Wednesday, September 14, 2011

REASONS WHY I DONT WANNA BE IN ORGANIZATION 
Kali ini di blogku yang geje dan sepi ini aku nggak mau posting cerita yang geje dulu. Sekarang aku mau curhat sedikit, tentang masalah yang susah diceritakan dengan mulut, apalagi didiskusikan dengan orang lain karena ujung-ujungnya aku juga yang disalahkan. Hehe. Dengan tulisan ini mudah-mudahan ada yang bisa ngerti. 
 Akhir-akhir ini, atau lebih tepatnya baru kali ini dalam hidupku aku merasa dikejar-kejar oleh sebuah ‘organisasi’. Bukan organisasi yang negatif atau yang aneh-aneh, pokoknya aku bukan sedang membahas kisah ‘dikejar-kejarnya’ aku, tapi hal yang paling mendasar dari berbagai masalahku ini. Sebelumnya aku tegaskan, TIDAK ada maksud jelek dariku untuk membicarakan, bahkan menyudutkan pihak manapun melalui tulisan ini. Aku cuma ingin jelaskan sesuatu yang susah dijelaskan itu. 
Oke, aku mulai ya. Kalau anda mengenalku secara baik, anda pasti tahu bagaimana aku. Kebanyakan orang nggak tahu tentang aku dan pasti gampang mikir yang jelek-jelek tentang aku. Wajar aja, karena secara alami aku memang manusia introvert, alias tertutup. Meski begitu awalnya aku nggak pernah anti dengan kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler yang pasti menuntutku mau nggak mau bertemu dengan orang-orang. 
Nah, aku sebenarnya adalah orang yang menyukai banyak hal, penuh rasa ingin tahu, juga punya mimpi dan cita-cita. Semasa SD aku ingin banget jadi musisi, makanya waktu SMP aku ikut ekskul musik dengan senang hati. 
Entah karena jenuh, malas, atau apa, ekskul musik itu hanya aku ikuti selama satu semester, sisanya bolos sampai dicoret jadi anggota. Padahal aku udah beli pianika yang harganya seratus ribu lebih, lalu ditinggal begitu aja, tergeletak sampai sekarang. Aku sadar kalau aku sudah buang-buang uang dengan sia-sia dan cuma nyusahin ortu, tapi di sisi lain aku udah nggak berminat untuk lanjut. Dengan penuuuh penyesalan aku berjanji nggak akan begitu lagi deh. 
Lalu aku SMA. Di SMA ekskulnya lebih banyak lagi. Berbeda dengan SMP, ekskul SMA memiliki struktur kepengurusan yang isinya murid-murid itu. Ini akan lebih kompleks masalahnya. 
Lalu ketertarikanku pada musik dan jurnalistik membuatku terdorong untuk melupakan kesalahan/kegagalan masa SMP itu dengan ikut ekskul jurnalistik, namanya BIAS (tidak perlu diperjelas kepanjangannya ya ) dan paduan suara (padsara). Kali ini aku berusaha agar nggak akan berhenti di tengah jalan kayak dulu. 
 Akhirnya ikutlah aku. Dan mulailah masalah itu muncul. Kegiatan BIAS dan padsara hampir selalu berbarengan. Jadi setelah mengerjakan mading atau rapat redaksi aku buru-buru ke ruang latihan paduan suara (dan terlambat, biasanya pak pelatihnya suka agak marah nih). Lama kelamaan kegiatan padsara semakin sering aja, apalagi SMAku punya event akbar dua tahun sekali dan pasti padsara tampil, makin gila latihannya. Hampir tiap hari pulang sore dan itu melelahkan! >.<” 
Dengan segala macam aktivitas yang menyita waktu dan tenaga, aku sampai melupakan satu hal yang teramat penting bagi pelajar, yaitu PELAJARAN. Seringkali aku baru ingat ada PR fisika saat memasuki pintu kelas. Guru-guru dengan tanpa ampun beri tugas juga ulangan bertubi-tubi. Aku ini baru masuk SMA tapi kok kayak gini sih..
 Alhasil jeblok lah nilai raport semester pertamaku di SMA. Aku rangking 26 dari 38 siswa, dan katanya nggak ada rangking 27. Itu masa-masa suramku sebagai pelajar dan benar-benar gloomy berhari-hari. Ini karena aku nggak bakat di pelajaran eksak, juga kehilangan waktu untuk belajar efektif di rumah (belajar di sekolah waktu itu nggak efektif banget karena nggak mudeng sama omongan gurunya). Apalagi nilai standar SMAku itu tinggi banget, dan sulit bagiku untuk mengejar ketertinggalan. 
 Aku nggak bisa handle tiga-tiganya, pelajaran, BIAS, atau Padsara. Lepas salah satu ekskul supaya bisa lebih fokus ke pelajaran! Begitu kupikir. Ya sudah, dengan penuh pertimbangan aku tinggalkan BIAS (waktu itu belum nyadar kalau harusnya yang dilepas padsaranya). Padahal sudah bayar 20 ribu untuk biaya diklat. Sejak itu senior nggak ada yang menyapa aku lagi. Ya.. ya.. maaf mbak-mbak semuanya. Ini demi masa depanku! 
Akhirnya, nilai-nilai mengalami peningkatan satu-dua tingkat saja (nggak ngaruh ternyata). Padsara juga masih terdaftar anggota waktu itu, tapi sering bolos. Seenggaknya masih tampil di acara perpisahan kelas XII. Saat kelas XI aku pikir nggak usah lah aku ikut padsara lagi, toh aku sering bolos (dan nggak suka sama senior ). Tapi gara-gara dipanggil paksa untuk diklat aku terdaftarlah jadi pengurus, tepatnya anggota subsie dekdok. Dengan berat hati aku coba jalani, walau dalam hati aku nggak betah ada di sini. 
 Nggak asik. Semua nggak asik, aku bener-bener merasa nggak betah. Kenapa ya? Sulit dijelaskan, tapi memang ada rasa kayak gitu. Mungkin aku nggak cocok sama anggota seangkatanku, aku nggak suka mereka. Aku juga jarang ikut latihan, apalagi aku nggak bisa baca partitur, hehe :p 
Galau banget deh. Aku lupa alasan pastinya waktu itu, pokoknya aku ingin keluar. Aku sudah nggak mau terikat organisasi lagi, harus terikat jadwal latihan, harus rapat ini-itu, ada rasa tidak bebas yang membelengguku. 
 Dengan penuh keberanian aku ungkapkan pengunduran diri dengan alasan sering nggak bisa datang latihan itu ke ketuanya yang temen sekelasku. Sebenarnya aku nggak boleh keluar kayaknya, pokoknya sejak itu aku nggak pernah datang latihan atau rapat, dan nggak berhubungan dengan anggota-anggotanya lagi. Aku menjauh. 
 Tapi rasa bersalah atas tindakan yang sangat-sangat nggak bertanggung jawab itu menghantui lho! Sampai terbawa mimpi. Sering banget aku mimpi didatangi ‘mereka’ dengan kemarahan, bahkan sampai aku lulus SMA. Sebenarnya lega lepas dari mereka, tapi di sisi lain ya begitulah. 
 Akhirnya aku renungkan itu semua dan kesimpulannya adalah: 
1. Aku adalah orang antisosial introvert egois yang nggak terlalu suka berteman dengan banyak orang. Aku memilih sedikit teman, tapi aku tahu mereka baik daripada banyak tapi nggak begitu akrab. Aku nggak bisa kerjasama dengan orang-orang yang seumur hidup ditakdirkan nggak cocok dengan aku. Seperti ada jurang pemisah super dalam dan lebar yang menyebabkan aku susah mendapatkan chemistry denga orang-orang itu. Mana bisa aku berorganisasi dengan yang begitu? 
2. Aku nggak pernah bisa mengerjakan beberapa hal sekaligus. Aku nggak bisa membagi pikiran, hati, dan waktu untuk berbagai kegiatan. Kalau dipaksa cuma bikin kacau dan akhirnya galau, ujung-ujungnya tekanan batin yang nggak bisa dijelaskan. Aku selalu berusaha memilih satu hal yang penting untuk dikerjakan dari beberapa hal yang ada (ini sifat alami orang golongan darah B). Bagaimana saya bisa bekerja dengan baik kalau begini? 
3. Aku mudah suka dengan banyak hal, suka mencoba dan penuh rasa ingin tahu, tapi MUDAH BOSAN. Hari ini suka, mungkin besok nggak. Hari ini berminat, mungkin besok nggak lagi untuk selama-lamanya. (Lagi-lagi ini karakter manusia golongan darah B). Mana bisa aku setia sama organisasi (apapun) kalau begini? 
4. Yang paling penting, AKU NGGAK MAU MENGECEWAKAN ORANG LAGI. Sudah cukup banyak uang yang aku hamburkan untuk kegiatan yang Cuma aku kerjakan sesaat dan tidak jelas, sudah banyak senior yang nggak suka sama aku gara-gara sikapku yang kayak gitu, sudah berapa teman aku kecewakan atas sikap nggak bertanggung jawaku yang keluar masuk organisasi tanpa permisi seenaknya aja. Aku nggak mau terjebak dalam dilema yang sama berulang kali. 
 Sekian. Mungkin tulisan ini agak gak jelas, atau apa terserah. Hanya berusaha mengungkapkan apa yang terjadi denganku aja, dan alasan-alasanku itu. Terakhir aku mau minta maaf sama mbak,mas, dan teman-teman yang pernah aku kecewakan gara-gara aku yang ‘megeli’ ini, maaf sedalam-dalamnya , buat mbak,mas, kakak-kakak sekalian yang ingin merekrut aku, maaf, cari orang lain aja yah. Sudah cukup itu semua, nggak perlu terjadi lagi. Thank you so much, hope you will understand. 

No comments:

Post a Comment

 
;