Siang hari yang panas. Beberapa bulan ini masih musim kemarau, pohon-pohon
meranggas, jalan berdebu, dan tanah menjadi gersang. Saat ini orang-orang pasti
menunggu hujan turun, padahal mereka selalu mengutuk hujan yang turun setiap
hari tanpa henti di kala musim hujan.
Mungkin bagi sebagaian murid SMA laki-laki yang sedang asyik bermain bola itu, panas atau dingin, hujan atau angin, salju atau badai, itu bukan persoalan. Mereka bermain dengan senang dan bebas seperti
anak kecil. Murid-murid laki-laki dari kelas tiga itu memilih
menghabiskan hari-hari terakhir mereka di SMA
dengan mengadakan pertandingan sepakbola antar kelas di lapangan
sekolah yang gersang itu. Tak ada pelajaran, tak ada lagi ujian, tak ada lagi
tugas, mereka hanya menunggu pengumuman lulus beberapa minggu lagi.
“GOOLL!!” pekik kegirangan
salah satu pemain yang berhasil mencetak gol. Kesenangannya diikuti oleh rekan
setimnya pula. Wasit kemudian meniup peluitnya. “Babak pertama selesai!” teriaknya. Kaoru tampak kelelahan
hari ini. Ia adalah penjaga gawang yang baru saja
kebobolan itu. Ia berjalan ke pinggir lapangan dan mengambil sebotol air minum, diikuti pula oleh rekan setimnya. “Kao, kok nggak bersemangat? Kita udah kemasukan tiga gol lho, jangan sampai
kalah lawan mereka yah…kamu kan
kiper terbaik di sekolah...” kata Rin, salah seorang murid perempuan yang
menyempatkan diri menonton pertandingan hari ini. Pertanyaan Rin itu mewakili
pertanyaan para murid perempuan lain yang rela menjadi suporter, khususnya
menjadi supoter Kaoru.
“Panas Rin...,” jawab Kaoru
sekenanya. Ia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya susah konsentrasi, padahal
ini belum pernah terjadi sebelumnya saat ia menghadapi pertandingan-pertandingan
dengan sekolah lain. Dulu Kaoru dan timnya berhasil membawa pulang piala bergilir liga SMA
untuk kedua kalinya. “Mungkin juga sekarang aku jarang latihan…,” jawab Kaoru lagi agar
para fansnya yang rela panas-panas menonton pertandingan main-main ini tidak
kecewa. “Semangat Kao! Semangat!” mereka tak hentinya bersorai di tepi
lapangan.
“Oke!” kata Kaoru
sambil melempar senyum dan beranjak dari tempat duduknya lalu kembali berdiri di depan
gawang, para suporter itu pun semakin menggila memberikan dukungan. Pertandingan dilanjutkan.
Mereka pun beraksi lagi di lapangan penuh debu yang beberapa kali membuat mata
pedih itu.
“Berisik sekali,”
kata Hime. Ia memandang para penonton yang bersorai di pertandingan sepak bola antar kelas itu dari
jendela kelasnya di lantai dua. Hime memilih untuk tidak bergabung dengan mereka, ia tidak peduli dengan pertandingan itu.
Murid kelas tiga memang sudah tak ada kewajiban lagi di sekolah selain menunggu
pengumuman lulus. Tapi menurutnya ia
tak sempat bersenang-senang, masih perlu belajar untuk
tes masuk perguruan tinggi yang sudah di depan mata.
Sudah dua jam
berlalu Hime baru menyelesaikan beberapa soal matematika. Kertas buramnya sudah
penuh dengan coretan angka-angka tak beraturan. Sudah berulang kali ia
bolak-balik buku matematikanya, namun tetap banyak yang tak bisa ia jawab.
Alasan Hime untuk berkonsentrasi pada tes masuk perguruan tinggi bukan karena
ia murid yang pintar, justru karena ia merasa sebagai murid yang payah
khususnya pada pelajaran matematika, makanya ia berjuang mati-matian belajar
seperti saat
ini. Nilai sekolahnya yang biasa saja membuatnya cukup tidak pecaya diri untuk
bisa masuk ke perguruan tinggi nanti.
Sayangnya, para
juara kelas yang sangat pintar berbagai pelajaran sekolah tidak berada di
kelas. Hime mengira mereka bergabung dengan para penonton pertandingan
sepakbola antar kelas tiga itu. Dan akhirnya Hime tidak bisa belajar dari
mereka hari ini.
Pertandingan
sepakbola antar kelas tiga tadi telah usai. Ternyata tim
kelas Kaoru mampu mengejar skor setelah tertinggal tiga
angka. Para suporter semakin bersemangat. Mereka terus bersorak sorai hingga ke kelas.
Mereka begitu bangga karena timnya berhasil masuk final besok. “Kenapa mereka malah pindah ke sini..?” gerutu Hime. Di rumah ia
tidak bisa konsentrasi belajar karena selalu tergoda menonton TV, tapi di
sekolah malah terganggu oleh orang-orang itu. “Aku butuh ketenangan. Aku mau ke
perpustakaan saja...,” Hime merapikan buku dan membawanya keluar kelas.
“Hime? Mau ke
mana?” tanya Kaoru yang sedang dalam perjalanan menuju kelasnya. Badannya masih
agak basah karena mandi keringat saat pertandingan tadi, nafasnya juga masih
tersengal karena berlari saat naik tangga. “Aku mau ke perpus, di kelas ramai
sih,” jawab Hime sambil terus berjalan tanpa mempedulikan Kaoru.
“Mau ngapain di sana ?” Kaoru malah
mengikuti Hime. Ia lupa kalau ia sendiri ingin beristrirahat di kelas. Tapi
Hime malas menjawab pertanyaan Kaoru. Ia terus berjalan meninggalkan Kaoru yang
terheran-heran karena Hime pergi begitu saja.
Kelas memang masih
ramai. Beberapa kali ada guru yang memarahi mereka karena mengganggu murid
kelas dua yang sedang belajar. Namun tetap saja mereka ramai lagi seperti
sebelum ditegur. Mereka masih bergembira akan keberhasilan timnya masuk babak
final, sebagian menyanyi bersama diiringi gitar, beberapa murid perempuan
mengobrol, dan di tengah keramaian itu Kaoru berhasil tidur di pojok kelas. Ia terlalu lelah akhir-akhir ini.
Dalam tidurnya
ternyata Kaoru masih teringat pada Hime. Ada
apa dengannya? Kenapa dia selalu sendirian seperti itu? Sejak pertama kali aku
sekelas dengannya saat kelas dua dulu, ia suka sekali sendirian, duduk sendiri, belajar
sendiri, ke kantin sendiri, padahal ia baik pada semua orang, hanya saja sulit
sekali memahami pikirannya..., pikir Kaoru.
Dua tahun lalu,
saat masih kelas dua, adalah awal dari kelas ini terbentuk. Saat itu Hime
adalah gadis penyendiri yang selalu membaca buku di pojok kelas saat istirahat.
Tiap kali ada yang mengajaknya ke kantin ia selalu menolak dan lebih suka
seperti itu. “Aku suka di tepi jendela,...” begitu katanya pada salah seorang
teman. Waktu berlalu dan semua teman-temannya sudah terbiasa dengan tingkah
laku Hime itu. Mereka membiarkan Hime melakukan apa yang ia mau tanpa bertanya
lagi.
Tapi Kaoru terus
bertanya. Kenapa Hime hidup seperti itu? Bukankah lebih menyenangkan kalau ia
sekali-kali bermain dengan yang lain? Bukankah lebih menyenangkan kalau ia bisa
bercerita tentang buku yang ia baca pada temannya? Bukankah lebih menyenangkan
kalau sesekali ia bersama teman-temannya pergi menonton bioskop, atau
pertandingan olahraga yang seru? Bahkan,
apa ia tak mau sesekali melihat Kaoru bertanding dan
mengangkat piala?
Tiap kali bertemu
Kaoru menyempatkan diri untuk menyapanya. Hime selalu membalas dan tersenyum,
namun hanya sekilas, dan ia tak pernah benar-benar menatap Kaoru. Bahkan sejak
awal Kaoru tergabung dalam tim sepak bola sekolah, ia ingin sekali melihat Hime
ada di antara beberapa penonton di stadion, walaupun ada ribuan orang di sana dan tak mungkin
melihatnya secara jelas di situ.
“Aku tidak tahu apa ini.
Hanya saja ia adalah manusia teraneh yang pernah kutemui, tatapan mata, cara
bicaranya, dan senyumnya sedikit menyimpan misteri…,” kata Kaoru pada dirinya
sendiri waktu itu.
“Kaoru?” terdengar
suara lembut. “Kaoru? Bangun…,” ujarnya lagi. Pelan-pelan Kaoru membuka mata, dan ia begitu
terkejut saat tahu kelas sudah sepi, hanya beberapa orang saja yang entah
melakukan apa di kelas. “Kenapa tidur di bangkuku?” tanya suara lembut itu
lagi. “Hime?!” Kaoru semakin
terkejut lagi. Nyawanya baru saja terkumpul dan ia baru menyadari kalau di
sebelahnya itu Hime. “Tadi kelasnya rame banget, makanya aku cari tempat di
pojokan…, eh... aku nggak buka tasmu kok, cuma numpang tidur sebentar…” Kaoru panik.
“Iya, iya, aku cuma
mau ambil tas..,” jawab Hime sambil menahan tawa. “Sorry,” Kaoru lalu
menyerahkan tas Hime yang diletakkan di kursi tempat ia duduk sekarang. “Aku
pulang dulu ya,” ujar Hime setelah memasukkan beberapa buku ke tasnya. Ia lalu
berdiri, dan berjalan meninggalkan Kaoru sebelum sempat ia membalas
kata-katanya.
“Hey, hey! Aku juga
mau pulang!” teriak Kaoru, ia cepat-cepat berlari ke bangkunya, menyambar
tasnya dan segera berjalan di samping Hime. Walau agak sedikit heran tapi Hime
mencoba memaklumi kelakuan Kaoru yang terkadang menurutnya agak aneh.
“Capek juga ya, naik turun tangga
setiap hari,” kata Hime saat mereka berdua melewati tangga. Ia tidak tahu harus
bicara apa pada Kaoru di sebelahnya. “Tapi ini kan menyehatkan!” ujar Kaoru dengan
semangat. “Iya, mungkin tinggal tiga minggu lagi aku merasakan naik turun tangga ini..,” kata Hime.
“Lho memangnya kamu
mau ke mana?” tanya Kaoru dengan sedikit terkejut. “Nggak ke mana-mana, sebentar lagi kan
kita sudah lulus,”
“Oh iya. Aku lupa.
Aku kira aku masih kelas dua, hehehehe..., waktu berjalan begitu cepat...,” Kaoru menggaruk kepalanya sambil tertawa.
Mereka
pun melanjutkan perjalanannya menuju pintu gerbang sekolah. Hanya satu menit
setelah dua tahun sekelas dan hanya saling sapa saja, akhirnya Kaoru punya
kesempatan bicara dengan Hime seperti saat ini. Biasanya Hime selalu
menghindarinya. Tapi kali ini sepertinya sedikit berbeda. Hime berjalan di sampingnya.
“Wah sekolah sudah
sepi begini, aku ketiduran berapa lama tadi ya?” tanya Kaoru pada dirinya sendiri. Halaman sekolah
yang biasanya ramai oleh murid-murid yang menunggu dijemput kali ini hanya
terlihat beberapa saja.
“Kalau begitu aku
pulang dulu ya.” Hime terus berjalan meninggalkan Kaoru. “Hey, hey!” teriak
Kaoru lagi.
“Ada apa?”
“Ehh,…. Besok kelas kita
masuk final lho… kamu harus dukung kelas kita juga!” ujar Kaoru yang terlihat sedikit bingung.
“O ya? Semoga
menang deh. Aku pulang dulu ya?” kata Hime dingin. Sepertinya ia tidak menaruh perhatian pada bidang
olahraga. Ia menyukai ketenangan daripada sorak sorai orang-orang di tengah
terik matahari.
“Iya, iya, tapi
Hime…,”
“Ada apa lagi Kao?”
“Nggak ada kok,
hahaha..”
Kaoru tertawa tanpa rasa bersalah.
“Huh dasar..” Hime berbalik sambil
tertawa, ia melambaikan tangan tanpa
menghadap Kaoru, lalu berjalan menyusuri trotoar,
menjauh dari gerbang sekolah, menjauh dari sosok Kaoru yang kini sudah
mengendarai motornya di jalan raya yang ramai.
Dua tahun sejak
pertama kalinya Hime bertemu dengan Kaoru telah berlalu, dan tanpa sadar Hime
mengagumi Kaoru sejak saat itu. Kaoru yang suka tertawa dan berlari di lorong sekolah, Kaoru yang
sering datang terlambat tiap kali upacara hari Senin, dan Kaoru yang selalu
dikelilingi
oleh teman-temannya. Hime tidak pernah menyadari apa yang terjadi dengan dirinya, ia
terlalu sering berjalan sendiri, ia menyukai kedamaian yang sepi daripada harus
berkumpul dan tertawa bersama mereka. Tapi kenapa dengan Kaoru, untuk
pertama kalinya Hime merasa ingin bersamanya, namun ia tak sanggup
untuk menatapnya Kaoru tiap kali ia mengajaknya bicara. Ia hanya bisa pura-pura tidak peduli,
cepat-cepat pergi, atau menghindar ketika bertemu Kaoru di jalan.
Tanpa teman-teman sekelasnya tahu, sebenarnya Hime
selalu datang saat pertandingan sepakbola antar SMA. Di tengah penonton yang
ramai, Hime diam-diam selalu ada di sana walau hanya sebentar karena ia benci
keramaian, ia selalu berharap Kaoru dan timnya akan menang. Selalu, tanpa
pernah mereka tahu. Mereka hanya tahu bahwa Hime tak pernah peduli dengan orang
lain.
“Dan
sekarang hanya tinggal tiga minggu dan apa ya mungkin tidak bertemu dia lagi
setelah ini...” ujar Hime pelan. Ia masih berjalan sendirian di trotoar. Ia
berhenti sejenak memandang langit siang yang penuh awan. “Aku berharap masih
bisa bertemu dengannya suatu hari...” kata Hime.
“Iya
Hime, kita pasti bertemu lagi...” jawab Kaoru, di perjalanan pulangnya.
(I've sent this short story to magazine, but this not published yet. So i publish it by myself here on my blog.)

Kisah yang manis... semoga Hime dan Kaoru segera bersama! :D
ReplyDeleteTerus semangat menulis, ya! :D
big thanks kak... :D jadi malu bgt cz blogku gak jelas gini.. hehe T.T
Delete