments:

  1. Kisah yang manis... semoga Hime dan Kaoru segera bersama! :D
    Terus semangat menulis, ya! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. big thanks kak... :D jadi malu bgt cz blogku gak jelas gini.. hehe T.T

      Delete

 
;